WASHINGTON DC - DPR Amerika Serikat (AS) yang dikuasai Partai Demokrat resmi memakzulkan AS Donald Trump, pada Rabu sore waktu AS (Kamis pagi WIB).

Dikutip dari liputan6.com, laporan AFP, Kamis (19/12/2019), voting pemakzulan dimenangkan pro-pemakzulan dengan perolehan suara 230-197.

Dengan ini, Trump resmi menjadi presiden ketiga AS yang dimakzulkan. Dua lainnya adalah Andrew Johnson dan Bill Clinton.

Sebagai catatan, pemakzulan tidak berarti Trump lengser sebagai presiden. Pemakzulan membawa dakwaan kepada pemerintah atas dugaan kejahatan. Proses berikutnya berada di Senat.

Namun, Senat dikuasai senator partai penguasa sehingga proses pemakzulan berpotensi menjadi percuma.

Pemakzulan ini tidak menggunakan alasan ''intervensi Rusia'' yang selama bertahun-tahun digaungkan Partai Demokrat. Kasus yang mereka sodorkan justru terkait perbincangan Presiden Trump dan Presiden Ukraina pada Juli lalu terkait bantuan militer.

Ada dua pasal yang digunakan Partai Demokrat untuk pemakzulan ini adalah penyalahgunaan kekuasaan dan obstruksi hukum.

Pada pasal pertama, Presiden Trump dituduh menekan Ukraina untuk menginvestigasi kasus korupsi yang menyangkut lawan politiknya, Joe Biden. Trump pun diduga menahan bantuan militer ke Ukraina, kecuali investigasi dilakukan.

Pada pasal kedua, Trump dianggap menghalangi proses hukum yang dilakukan DPR untuk menginvestigas kasus Ukraina tersebut.Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky membantah ada tekanan.

Donald Trump sudah merespons pemakzulan ini via Twitter dan mengecam tindakan Partai Demokrat.

''Ini merupakan serangan kepada Amerika, dan serangan kepada Partai Republik!'' ujar Trump.***