JAKARTA - Gelombang tsunami menerjang Pandeglang, Serang dan Lampung, Sabtu (22/12/2018) malam. Data sementara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban tewas sudah mencapai 281 orang.

Dikutip dari liputan6.com, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, erupsi gunung anak krakatau yang menyebabkan gelombang tsunami pada 22 Desember 2018 bukan yang terbesar. Periode Oktober sampai November sudah terjadi erupasi yang lebih besar.

Dalam akun twitter resminya, dia memberi informasi terkait pantauan gunung anak krakatau yang disisipkan gambar. Foto tersebut diambil dari pesawat Grand Caravan Susi Air pada 23 Desember 2018.

''Erupsi kemarin bukan yang terbesar. Periode Oktober-November 2018 terjadi erupsi lebih besar. Status Waspada (level 2),'' tulis Sutopo yang dikutip Liputan6.com, Senin (24/12/2018).

Sutopo menjelaskan, aktivitas Gunung Anak Krakatau dalam 3 bulan terakhir terjadi setiap hari. Pertumbuhannya pun terus meningkat setiap tahun.

''Hampir setiap hari Gunung Anak Krakatau meletus. Status tetap Waspada. Radius berbahaya 2 km dari puncak kawah,'' tulisnya.

Tak hanya itu, pertumbuhan Gunung Anak Krakatau pun terus meningkat. Kata Sutopo, pertumbuhan tersebut terjadi setiap tahunnya.

''Gunung Anak Krakatau masih dalam tahap pertumbuhan. Tubuhnya tambah tinggi 4-6 meter per tahun,'' tulisnya lagi.***