PEKANBARU, GORIAU.COM - Sebuah peristiwa penganiayaan terhadap warga sipil terjadi di Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Penyebab kasus ini pun ternyata sangat sepele, yakni hanya karena persoalan rebutan lahan seluas 1 hektar.

Alih-alih bermusyawarah untuk menyelesaikan masalah, Nurhasmi (36), seorang petani di Desa Pulau Birandang Kecamatan Kampar Timur justru dianiaya oleh istri Bupati setempat. Mirisnya lagi, orang-orang suruhan istri Bupati Kampar juga mengeroyok korban di lokasi kejadian.

Kenapa kasus penganiayaan tersebut bisa terjadi dan apa masalah yang diributkan oleh kedua belah pihak? Berikut ini merdeka.com mengungkap kelima faktanya:

1. Diserang gara-gara rebutan lahan

Nasib apes harus dialami Nurhasmi (36), petani yang tinggal di Desa Pulau Birandang Kecamatan Kampar Timur. Betapa tidak, niatnya untuk menyelesaikan masalah sengketa lahan dengan istri Bupati Kampar justru berbuah petaka.

Nurhasmi, mengalami luka-luka lebam di bagian tubuhnya karena diduga dianiaya oleh Eva Yuliana istri Bupati Kampar Jefry Noer. Sang suami Jamal bercerita, istrinya diserang oleh orang suruhan diduga Bupati Kampar Jefry Noer dan istrinya, Sabtu (31/5) pukul 17.00 WIB.

Tak lama kemudian, tiga orang datang ke lahan di Dusun V Pematang Kulim. Setelah marah-marah terhadap korban, seketika Eva melakukan penyerangan.

2. Dikeroyok, dicakar dan dijambak

Aksi penyerangan terhadap warga sipil yang tinggal di Desa Pulau Birandang Kecamatan Kampar Timur tak hanya dilakukan istri Bupati Kampar seorang diri. Namun, menurut Jamal suami korban, rambut istrinya juga ditarik alias dijambak.

Kurang puas melihat hal itu, penganiayaan terhadap Nurhasmi itu kemudian diikuti oleh dua pria yang lain. Jamal bercerita, istrinya juga dikeroyok ajudan dan seorang supir truk bertubuh kekar.

''Istri saya kena cakar. Perutnya dipukul. Yang melakukan tiga orang,'' ujar Jamal.

3. Kepalanya dipukul

Aksi sadis yang dilakukan orang-orang suruhan istri Bupati Kampar ternyata masih berlanjut. Alih-alih berhenti untuk berdamai, Eva Yuliana istri Bupati Kampar Jefry Noer masih menganiaya korban.

''Very, ajudannya mengeroyok saya, kepala saya dipukul, lalu supir truk ikut-ikutan juga, jadi saya dikeroyok tiga orang, karena ibu itu (Eva Yuliana) tak berhenti memukul,'' ketus Nurhasmi.

Kejadian tersebut memang memiliki dua versi. Jika dari cerita korban yang memulai permasalahan adalah Eva Yuliana, lain pula versi Bupati Kampar dan istrinya. Saling tuding pun tak terelakkan lagi. Kubu Eva menuding, Nurhasmi lah yang memulai permasalahan.

4. Lapor ke polisi

Lantaran merasa jiwanya terancam, pasca penganiayaan Nurhasmi pun langsung melapor ke polisi. Saat melapor, Nurhasmi ditemani suaminya Jamal (39). Keduanya memilih melaporkan kasus itu ke Polda Riau.

Jamal yang didampingi sejumlah keluarganya meminta kepada pihak kepolisian agar menegakkan hukum seadil-adilnya. ''Saya berharap polisi adil kepada rakyat, laporan saya di Polres Kampar agar segera ditindaklanjuti,'' harap Jamal.

Bak gayung bersambut, Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo saat dikonfirmasi merdeka.com juga mengatakan telah menerima laporan Jamal.

5. Korban minta perlindungan

Jamal, yang tak lain adalah suami dari Nurhasmi memutuskan melaporkan peristiwa penganiayaan ini ke polisi. Harapan dia, polisi bisa memberikan perlindungan karena dia khawatir bisa mendapat ancaman.

''Tujuan saya melapor ke Polda Riau, adalah untuk meminta perlindungan hukum. Saya khawatir terjadi sesuatu pada saya, anak dan istri saya yang saat ini sedang dirawat di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru,'' kata Jamal.

Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo berkata telah menerima laporan Jamal. Sebagai pengayom Masyarakat, Guntur memastikan selalu melindungi rakyat, apalagi sebagai korban. ***