SESEORANG memelukku erat dan mendekapku rapat dari belakang. Aku tak bisa bergerak, termasuk menoleh untuk melihat sang penyekap. Kalau kepalaku ke kanan, kepalanya ke kiri, dan begitu sebaliknya. Lebih dari 12 detik kejadian itu berlangsung, persis di depan meja receptionist di lobby Hotel Basko Best Western, Padang.

"Siapa, ya?" tanyaku.

Pitingan dua lengannya bertambah kuat. Dan dia hanya mendehem. Tertawa kecil. Aseemm...

Kuperhatikan tangan dan jemarinya. Bukan tangan yang gempal bedegap, bukan jari yang gemuk. Tulang lengannya kurus dan panjang, sementara jari-jarinya alit dan tirus. Semerbak wanginya mampir ke hidungku. Pasti dia pria yang apik. Tapi siapa yang mengenalku di kota Padang ini?

"Serius banget sih? Pesawat jam berapa?" tanyanya sambil melepaskan diriku.

Aku berbalik dan melihat sebuah paras yang menebarkan senyum cerah. Yaoloh.., Mas Idris rupanya."Wah, kupikir siapa, Mas. Check-out juga?"

Idris Sardi mengangguk. Kami akan naik pesawat yang berbeda untuk pulang ke Jakarta, setelah semalam menghadiri acara peluncuran sebuah media yang menyuguhkan kepiawaian Mas Idris bermain biola. Kami pun berbincang hangat dalam menunggu jemputan. Cukup lama obrolan itu mengalor-ngidul, hingga akhirnya kami mengambil jalan pulang masing-masing."Kita ngobrol lagi di Jakarta, ya Bung Iz," ujar Idris Sardi sebelum naik ke mobil. "Saya masih penasaran dengan biografi yang pernah kita bicarakan dulu."

* * *

Ah! Idris Sardi ternyata masih ingat pada pembicaraan kami di studio Gema Nada Pertiwi di tahun 1998. Saat itu aku sedang menulis buku Gesang, dan Direktur GNP, Hendarmin Susilo, membantu dengan foto-foto Gesang ketika mengadakan pertunjukan di manca negara. Di sanalah aku bersua Idris Sardi yang sedang rekaman. Dia bahkan sempat membaca dummy buku Gesang itu.

"Bung Iz, jika suatu saat nanti saya menulis biografi, saya ingin Anda yang menuliskannya, bukan orang lain," pintanya.

Aku siap. Selalu bersedia menulis kisah hidup orang-orang besar yang kukagumi.

"Saya suka cara Bung Iz bertutur. Meski kultur anda dari Batak, tetapi cara penulisan Anda cocok dengan karakter saya," sambungnya.

Itu sebuah janji yang kami sepakati. Akan diwujudkan nanti, suatu saat jika dia ingin menulis biografi. Ternyata janji itu masih tersimpan di lubuk hati Mas Idris, meski aku nyaris melupakannya. Namun waktu tidak berpihak pada kami, karena setelah peluncuran buku Gesang, Mas Idris menghilang dari peredaran. Setelah bercerai dengan Marini, dia bagai lenyap di telan bumi.

Menurut Hendarmin, Mas Idris sedang menjalani perawatan di sebuah tempat yang terpencil, jauh dari keramaian dan kebisingan.

Tapi janji adalah janji. Kami coba sama-sama teguh memegangnya. Tapi kondisi dan suasana tak selama setuju dengan janji sesiapapun. Di zaman ini, kondisi dan suasanalah yang jadi penentu sebuah janji bisa ditepati, atau diingkari. Terutama jika kenyataan sudah berkata lain.

Dan janji selama 16 tahun itu akhirnya memang tak bisa kami wujudkan. Sebabnya sederhana, hanya masalah pendanaan semata. Aku dan Mas Idris sama-sama tidak punya biaya untuk menyelesaikan niat itu. Mas Idris tidak dalam gelimangan uang, demikian juga diriku. Menulis itu butuh duit yang besar untuk membayar tim penulis yang biasanya terdiri dari lima orang, belum lagi jika ditambah dengan biaya cetak. Sementara aku juga harus menerima bayaran, dan itu tidak kecil. Tentang ini, Mas Idris mengacungkan jempol. "Yes, that's what I like about you. Saya setuju. Karya yang bagus harus dihargai. We are not cheap."Lagipula menulis biografi Idris Sardi bukanlah pekerjaan mudah, karena aku harus mampu menyelami relung-relung kesenimanannya, menembus ke dalam pola pikirnya yang bagi banyak orang sangat kukuh, kuat terpancang pada prinsip dirinya. Semua orang tahu bahwa Idris itu sangat tegas dan op tijd, tidak memberi toleransi kepada tindakan-tindakan yang indisipliner. Menulis perjalanan hidup Idris adalah bagai mengembara ke dalam musik opera yang bergelora. Turun naik gelombang kehidupannya tidak datar dan tenang, tetapi penuh pergulatan. Hendarmin banyak bercerita tentang sulit-mudahnya menggalang kerjasama dengan Idris Sardi.

"Harus jelas Pak Iz, kita harus ekstra hati-hati, jangan sampai ada yang salah. Mas Idris itu teliti dan sangat precise," ujar Boss Gema Nada Pertiwi itu.

Aku tahu itu. Idris Sardi adalah orang yang erg streng. Dia selalu taat aturan dan patuh jadwal. Rinto Harahap pernah cerita, seorang Idris Sardi tak akan segan-segan mengusir pemusik yang terlambat latihan dan rekaman, meski hanya baru lima menit. Dia sangat menghargai waktu dan sangat keras dalam tekad. Musiknya adalah kehidupan, dan hidupnya dilalui dengan keseriusan dan kesungguhan hati. No time for foolin' around.

* * *

Tahun-tahun berganti. Idris Sardi yang menghilang muncul kembali. Setelah menjalani perawatan dengan melakukan pengasingan diri dari keramaian dunia, dia akhirnya memperoleh kesembuhan. Selama menjalani tapa brata itu, Mas Idris tampaknya juga melakukan pertarakan, menahan hawa nafsu makan, minum, tidur, birahi, dan segala keinginan liar agar dapat mencapai ketenangan batin.

Ketika kami bertemu lagi, Mas Idris sudah berubah. Dia kini lebih banyak bertoleransi. Kepadaku dia mengakui bahwa dirinya seperti mendapat pukulan, yang membuat dia tersadar bahwa segala yang ada di alam ini selalu berada di bawah kebesaran Tuhan, dan tanpa nur Allah, diri kita -terutama dirinya- bukan siapa-siapa. Idris Sardi kemudian tampil sebagai orang yang sangat penuh pengertian, dapat menerima segala yang tidak sesuai, dan hampir tidak pernah complaint atas apapun.

Bagiku ini luar biasa. Tidak sembarang orang bisa melakukan hal itu. Bahkan aku pun belum bisa begitu, sebab sampai detik ini saja aku masih suka kesal, bersungut-sungut, dan bahkan murka.

Perubahan sikap yang datang dari dalam jiwa Mas Idris itu coba kuteladani dan tiru dalam beberapa aspek kehidupan, namun tetap bukan hal yang gampang. Fondasiku tidak kuat.

Namun jika berhadapan dengan Mas Idris yang penuh kasih dan keluwesan, aku merunduk seperti pucuk pohon padi. Ketika bertemu terakhir kali di acara peluncuran buku 'Perjalanan Maestro Biola Indonesia' aku menempa hatiku.

Biografi itu seharusnya tulisanku, jika saja kami punya waktu, kesempatan, dan keuangan.

Sesaat setelah acara resmi ditutup, Mas Idris tahu hal itu. Karena itulah di akhir acara dia turun dari panggung untuk memelukku. Kami tak punya kata-kata. Tetapi dalam sorot matanya ada bahasa yang bisa kubaca.

"Akhirnya kita mesti mengalah, Bung Iz. Hidup bukan untuk mengalahkan, tetapi untuk sering mengalah. Walau kita tak dapat bekerja sama dalam penulisan buku, tetapi kita sudah bersama dalam menghayati hidup ini. We can't always get what we want.

Ada saat di mana tangan kita lemah terkulai, jari kita tak bisa berkutik, namun itu pasti bukan karena jiwa kita telah ditundukkan." Begitu aku menerjemahkan pandang matanya.

Aku menyimak sinyal virtual Mas Idris itu dengan hati yang lapang. That's the way story goes. Ada pihak lain yang punya dana untuk menerbitkan bukunya, why not? Semuanya akan menjadi lumrah jika jiwa kita tenang. "Saya mengerti, Mas," bisikku di telinganya.

Dan itu pulalah bisikanku ketika tadi pagi mendengar berita wafatnya Mas Idris. Aku tergugu sekejap, tersentak sesaat. Hati tersayat. Pengertian adalah segala-galanya dalam memelihara keindahan. Mas Idris sudah memberinya buatku, dan telah pula mengasi pengajaran, bahwa hati yang damai adalah hati yang tidak menuntut dan tidak berharap, sebab menerima dengan kerelaan adalah sebuah kebahagiaan. Nrimo ing pandum.

Mas Idris, nikmatilah perjalanan akhirmu, mengasolah di pangkuan Yang Maha Kuasa. Aku masih dan akan selalu mendengar alunan biolamu di mobilku. Itu janji yang akan kutepati, Maestro-ku!***

Penulis adalah wartawan senior yang telah menulis biografi puluhan tokoh.