PONTIANAK - Dua bocah kembar berusia 13 tahun, sebut saja A dan B, yang masih duduk di kelas VI SD di Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, menjadi korban pencabulan yang dilakukan pamannya. Salah seorang diantaranya, yakni A, hamil dan melahirkan bayi melalui operasi caesar.

Dikutip dari tribunnews.com, Senin (28/1), A meraung-raung kesakitan saat proses melahirkan bayinya di rumah sakit. Insiden memilukan itu kemudian menjadi berita viral dan mengundang keprihatinan banyak pihak.

Seperti dilaporkan Tribun Pontianak, Direktur Yayasan Nanda Dian Nusantara Kalbar Devi Tiomana mengungkapkan, bahwa korban melahirkan di salah satu rumah sakit di Kota Pontianak.

Korban telah melahirkan bayi laki-laki yang sehat, dengan berat 2,6 kg.

Devi menjelaskan, kasus ini pertama kali terkuak saat A ditanyai oleh guru kelasnya yang merasa curiga melihat perut dari sang siswi semakin hari semakin besar. Sang guru kemudia melaporkan ke pihak kepolisian.

Mendapat laporan itu, kata Devi, pihak kepolisian langsung melakukan penyelidikan, menanyai korban serta dilakukan tes kehamilan. Dari tes kehamilan, dipastikan bahwa A hamil.

''Saat dicek ke Puskesmas, ternyata benar, anak ini sedang hamil,'' kata Devi.

Ia mengungkapkan, kedua korban tinggal bersama ibu dan pamannya yang berinisial SD (23) serta keluarga yang lain di rumah warisan keluarga sang ayah. Ayah korban saat ini tidak diketahui keberadaannya.

''Ibunya juga tinggal di rumah itu. Mereka ini tinggal di rumah warisan dari pihak ayah. Lalu ada keluarga mereka yang lain juga. Jadi pelaku dan korban ini memang satu rumah,'' ungkapnya.

Devi mengatakan, dia menemani korban di rumah sakit, saat korban hendak melahirkan.

''Kasihan si anak ini, kemarin dia di rumah sakit itu meraung-meraung kesakitan. Karena anak usia 13 tahun kan masih belum sempurna organ reproduksinya,'' ujarnya.

Devi bersyukur karena korban telah melahirkan dengan selamat.

Korban bercerita kepada Devi, dia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.

''Dia ini kemarin tidak paham kalau dirinya hamil. Tahunya perutnya isemakin hari semakin besar. Dia khawatir dengan perutnya yang besar bukan karena dia tahu hamil, tapi takut ada penyakit,'' ucap Devi.

.Saat ini, menurut Devi, korban masih dalam tahap pemulihan secara fisik dan mental.

Korban pun bercerita kepadanya bahwa ingin tetap melanjutkan sekolahnya. ''Dia bilang, masih pengen melanjutkan sekolahnya,'' katanya.

Devi menambahkan, kelahiran jabang bayi belum puncak penderitaan korban. Masalah lebih besar akan diderita korban setelah ini.Oleh sebab itu, pihaknya akan terus melakukan pendampingan terhadap korban agar tetap bisa lanjutkan pendidikannya.***