POLMAN - Ani (30), wanita yang mengalami pendarahan saat usia kehamilannya 3 bulan, harus merasakan sakit sekitar sepuluh jam di atas tandu untuk menuju rumah sakit.

Sebab, kampung tempat tinggalnya, Desa Ratte di Kecamatan Tubbi Taramanu (Tutar), Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, merupakan desa terisolir.

Dikutip dari kompas.com, Ani ditandu sejauh 32 kilometer ke desa yang memiliki akses jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat.

Puluhan warga desa menandunya menggunakan batang bambu dan sarung, menyusuri hutan lantaran jalan rusak parah sehingga tak bisa dilalui kendaraan roda empat.

Warga yang menandu Ani sejauh puluhan kilometer itu harus membawa bekal di perjalanan, karena harus menempuh perjalanan jauh nan melelahkan selama berjam-jam.

''Kami berangkat dari Desa Ratte jam 8 pagi, sampai di Sendana Majene setelah Magrib, kemudian cari kendaraan dan sampai di Rumah Sakit Polewali jam 9 malam,'' kata Asri suami dari Ani kepada Liputan6.com, Jumat (14/02/2020) malam.

Asri menambahkan, ia sangat bersyukur istrinya bisa tiba dengan selamat setelah berjuang hampir sepuluh jam lamanya untuk sampai di rumah sakit. Karena, ia sempat merasa khawatir akan kondisi istrinya yang mengalami pendarahan dan harus menahan sakit selama ditandu puluhan kilometer.

''Tadi saya bersama keluarga sangat khawatir dengan kondisinya, sebelum sampai ke sini (rumah sakit),'' ujar Asri.

Asri berharap, agar pihak pemerintah setempat, baik kabupaten atau pun provinsi memberikan perhatian dengan membenahi akses jalan yang rusak ke desa mereka yang terisolir. Karena ia tidak ingin kejadian yang dialami oleh istrinya tidak menimpa warga lainnya.

Sementara itu, Dasrul dari Aliansi Masyarakat Tutar yang berapa waktu lalu melakukan aksi unjuk rasa di DPRD Sulbar mengatakan, jalan poros Mapilli-Piriang harus segera menjadi perhatian pemerintah, karena peristiwa seperti ini sudah sangat sering terjadi dan hal itu tidak harus terjadi lagi.

''Jika pihak Pemprov dan khususnya Pemkab Polman masih bertele-tele dalam hal memperhatikan jalan poros Tutar maka Aliansi Masyarakat Tutar akan kembali melalukan aksi besar-besaran, hal yang tidak diinginkan mungkin saja bisa terjadi jika mereka melakukan aksi. Kami sudah bosan dengan janji-janji, 2020 harus sudah dianggarkan,'' tegas Dasrul.***