BADUNG - Seorang siswi SMA berinisial IAM (16) di Badung, Bali, menjadi korban pencabulan yang dilakukan WS (43), kepala salah satu SD di Badung.

Dikutip dari merdeka.com, aparat Polres Badung telah menangkap dan menahan WS, untuk mempertanggungjawabkan tindakan bejatnya.

''Setelah diperiksa dan sesuai alat bukti yang cukup, kami sudah tetapkannya menjadi tersangka hari ini dan langsung kami terbitkan surat penahanan,'' kata Kasubag Humas Polres Badung Iptu Ketut Oka Bawa, Senin (24/2).

Oka menjelaskan, pencabulan itu terjadi di salah satu SD di Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, atau tempat korban sekolah. Aksi bejat tersangka, telah dilakukan sejak Juli tahun 2016 saat korban masih duduk di bangku kelas VI SD hingga 11 Januari tahun 2020 atau saat korban duduk di kelas I SMA. Tersangka telah melakukan pencabulan berulang kali terhadap korban.

Terungkapnya kasus pencabulan ini berawal ketika ayah korban didatangi oleh salah satu guru pembina Pramuka di sekolah korban dan memberitahukan korban sempat bercerita bahwa telah disetubuhi oleh tersangka.

Selanjutnya, ayah korban menanyakan kebenaran informasi tersebut kepada korban, dan korban mengakuinya.

Korban mengaku dicabuli sejak masih kelas VI SD, sekitar bulan Juli 2016 dengan dibujuk oleh tersangka agar mau berhubungan badan dengannya. Korban diajak berhubungan badan oleh tersangka pertama kali dalam ruang kepala sekolah atau ruang kerja WS.

Setelah itu, tersangka kembali mengajak korban untuk berhubungan badan berulang kali, di antaranya bertempat di ruangan tempat les tersangka, di kamar rumah tersangka di wilayah Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung dan tempat lainnya.

''Untuk TKP, dalam ruang kepala sekolah, ruangan tempat les tersangka dan di dalam kamar di rumah tersangka serta beberapa penginapan di wilayah Kuta Utara,'' jelas Oka.

Pihak keluarga korban kemudian melaporkannya ke Polres Badung. Selanjutnya, pada Sabtu (22/2), pihak kepolisian langsung mendatangi rumah tersangka yang berada di kawasan Dalung, Kabupaten Badung, Bali.

''Dari hasil interogasi dikuatkan dengan alat bukti lainnya, tersangka mengakui perbuatannya. Tersangka mengakui perbuatannya dilakukan sejak sekitar bulan Juli 2016 (hingga) sekitar bulan Januari 2020 terhadap korban dengan jumlah (pencabulan) yang tidak diingat lagi oleh tersangka,'' ujarnya.

Oka menyebutkan, tersangka melakukan pencabulan kepada korban motifnya karena menyukai korban dan menjadikan korban sebagai pacar.

''Modusnya, tersangka merayu korban dan mengajak korban untuk berhubungan badan beberapa kali di berbagai TKP,'' ujarnya.

Tersangka akan dijerat dengan Pasal 81 Jo Pasal 76D Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman penjara minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun.***