RIO DE JANEIRO - Sebanyak 142 dipastikan tewas akibat ambruknya bendungan pertambangan Brumadinho, di Negara Bagian Minas Gerais, Brasil. Sebanyak 194 orang dinyatakan masih hilang.

Dikutip dari republika.co.id, pihak berwenang mengatakan, hingga Selasa (5/2), dari 142 jasad yang ditemukan, 122 sudah diketahui identitasnya.

Mereka yang menjadi korban musibah tersebut merupakan penduduk lingkungan setempat dan karyawan perusahaan Vale.

Tim-tim penyelamat sedang menjalankan upaya mereka di beberapa daerah untuk menemukan lebih banyak jenazah. Sekitar 400 orang terlibat dalam upaya penyelamatan.

Setengah dari jumlah itu adalah para petugas pemadam kebakaran dari Minas Gerais dan setengahnya lagi terdiri dari petugas Pasukan Keamanan Umum Nasional, pemadam kebakaran dari berbagai negara bagian, serta sukarelawan.

Sebelumnya pada Selasa, lima insinyur dan manajer, yang ditahan karena dianggap bertanggung jawab terkait ambruknya bendungan, mendapatkan habeas corpus (surat perintah untuk dihadapkan ke pengadilan) dari pengadilan Brasil dan telah dibebaskan.

Kelima orang itu, yang tiga di antaranya adalah karyawan Vale dan dua lainnya merupakan pegawai kontrak, sebelumnya ditahan terkait keselamatan bendungan atau dianggap bertanggung jawab dalam mendapatkan izin.

Limbah pertambangan yang berhamburan dari bendungan ambruk tersebut terus mengalir ke Sungai Paraopeba. Para pakar mengatakan sungai itu jadi mati, seperti yang juga terjadi pada Sungai Doce ketika insiden serupa muncul di Mariana, juga di Negara Bagian Minas Gerais pada akhir 2015.

Beberapa kota di sekitar sungai menghadapi masalah karena sungai tersebut tidak mungkin digunakan sebagai sumber air bersih. Sejumlah kota telah menyatakan status darurat atau status bencana.

Sebagai tambahan, sebuah hasil penelitian yang diumumkan pada Selasa oleh Yayasan Oswaldo Cruz, yaitu lembaga kajian epidemiologi dan keamanan masyarakat Brasil, memperkirakan kota-kota di sekitar Sungai Paraopeba kemungkinan akan menghadapi wabah penyakit yang ditularkan nyamuk, seperti demam kuning atau demam berdarah. Keadaan yang sama terjadi saat insiden Mariana.***