JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lokasi pengungsi gempa bumi di Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), sudah endemis malaria sebelum gempa bumi mengguncang Lombok Barat.

Dikutip dari republika.co.id, Kepala Pusat Krisis Kemenkes Ahmad Yurianto mengklaim, pihaknya sudah berupaya mengeliminasi penyakit malaria di NTB. Namun hasilnya belum maksimal di Desa Bukittinggi, Kecamatan Gunung Sari, yang menjadi salah satu daerah endemis malaria di Lombok Barat.

''Jadi, sebelum gempa terjadi, daerah itu sudah endemis malaria. Kemudian ketika terjadi gempa bumi dan masyarakat tinggal di pengungsian, maka kemungkinan digigit nyamuk lebih tinggi dibandingkan kalau di dalam rumah,'' ujarnya saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (9/9).

Ia mengaku, Kemenkes sudah mendatangi beberapa tempat pengungsian dan malam harinya para pengungsi diperiksa darahnya. Kemudian dari 270 pengungsi yang diperiksa, kata dia, yang positif malaria sebanyak 32 orang. ''Sebanyak 32 orang ini harus kami obati tuntas,'' ujarnya.

Ahmad menyebut tenaga kesehatan dan relawan pasti memberikan layanan kesehatan untuk pasien malaria. Disinggung mengenai penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria, ia menyebut belum perlu karena wilayah ini sudah endemis malaria.

Tak hanya Kabupaten Lombok Barat, ia menyebut di beberapa daerah Kabupaten Lombok Timur yaitu Sembalun, Belanting, dan Labuhan juga masih endemis malaria. Karena menjadi kantong penyebaran malaria akibat nyamuk Anopheles betina terinfeksi ini, ia mengklaim stok obat pasti tersedia di daerah endemis malaria.

Selain itu, kata dia, Kementerian Kesehatan juga fokus pada pencegahan malaria dengan edukasi ke masyarakat supaya jangan sampai digigit nyamuk. Kemenkes juga memberikan informasi pentingnya pemakaian lotion antinyamuk untuk mencegah malaria.

Pihaknya juga membagikan 1.000 kelambu di daerah endemis malaria di NTB. Hasilnya, kata dia, masyarakat menjadi tahu dan banyak juga yang membeli kelambu atau lotion antinyamuk inisiatif sendiri.

Sebelumnya Kepala Dinas Kesehatan Lombok Barat Rahman Sahnan Putra mengatakan, wabah malaria yang melanda para pengungsi di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) semakin meluas. Sejak ditemukannya empat kasus di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Gunungsari, jumlah korban sudah meluas ke desa lain di kecamatan yang sama.

''Ada 32 korban terdeteksi mengidap malaria hanya dalam satu wilayah kerja Puskesmas Penimbung,'' ujar Rahman di Lobar, NTB, Jumat (7/9).

Kata dia, wabah tersebut sudah semakin meluas. Menurut catatan Dinas Kesehatan Lobar, sudah ada 103 orang positif terkena malaria dengan penyebaran mencapai 28 dusun, 10 desa, dan empat wilayah kerja Puskesmas. Dari jumlah tersebut, lima orang terpaksa dirawat inap karena sudah parah.***