JAKARTA - Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Bojonegoro IS dilaporkan istrinya, TP (52) ke Polda Jawa Timur (Jatim), Kamis (11/4/2019), karena diduga berselingkuh dengan Kepala Dinas Sosial (Kadissos) Kota Pasuruan, NW.

Dikutip dari tribunmadura.com, perselingkuhan dua pejabat itu terungkap setelah TP mendapati bukti rekaman sejumlah video adegan ranjang hot pada ponsel milik suaminya.

Saat ini, kasus dugaan perselingkuhan yang melibatkan dua kepala dinas itu sudah tahap penyidikan Subdit IV Renakta (Remaja, Anak dan Wanita) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera menjelaskan, proses penyidikan kasus dugaan pejabat selingkuh ini berdasarkan laporan resmi dari istri IS.

Pihaknya juga telah mengamankan barang bukti berupa video adegan ranjang perselingkuhan yang dilakukan oleh terlapor.

''Ada empat video perselingkuhan dari yang bersangkutan (IS dan NW) sebagai barang bukti penyidikan kasus tersebut,'' ungkapnya, di Mapolda Jatim, Kamis (11/4/2019).

Menurut Frans Barung Mangera, pihaknya memastikan akan memproses kasus perselingkuhan ini sesuai hukum.Adapun pasal yang disangkakan yaitu tentang perzinaan dan kekerasan psikis dalam rumah tangga Pasal 284 KUHP dan atau Pasal 45 UU Nomor 23 tahun 2004 mengenai penghapusan dalam rumah tangga.

''Pastinya kami akan memanggil saksi dari kedua belah pihak untuk melengkapi berkas permeriksaan kasus perselingkuhan ini,'' tegasnya.

Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Festo Ari Permana membenarkan, bahwa pihaknya saat ini menangani kasus perselingkuhan yang dilakukan Kepala Dinas Perhubungan Bojonegoro dengan Kepala Dinas Sosial Kota Pasuruan.

Penyidikan yang dilakukan saat ini merujuk pada pembuktian video syur pelaku perselingkuhan tersebut.

''Pastinya nanti ada pemanggilan saksi-saksi lain yang diperlukan untuk kepentingan penyidikan, jika memungkinkan Sabtu pekan kita panggil yang bersangkutan,'' tandasnya.

Ditanya, apakah kedua pejabat pelaku perselingkuhan akan ditahan? AKBP Festo Ari Permana mengatakan, bahwa penahanan terhadap kedua terlapor tentu akan merujuk pada barang bukti dan keterangan saksi-saksi.

Bila berdasarkan hasil gelar perkara, mereka dinyatakan terbukti melakukan kejahatan perzinaan dan kekerasan psikis dalam rumah tagga, maka bisa dilakukan penahanan.

''Keduanya (IS dan NW) berpotensi tersangka jika terbukti melakukan perzinaan sesuai pasal yang disangkakan,'' tegasnya.***