NEW DELHI Salah seorang guru besar populer di India, Profesor Rita Jitendra, meninggal dunia ketika menjadi bintang tamu pada sebuah stasiun televisi, Senin (10/9/2018).

Dikutip dari TribunJatim.com yang melansir Nakita.ID, Rita pernah berkata ia ingin meninggal dalam keadaan sedang bekerja.

Persis seperti keinginannya, ia menghembuskan nafas terakhir ketika bekerja, saat menjadi bintang tamu di acara "Good Morning J&K" di Kota Srinagar, India. Ia meninggal dunia di usia 86 tahun.

Pembawa acara Zahid Muktar pun terkejut melihat Rita terbaring di sofa hingga mulai terengah-engah.

Ads
''Dia memberi tahu kami sesuatu yang menarik dalam hidupnya, tampak benar-benar normal,'' ujarnya.

''Tapi tiba-tiba di berhenti berbicara dan mulai cegukan.''

Saat tiba di rumah sakit, sang profesor pun dinyatakan meninggal. ''Ketika profesor pingsan, kami pikir dia hanya akting,'' ujarnya.

''(Siaran) wawancara dipotong dan beralih ke (tayangan) dokumenter saat ia dibawa ke rumah sakit.''

''Kami butuh beberapa menit untuk menyadari ada yang salah di sini, kami mencoba menyelamatkannya. Profesor dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan telah meninggal,'' kata Zahit.

Sekretaris Rita, Hazifa Muzaffar, yang juga mantan sekretaris komite negara, mengatakan bahwa sebelum Rita tiba di studio, sang profesor mengungkapkan dirinya ingin meninggal seperti mantan Presiden India, APJ Abdul Kalam.

''Dia mengatakan bahwa Kalam sudah mati ketika dia sedang bekerja. Bahwa itu akan menjadi jalannya menuju kesibukan berharga. Dan dia menghembuskan napas terakhirnya di lokasi syuting,'' ujarnya.

Penyebab Meninggal

Dr Saleem Tak, yang menangani kasus Rita di rumah sakit setempat, menduga sang profesor mengalami gagal jantung.

''Gagal jantung dapat terjadi karena aritmia. Kami telah menyelesaikan prosedur hukum dan menyerahkan jasad kepada keluarga,'' ujarnya.

Produser acara, Tanveer Mir, mengatakan kejadian ini sangat mengejutkan mengingat insiden semacam ini merupakan yang pertama dalam sejarah tayangan (televisi).

''Dengan tanggung jawab profesional, kami harus melanjutkan program ini. Siaran tidak terganggu tetapi kami sedih dengan ini dan berdoa untuk jiwanya,'' tutupnya.***