CHRISTCHURCH - Sebanyak 50 umat Islam wafat akibat penembakan brutal dalam dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3). Salah seorang korban yang wafat tersebut adalah Haji Daoud Nabi (71 tahun).

Dikutip dari republika.co.id, Haji Daoud Nabi merupakan korban meninggal pertama yang berhasil diidentifikasi. Daoud adalah warga Afghanistan yang telah 40 tahun berdiam di Selandia Baru.

Nabi datang ke Selandia Baru pada 1979. Dia meninggalkan negaranya untuk menghindari konflik antara Afghanistan dan Uni Soviet. Setelah tinggal di Selandia Baru, Nabi mendirikan Afghan Association, yang misinya membantu para pengungsi memulai kehidupan baru di negara tersebut.

''Dia dulu membuat mereka (para pengungsi) merasa seperti di rumah,'' kata putranya, Omar (43 tahun), saat diwawancarai Aljazirah.

Dua hari sebelum insiden penembakan di Christchurch terjadi, Nabi sempat berbicara kepada Omar tentang pentingya persatuan.

''Ayah saya mengatakan betapa pentingnya menyebarkan cinta dan persatuan di antara satu sama lain serta melindungi setiap anggota masyarakat tempat kita tinggal,'' ujar Omar.

Namun nasib buruk memang harus menimpa Nabi. Usai 40 tahun setelah melarikan diri dari konflik, dia harus meninggal di tangan seorang ekstremis bernama Brenton Tarrant. Kepada Sydney Morning Herald, Sabtu (16/3), Omar mengatakan ayahnya rela menjadi tameng hidup untuk menyelamatkan orang lain di masjid.

Namun, masih terngiang di benak Omar tentang bagaimana ayahnya ingin menutup usianya saat Shalat Jumat dalam masjid. Ternyata, Allah SWT mengabulkan mimpi Daoud Nabi tersebut. ''Dia mengatakan tempat terbaik untuk meninggal adalah saat shalat Jumat di sebuah masjid,'' ucapnya.

Nabi meninggalkan empat putra, satu putri, dan sembilan cucu. ''Cucu-cucunya sangat merindukannya dan beberapa dari mereka bahkan tidak tahu kini dia tidak lagi bersama kita,'' ujar Omar.

Omar mengakui ini adalah masa sulit bagi keluarganya, termasuk untuk keluarga korban meninggal lainnya. ''Ini adalah waktu yang sangat sulit bagi kami dan bagi semua orang yang kehilangan orang yang mereka cintai dalam pembantaian ini,'' kata dia.

Menurut Omar, jenazah ayahnya tidak akan dimakamkan di Afghanistan. ''Ayah saya tinggal seumur hidupnya di negara ini (Selandia Baru) dan akan dimakamkan di sini,'' ucapnya.

Penembakan terhadap dua masjid di Christchurch menyebabkan sedikitnya 50 orang meninggal dan lebih dari 30 lainnya luka-luka. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyebut peristiwa sebagai momen terkelam negaranya.***