RIYADH - Memata-matai ponsel pasangan merupakan hal biasa di Idonesia. Namun berbeda dengan di Arab Saudi, bagi istri atau suami yang memata-matai pesan di ponsel pasangannya merupakan tindakan kriminal.

Dikutip dari kumparan.com, bagi yang memata-matai ponsel pasangannya teracam hukuman satu tahun atau denda 500.000 riyal Saudi (sekitar Rp1,9 miliar).

Di undang-undang Arab, perbuatan stalking ponsel pasangan sudah masuk ke dalam kejahatan dunia maya alias cybercrime. Siapa pun yang mengakses smartphone pasangan tanpa izin akan dikenakan hukuman, karena dianggap setara dengan peretasan.

Pemerintah Arab Saudi bisa memberikan hukuman yang lebih ringan, apabila si pelaku tidak melihat isi pesan teks, gambar, dan video dari smartphone pasangan.

Ads
Peraturan ini sebenarnya selaras dengan munculnya fenomena ''milik saya adalah milik kamu'' di kalangan milenial dan selanjutnya. Hal ini membuat mereka terdorong untuk berbagi password biometrik alias keamanan sidik jari.

Dengan hadirnya opsi penyimpanan beberapa sidik jari atau identitas wajah, pasangan akhirnya saling berbagi ruang untuk memudahkan pasangannya mengakses smartphone masing-masing.

''Berbagi sidik jari ponsel menunjukkan kepercayaan antara dua orang,'' kata Emma Clarke, perempuan berusia 24 tahun yang tinggal di New York, Amerika Serikat.

Ia sendiri mengaku sudah bertukar sidik jari biometrik dengan sang kekasih agar saling bisa mengakses smartphone.

Emma menilai jika di zaman ini sudah layaknya berbagi intimasi. Ia tidak mengatakan bahwa ini adalah suatu hal yang salah, namun jika ini terus berlanjut, pasangan yang melakukan hal ini akan merasa dikhianati apabila salah satu dari mereka memilih untuk memiliki privasi atau ruang untuk dirinya sendiri.***