JEDDAH, GORIAU.COM - Imigrasi Arab Saudi tiba-tiba menahan sejumlah jamaah calon haji wanita dari Indonesia. Mereka mempertanyakan mahram para wanita asal Semarang yang kebetulan masih muda-muda dan berwajah manis.


Jamaah yang tertahan selama empat jam di imigrasi itu berasal dari kelompok terbang 31, embarkasi Solo. Pesawat Garuda Indonesia yang mengangkut mereka mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah, Arab Saudi, pukul 22.10 Waktu Arab Saudi, Sabtu 13 September 2014. Namun para jamaah ini baru berhasil bebas pukul 02.00 WAS, Minggu (14/9/2014).


Meski awalnya yang ditahan hanya lima jamaah perempuan, karena saling terkait, jumlah jamaah yang tersangkut urusan imigrasi membengkak menjadi 12 orang.


Keduabelas jamaah itu adalah:


1. Sukarmi Yanta Wiratna, nomor paspor A8200747


2. Ernawati Muryanto Setrodiwiryo, nomor paspor A8400107


3. Fithrotun Nisa Abdul Hadi, nomor paspor A8059673


4. Hani Ammaria Abdul Hadi, nomor paspor A8059572


5. Nurul Ismawati Suratmin, nomor paspor A8200728


6. Bahroni Zaenuri Buchori, nomor paspor A8671739


7. Rohmad Supoyo Marwan, nomor paspor A8200708


8. Fachrudin Rois Zuhri, nomor paspor A8200746


9. Muhammad Saiq Abdul Hadi, nomor paspor A8059571


10. M Nasim Bahara, nomor paspor A8059570


11. Suratmin Suparman Mentosetu, nomor paspor A8200726


12. Jutiah


Awalnya menurut penuturan jemaah bernama Rohmad Rois, proses pemeriksaan berjalan lancar. Namun ketika tiba giliran jemaah Ernawati, petugas imigrasi yang masih muda mulai berulah. Mereka mempertanyakan mahrom Erna, yang berangkat seorang diri. Sementara suaminya bekerja di Surabaya.


Menyusul Erna, empat jemaah perempuan lainnya mendapat perlakuan yang sama, ditanya macam-macam soal mahrom dan bukti ada mahromnya oleh petugas.


Rohmad yang berangkat bersama istrinya merupakan rekan kerja orangtua Erna. Sejak awal ia sudah 'dititipi' untuk menjaga Erna. Khawatir dengan keselamatan Erna, karena cara melihat para petugas, ia pun bersikeras mendampingi Erna. "Sebentar-sebentar memandang jemaah-jemaah ini, mana tempatnya sepi," kata dia.


Lain lagi dengan Suyatmi, berulang kali sang suami, Fachrudin Rois, menjelaskan Suyatmi adalah istrinya. Namun petugas tidak serta-merta percaya mengingat di belakang nama Suyatmi tidak ada nama Rois. Suyatmi menggunakan nama orangtuanya sebagai nama belakang.


"Mereka minta bukti, berkali-kali tanya mana buktinya. Saya tunjukin KTP, tidak percaya. Saya kan tidak bawa Kartu Keluarga, jemaah dari Jepara lolos hanya dengan nunjukin KK," kata Fachrudin.


Sementara Nurul Ismawati Suratmin yang masih lajang berangkat bersama kedua orangtua dan kakak lelakinya. Orangtua dan kakaknya lolos, tapi dia ditahan petugas. Proses Nurul tidak terlalu berbelit-belit karena ayahnya, Suratmin Suparman Mentosetu, langsung maju menjelaskan bahwa Nurul anak perempuannya, yang berarti mahramnya. Petugas baru percaya setelah nama belakangnya cocok dengan nama sang ayah.


Sekretaris Daerah Kerja Jeddah Arfi Hatim menuturkan ini kejadian pertama terkait pelaksanaan ibadah haji Indonesia. "Nggak pernah ada kasus seperti ini. Kita semua bingung, tiga jam lebih tertahan. Harusnya kalau visa lolos, selesai. Mahram harusnya masuk dalam rombongannya," katanya.


Ketua Seksi Perlindungan Jemaah Daker Jeddah Muhammad Zari menambahkan, jemaah baru dilepaskan setelah menandatangani surat pernyataan pihak yang mewakili negara. Surat itu ditandatangi wakil dari Konjen RI di Jeddah, Kurniawan. "Beginilah di sini, aturan antar petugas tidak sama. Kemarin lancar-lancar saja," kata dia.


Jamaah sendiri setelah istirahat dan makan malam melanjutkan perjalanan ke Madinah bersama rombongan kloter 32 Solo yang datang belakangan.***