KARANGANYAR Persekusi terhadap pendakwah kembali terjadi. Jumat (14/9/2018) malam, sekelompok massa melakukan persekusi terhadap Gus Nur, saat berdakwah di Masjid Al Huda Talpitu Karangpandan, Karangayar, Jawa Tengah.

Kepada Panjimas, Gus Nur menceritakan kronologis dari kejadian tersebut.

''Pagi ada oknum Banser datang ke Polsek Karangpandan meminta agar pengajian dibatalkan atau diganti pembicaranya. Namun, oleh panitia permintaan itu tidak dituruti dan akhirnya kajian tetap berjalan,'' ujarnya Sabtu (15/9).

Acarapun akhirnya berjalan lancar. Masjid penuh, bahkan peserta kajian juga membludak sampai ke luar masjid. Kapolsek Karangpandan AKP Ibariyadi beserta jajarannya juga ikut dalam pengajian tersebut.

Ads
Namun di tengah-tengah acara terdengar keriuhan di luar masjid. Ada massa yang datang ke masjid sambil berteriak-teriak bahkan ada yang melemparkan batu, hingga peserta pengajian ada yang terluka pelipisnya.

Tak ingin terjadi kerusuhan dalam masjid, Kapolsek Karangpandan AKP Ibrariyadi lantas mengevakuasi Gus Nur ke Kantor Polres Karangnyar.

''Di Polres saya tidak diapa-apakan tidak diperiksa, di BAP atau yang lainnya,'' tambah pemilik nama asli Sugi Nur Raharja.

Terkait tuduhan bahwa dalam kajian menyampaikan tema politik, Gus Nur membantahnya. ''Saya menyampaikan hanya masalah aqidah karena banyak masyarakat disana yang masih melakukan ibadah ritual yang masih memiliki unsur kesyirikan. Saya sama sekali tidak membahas politik,'' tegasnya.

Gus Nur menegaskan, dirinya hanya keras dan radikal kepada orang munafik dan penjilat.

Namun terkait tuduhan radikal juga kurang pas, karena Ustaz Abdul Somad, Adi Hidayat, Felix Siaw yang dakhwanya santun dan lembut, juga dituduh radikal.

Gus Nur menilai semua tokoh atau ulama yang dipersekusi karena mereka selama ini tidak sejalan dengan rezim.

''Coba kalau saya pro sama rezim maka saya tidak mungkin dicap radikal. Ulama yang dekat penguasa tidak mungkin dicap radikal,'' pungkasnya.

Penjelasan Kapolsek

Dikutip dari detik.com, Kapolsek Karangpandan, AKP Ibariyadi, mengatakan pengajian Gus Nur berjalan sampai selesai. Dimulai usai shalat Isya, pengajian rampung sekitar pukul 21.30 WIB.

Dia membenarkan memang ada penolakan dari sekelompok orang di tengah pengajian. Namun kedatangan sekelompok orang itu tidak membuat pengajian berhenti.

''Hanya teriak-teriak saja di luar. Tidak sampai dibubarkan. Saya langsung berada di lokasi kejadian,'' katanya dihubungi detikcom melalui telepon, Sabtu (15/9/2018).

Sedikitnya ada 30 aparat dari kepolisian dan TNI yang mengamankan acara tersebut. Sedangkan peserta pengajian, kata Ibariyadi, diikuti lebih dari 300 orang.

''Tidak ada dibubarkan, memang pengajiannya sudah selesai, lalu kami antar Gus Nur pulang,'' ujarnya.

Kapolsek juga mengatakan tidak ada aksi lempar batu. Meskipun, dari panitia menyebut ada satu orang yang kepalanya terluka terkena lemparan batu.

Panitia pengajian, Suroto alias Cak Roto, mengatakan materi ceramah sama sekali tidak menyangkut politik. Inti dari ceramah ialah mengajak masyarakat berhijrah dan menjauhi kemusyrikan.

Menurutnya, sekelompok orang yang datang cukup mengganggu karena berteriak-teriak saat pengajian berlangsung. Mereka meneriakkan yel-yel seperti 'NKRI Harga Mati'.

''Sebenarnya aman saja, tidak ada evakuasi. Tapi karena khawatir terjadi apa-apa, polisi mengantarkan Gus Nur pas pulangnya,'' pungkasnya.***