JAKARTA, GORIAU.COM - Lima mahasiswa dari dua universitas di Riau menggelar aksi jahit mulut di halaman Gedung KPK, Jakarta.

Selain menjahit mulutnya, mereka juga menggelar spanduk berukuran besar yang bertuliskan ''Gerakan rakyat Kampar, usut tuntas korupsi Bupati Kampar Jefri Noer''. Spanduk tersebut juga digunakan untuk menutupi tubuhnya untuk berbaring di lantai.

Koordinator aksi Aprianto mengatakan, aksi jahit mulut yang dilakukannya merupakan puncak dari kekesalannya terhadap hukum yang berlaku di Riau. Karena, dia bersama teman-temannya telah menuntut upaya hukum terhadap Jefri yang diduga melakukan korupsi tetapi tidak ada hasil dari pihak penegak hukum.

"Sehingga kita bungkam dengan melakukan aksi jahit mulut," ujar Aprianto di Gedung KPK, Jalan Rasuna Said, Jakarta, Jumat (31 Oktober 2014.

Awalnya, kata dia, pihaknya akan melakukan aksi longmarch dari Kampar ke Jakarta. Namun warga Kampar tidak menghendakinya sehingga warga mengumpulkan dana untuk naik bus.

Kedatangannya ke KPK merupakan upaya untuk mendapatkan keadilan karena selama ini Bupati Kampar Jefri Noer telah melakukan dugaan korupsi hingga mencapai Rp1,4 triliun.

Di antara dugaan korupsi yang dilakukan Jefri Noer adalah:

Program Penyuluhan Perikanan, Pertanian, Pertanakan dan Swadaya (P4S) dengan nilai mencapai Rp70 miliar. Jefri Noer diduga juga melakukan korupsi baju koko yang nilainya mencapai Rp4 miliar.

"Selain itu, Jefri Noer juga melakukan dugaan biaya jalan-jalan ke Eropa yang nilainya mencapai Rp2 miliar," jelasnya.

Terkait sampai kapan akan melakukan aksi jahit mulut, Aprianto menegaskan, jika tidak ditanggapi dan bertemu dengan Ketua KPK Abraham Samad maka pihaknya siap menunggu. Bila perlu pihaknya siap menjadi mayat jika perjuangannya tanpa hasil.

"Pantang pulang sebelum berhasil. Lebih terhormat pulang jadi mayat daripada pulang tidak membawa apa-apa," tegasnya.

Kepala Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha mengatakan, KPK sebagai lembaga publik antikorupsi selalu terbuka untuk menerima aspirasi masyarakat, baik dalam bentuk pengaduan maupun kritik dan saran.

Saat ditanya mahasiswa akan menginap jika tidak bertemu Ketua KPK Abraham Samad, Priharsa menuturkan, sampai saat ini pihaknya belum ada perwakilan yang nyampaikan dugaan korupsi Bupati Kampar ke Humas KPK. ***