PERTH - Seorang narapidana bernama Amy, yang tengah menjalani hukuman di penjara wanita di Perth, Australia, melahirkan bayinya sendiria dalam sel tahanan yang terkunci.

''Staf kebidanan dan sipir mengawasi, dan berusaha mendukungnya melalui celah di pintu, tetapi tidak bisa memberikan dukungan fisik,'' ujar inspektur pemasyarakatan Neil Morgan, sperti dikutip dari liputan6.com yang melansir laman ABC Indonesia, Kamis (13/12/2018).

Laporan itu mengatakan, Amy disidangkan di pengadilan pada awal Januari lalu selama trimester akhir kehamilannya.

Ia diberikan keringanan bebas dengan jaminan tetapi tak bisa memenuhi persyaratan dan dibawa kembali ke tahanan. Dirinya kemudian dipindahkan ke Penjara Perempuan Bandyup di pinggiran timur laut Perth, pada 17 Februari.

Penjara ini dibuka pada tahun 1970 dan merupakan satu-satunya penjara perempuan, yang melayani semua tingkat klasifikasi keamanan, termasuk keamanan maksimum.

Pembunuh berantai Catherine Bernie termasuk di antara penghuninya yang paling terkenal. Laporan itu menemukan Amy dipindahkan ke sel yang sesak, di unit dua lantai, di lantai pertama.

Ia menghabiskan 22 hari kehamilannya, menerima perawatan medis dari staf penjara, dan dipindahkan ke rumah sakit untuk perawatan rawat jalan.

Persalinan Berat

Laporan itu mengatakan, ia menggunakan kata-kata yang menunjukkan ia gugup dan berpikir dirinya akan melahirkan.

Ia dibawa ke pusat kesehatan penjara untuk pemeriksaan, tetapi ketika ia ada di sana, perawat tak diberitahu tentang keluhan rasa sakit yang dideritanya. Hanya mengeluh kepada perawat bahwa dia sakit perut, tetapi membantah akan melahirkan.

Amy diberi parasetamol dan dibawa kembali ke selnya. Setengah jam kemudian, penjara masuk ke periode penguncian malam.

Pada pukul 18.30, Amy kembali memanggil-mangil petugas. Ia terlihat ''sangat tertekan'', menunjukkan tanda sedang dalam proses persalinan.

Selama satu jam berikutnya, seorang staf berbicara dengan Amy melalui pintu selnya. Tetapi staf kebidanan tak memeriksanya. Laporan itu menyalahkan ''prioritisasi, komunikasi dan pengambilan keputusan yang buruk''.

Laporan itu mengatakan bahwa kesulitan yang dirasakan Amy pada tahap ini sudah ''terdeteksi'' dan bahwa ia jelas membutuhkan bantuan.

Tetapi staf perawat hanya bisa berkomunikasi dengannya melalui pintu sel yang terkunci, karena satu-satunya orang dengan kunci selnya adalah seorang staf di gerbang, yang ditempuh dua hingga tiga menit berjalan kaki.

Lima menit kemudian, Amy melahirkan bayinya, sendirian, di dalam sel yang terkunci.

''Staf kebidanan dan sipir mengawasi, dan berusaha mendukungnya melalui celah di pintu tetapi tidak bisa memberikan dukungan fisik,'' kata ringkasan laporan itu.

''Ini jelas merupakan situasi berisiko tinggi bagi Amy dan anaknya.''

''Ia berada di dalam sel, tidak di lingkungan yang steril, dan tidak ada pemeriksaan perinatal standar untuk ibu dan bayi yang baru lahir tersedia.''

''Dan staf tidak akan bisa mengurus pertolongan pertama jika diperlukan.''***