JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip di kantornya, Selasa (30/4) siang. Rabu dinihari, penyidik KPK menetapkan Sri sebagai tersangka.

Dikutip dari liputan6.com, bupati berparas cantik itu diduga meminta jatah ke pengusaha terkait dua proyek revitalisasi Pasar Lirung dan Pasar Beo di Talaud.

''Sejumlah barang diduga merupakan fee proyek,'' kata Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan saat jumpa pers di kantornya, Selasa (30/4) malam.

Total ada enam orang diamankan dari dua lokasi di Jakarta dan Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Mereka adalah Sri Wahyuni, BNL (Timses Bupati-pengusaha), BHK (pengusaha), ASO (Ketua Pokja), anak BHK dan sopir BNL.

''Tiga sudah menjadi tersangka, bupati SMW, BNL dan BHK,'' kata Basaria.

Basaria mengungkapkan, bupati melalui BNL minta 'jatah'. Oleh orang kepercayaannya BNL proyek ditawarkan ke BHK selaku kontraktor. ''Terkait fee yang diharuskan bupati, BNL meminta BHK memberi barang-barang mewah sebagai bagian dari imbalan fee 10 persen.''

Dia menduga, selain dua garapan itu para tersangka juga membahas proyek-proyek lain. Untuk menyamarkan ada sandi khusus dalam suap tersebut.

''Kode fee dalam perkara ini yang digunakan adalah 'DP teknis','' ungkap jenderal bintang dua Polri ini.

Berikut barang bukti berupa barang mewah yang diterima Bupati Talaud dari pengusaha:

1. Handbag Channel Rp97.360.000

2. Tas Balenciaga Rp32.995.000

3. Jam Tangan Rolex Rp224.500.000

4. Anting berlian Adelle Rp32.075.000

5. Cincin berlian Adelle Rp76.925.000

6. Uang tunai Rp50 juta

Seperti diketahui, pada 28 April, BHK bersama anaknya membeli barang mewah berupa dua tas, 1 jam tangan, seperangkat perhiasan total RP 463.855.000 di pusta perbelanjaan Jakarta. BNL, BHK, dan sopir BNL ditangkap di hotel Jakarta pada 29 April, kemudian anak BHK diciduk di salah satu apartemen di Jakarta.

Di Manado, tim mengamankan ASO dan uang Rp 50 juta. Terakhir tim KPK menciduk Bupati Sri. Para tersangka sudah ditahan KPK.***