EKONOMI syariah adalah segala bentuk kegiatan ekonomi yang pelaksanaannya mengacu pada hukum Islam. Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim tertinggi, Indonesia termasuk negara yang potensial untuk melaksanakan sistem ekonomi berbasis syariah.

Hal ini meliputi pelaksanaan kegiatan perbankan, jual beli barang secara individual, hingga transaksi bisnis berskala besar. Lantas, sejauh apa perkembangan ekonomi syariah di Indonesia sekarang? Berikut ulasan selengkapnya.

Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia
Penerapan ekonomi Islam di Indonesia mengalami kenaikan setiap tahunnya. Hal ini sebagaimana temuan Bank Indonesia (BI) selama lima tahun terakhir. Menurut data BI, pangsa ekonomi Islam di tahun 2020 mencapai 24,86% dari tahun sebelumnya sekitar 24,77% (2019).

Meski bukan angka kenaikan yang signifikan, namun peningkatan pangsa pasar tersebut tentu menjadi angin segar tersendiri. Khususnya bagi para praktisi dan pengembang sistem ekonomi syariah di Indonesia.

Banyak faktor yang memengaruhi tumbuhnya pangsa pasar ekonomi syariah di tanah air. Mulai dari kesadaran masyarakat untuk mengembangkan ekonomi Islam, meningkatnya kinerja institusi syariah, serta perbaikan regulasi yang mendukung pelaksanaan ekonomi syariah.
Angka kenaikan pangsa pasar syariah tersebut juga sejalan dengan hasil temuan BI lainnya tentang persentase Produk Domestik Bruto (PDB). BI menyebutkan, hampir 80% PDB telah memenuhi prinsip-prinsip dalam sistem ekonomi Islam.

Tingginya angka perolehan PDB berdasarkan konsep ekonomi syariah tersebut tidak terlepas dari meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap produk-produk halal. Berbagai bisnis yang mengusung konsep syariah pun mulai bertebaran di mana-mana, sehingga mengutamakan transaksi yang halal. Mulai dari bisnis kuliner, perhotelan, hingga produk-produk kecantikan dan perawatan tubuh.


Dalam studi Global Muslim Travel Index (GMTI) mengungkapkan, Indonesia termasuk destinasi wisata halal terpopuler di dunia selain Malaysia. Hal itu sebagaimana dirilis
Mastercard-CrescentRating pada tahun 2019 lalu.

Tantangan Pelaksanaan Ekonomi Syariah di Indonesia
Meski pangsa pasar ekonomi syariah di Indonesia terus meningkat, namun masih banyak hal yang menjadi tantangan. Mulai dari minimnya literasi masyarakat hingga rendahnya kapasitas perbankan syariah. Berikut beberapa tantangan pelaksanaan ekonomi Islam di Indonesia.

1. Minimnya Literasi Ekonomi Syariah
BI merilis peningkatan literasi ekonomi syariah di kalangan masyarakat Indonesia hanya meningkat dari 16% menjadi 21% di tahun 2021. Data itu menunjukkan bahwa persentase masyarakat yang belum punya literasi mumpuni terkait ekonomi Islam masih kalah jauh, yaitu sekitar 79%.

Penyebab rendahnya literasi ekonomi syariah ini beragam. Mulai dari kurang meratanya kampanye ekonomi syariah untuk semua kalangan serta rendahnya minat sebagian masyarakat terhadap konsep ekonomi Islam.

2. Belum Banyak Produsen yang Berlandaskan Nilai-Nilai Ekonomi Syariah
Tren implementasi ekonomi syariah di Indonesia masih terkonsentrasi sebagai konsumen daripada produsen. Artinya, kebanyakan orang Indonesia yang menjalankan konsep ekonomi Islam hanya berperan sebagai konsumen, bukan pelaku bisnis itu sendiri.

Padahal, hampir semua sektor bisnis di Indonesia sangatlah potensial untuk mengimplementasikan nilai-nilai ekonomi syariah secara maksimal. Sehingga jumlah konsumen yang menjalankan sistem syariah pun ikut meningkat.

3. Optimalisasi Sektor Ekonomi Sosial
Tidak hanya itu saja. Masih banyak sektor sosial ekonomi lainnya yang perlu optimalisasi lebih lanjut agar sesuai dengan prinsip ekonomi syariah. Mulai dari pelaksanaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Waqaf (ZISWAF) yang sebagian masih mengandalkan prinsip ekonomi umum.
Apalagi, saat in banyak platform pembayaran ZISWAF online yang memungkinkan orang-orang melakukan ZISWAF secara digital. Tren pembayaran ZISWAF secara online lewat perantara platform ini pun belum diketahui pasti apakah mengandalkan konsep ekonomi Islam atau tidak.

4. Minimnya Sertifikasi Halal
Yang tidak kalah penting yaitu masalah sertifikasi halal. Saat ini masih banyak para pelaku bisnis yang belum mendaftarkan produknya untuk mendapatkan sertifikat halal. Ada juga yang telah berhasil mendapatkannya, namun lupa atau sengaja tidak memperpanjang sertifikat tersebut.

Padahal, sertifikat halal merupakan salah satu hal paling dasar dalam menjalankan sistem ekonomi Islam di Indonesia. Tanpa sertifikat tersebut, konsumen tidak bisa mengetahui pasti apakah produk yang ia beli halal atau tidak. Baik dari segi bahan, proses pembuatan, hingga aturan pembeliannya.

5. Rendahnya Kapasitas Perbankan Syariah
Tantangan ekonomi syariah di Indonesia juga terletak pada peranan sektor keuangan syariah yang terbatas. Salah satunya yaitu pembiayaan bangunan yang terbatas serta rendahnya kapasitas perbankan syariah di tanah air.

Bagaimana Mengembangkan Ekonomi Syariah di Indonesia?
Perkembangan ekonomi syariah yang signifikan tentu tidak bisa kita dapatkan hanya dengan berdiam diri saja. Perlu usaha keras untuk menyebarluaskan nilai-nilai ekonomi Islam dalam transaksi individual maupun secara kolektif melalui lembaga bisnis atau organisasi tertentu.
Berikut beberapa hal penting untuk mengembangkan implementasi ekonomi syariah di Indonesia.


1. Meningkatkan Kampanye Literasi Ekonomi Syariah
Jangan membayangkan kampanye literasi ekonomi syariah ini berupa seminar, workshop, atau acara-acara formal yang memerlukan banyak biaya. Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai ekonomi Islam bisa kita jalankan dari skala keluarga dan sekolah.

Sehingga sejak kecil, anak sudah memahami pentingnya nilai-nilai Islam dalam bertransaksi sehari-hari. Lalu peningkatan akses informasi mengenai ekonomi Islam secara lebih merata di berbagai sumber.
Mulai dari buku bacaan, media online, hingga keterangan dari para keyopinionleader.

2. Merangkul Komunitas-Komunitas Secara Lebih Inklusif
Menyebarkan nilai-nilai ekonomi keislaman akan semakin efektif jika merangkul berbagai komunitas secara inklusif. Mulai dari komunitas perguruan tinggi, komunitas anak-anak muda yang tersebar di berbagai kota, hingga komunitas online yang memiliki beragam minat berbeda.

Sehingga semua orang, apapun latar belakangnya akan lebih tertarik menjalankan nilai-nilai keislaman dalam bertransaksi sehari-hari. Mereka pun tak akan ragu mengajak setiap orang terdekatnya untuk melakukan hal serupa.

3. Mendorong Tumbuhnya Bisnis Berbasis Syariah
Keberadaan para pelaku usaha juga memiliki peran penting dalam perkembangan ekonomi syariah. Karena itulah, mulai dari skala UMKM hingga pemilik perusahaan korporasi perlu pemahaman lebih tentang pentingnya implementasi ekonomi syariah dalam kegiatan bisnisnya.
Sehingga ke depannya, mereka pun tertarik menjalankan bisnis berbasis syariah. Mulai dari mendaftar sertifikasi halal hingga memastikan bisnisnya bebas dari uang riba'. Dengan begitu, jumlah produsen yang menjalankan nilai-nilai keislaman di Indonesia pun ikut meningkat.

Meski pangsa pasar ekonomi syariah di Indonesia cenderung meningkat, bukan berarti itu adalah hal final. Butuh upaya yang terus berkelanjutan untuk mengembangkan sistem ekonomi syariah di tanah air lebih luas lagi. Sehingga implementasinya lebih strategis dan merata untuk semua kalangan.***

*Penulis adalah mahasiswa STIE Syariah Bengkalis