SERANG - Penyidik Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Serang, Banten, masih mendalami kasus dugaan pencabulan yang dilakukan tiga guru sekolah menengah terhadap tiga siswinya di Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang.

Dikutip dari poskotanews.com, korban maupun sejumlah guru yang bertugas di sekolah tersebut turut dimintai keterangan.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Banten Uut Luthi mengatakan, modus ketiga guru tersebut adalah dengan berpura-pura memberikan penilaian mata pelajaran.

Korban yang tidak menaruh curiga, menuruti ajakan gurunya tersebut. Ternyata, dalam ruangan labor komputer, ketiga korban dipaksa melakukan hubungan badan.

''Modusnya itu mau ada penilaian. Tapi masih belum jelas mata pelajaran apa,  sebab korban masih dalam kondisi trauma,'' ujar Uut.

Dia mengatakan, LPA Banten akan mendatangkan psikolog untuk membantu memulihkan kondisi psikis korban. Selain itu, LPA Banten akan mengonfirmasi peristiwa tersebut ke sekolah korban.

''Kami akan bantu pulihkan kondisi psikis korban. Kami berharap pelaku segera ditangkap karena saat ini belum dilakukan penangkapan,'' tutur Uut.

Sementara itu, penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Serang masih menunggu hasil visum terhadap tiga siswi yang diduga menjadi korban pencabulan oleh tiga guru di Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang.

Ketiga pelajar tersebut telah menjalani pemeriksaan di Unit UPPA untuk mengklarifikasi laporan pemerkosaan tersebut.

''Ketiganya sudah diperiksa. Kami tinggal tunggu hasil visumnya untuk menentukan arah kasusnya (naik tahap penyidikan atau tidak-red),'' ujar ungkap Kasatreskrim AKP David Chandra Babega didampingi Kanit UPPA Satreskrim Polres Serang Ipda Deni Hartanto kepada wartawan, Senin (17/6/2019).

Menurut Kasat, selain ketiga korban, pihaknya juga memanggil sejumlah guru yang bertugas di sekolah tersebut minus tiga pelaku. ''Tiga orang sudah kita periksa (korban) dan beberapa guru,'' ujarnya.

Lebih lanjut, Deni mengungkapkan, selama masih dalam proses penyelidikan, kepolisian belum bisa menyimpulkan dugaan peristiwa persetubuhan antara guru dan anak didiknya itu. ''Dari kita sendiri belum membenarkan kejadian itu. Karena masih dalam proses lidik,'' ungkapnya.

Seperti diberitakan, Sabtu (15/3/2019) sekira pukul 10.00 WIB, korban Bunga diajak dua temannya Indah dan Titin (bukan nama sebenarnya) untuk jajan di kantin sekolah. Namun dalam perjalanan, Indah dan Titin malah masuk ke dalam ruangan labolatorium komputer sambil mengajak Bunga.

Ternyata guru MO, AD dan SA sudah berada di dalam ruangan menunggu kehadirkan ketiga anak didiknya tersebut. Ketiga guru itu berpura-pura membahas persoalan mata pelajaran. Namun setelah beberapa menit berbincang, Indah diajak oleh AD mencari posisi untuk melakukan persetubuhan.

Begitu pula dengan Titin, bersama dengan SA mencari tempat melakukan hubungan seksual di dalam lab komputer. Sementara, Bunga sempat menolak ajakan MO, namun MO memaksa korban dengan cara menarik tangan korban dan memaksa membuka pakaian dalam Bunga. ***