PARA pria sebaiknya jangan lagi menunda keinginan untuk segera memiliki anak pasca menikah. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa semakin lama seorang pria menjadi ayah, semakin besar kemungkinan spermanya bermutasi dan mempengaruhi keturunannya kelak.

Tidak hanya itu, para peneliti juga menemukan bahwa menjadi ayah di usia yang lebih tua juga membuat anaknya lebih berisiko untuk mengalami gangguan seperti autisme atau skizofrenia.

Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa seiring pertambahan usia seorang pria, maka kualitas spermanya juga turut mengalami penurunan.

Untuk membuktikannya, peneliti memeriksa DNA dari 78 orang tua dan anak-anak di Islandia. Mereka menemukan korelasi langsung antara usia ayah dan jumlah mutasi terkait dengan autisme dan skizofrenia dalam DNA anak. Sementara itu, usia ibu ditemukan tidak mempengaruhi risiko tersebut.

''Masyarakat selama ini sangat terfokus pada usia ibu, tapi tampaknya gangguan seperti skizofrenia dan autisme lebih dipengaruhi oleh usia ayah,'' kata pemimpin peneliti, Dr. Kari Stefansson, seperti dilansir laman Daily Mail, Kamis (6/3).

Prof. Andrew Wilkie, ahli genetika klinis di University of Oxford, menambahkan laporan Dr Stefansson. Ia menyebutkan adanya hubungan antara usia ayah yang lebih tua dan sindrom Apert. Sindrom ini sendiri merupakan gangguan tulang langka yang dapat mengakibatkan kepala memanjang pada anak.

''Ini hal penting yang perlu ditanyakan, sebab dengan meningkatnya usia reproduksi, efek yang berkaitan cenderung meningkat juga,'' tambahnya lagi.

Faktanya, tidak seperti wanita yang dilahirkan dengan satu set lengkap sel telur, pria justru terus-menerus memproduksi sperma baru sepanjang masa hidupnya. Setiap 16 hari, sel-sel di testis terbagi dan DNA-nya disalin ke sel baru, yang kemudian digunakan untuk membuat sperma baru.

Tubuh sangat akurat untuk membuat salinan yang sama persis, namun terkadang mereka bisa juga membuat kesalahan, yang dikenal sebagai mutasi genetik.

Seiring pertambahan usia pria, proses penyalinan tersebut menjadi lebih rentan gagal dan terjadi mutasi pada sperma. Jika sperma bermutasi dan kemudian digunakan untuk membentuk janin, maka menurut Prof Wilkie akan ada lebih banyak risiko terjadi masalah dalam perkembangannya.***