DIMANAKAH posisi sastra Indonesia dalam bentangan peta sastra dunia?

Pertanyaan ini akan lebih muda dijawab secara kualitatif. Sebab, sampai saat ini belum ada data kuantitatif terkait karya-karya sastra Indonesia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa-bahasa dunia lainnya. Meskipun upaya penerjemahan dan memperkenalkan karya sastra Indonesia di sejumlah negara terus berkembang.

Setiap mengunjungi suatu negara baik di Asia maupun Eropa, saya selalu menyempatkan diri mengunjungi toko buku berjaringan dunia seperti Periplus, Kinokuniya, Books & Beyond dll. Toko buku ini ada yang berupa oulet di bandara maupun di mal-mal pusat kota. Rak yang selalu dikunjungi adalah rak buku Asia dan Asia Tenggara (South East Asia) yang memajang buku-buku sastra. Ternyata sedikit sekali buku-buku sastra Indonesia yang dipajang di situ dibanding buku-buku sastra negara Asia lainnya seperti Jepang, India, Singapura, Malaysia dan Thailand.

Untuk menyebut sejumlah nama sastrawan generasi lama yang sejumlah buku ditemukan di beberapa toko buku terutama di Malaysia dan Singapura tersebut di antaranya WS. Rendra, Taufiq Ismail, Pramoedya Ananta Toer, Putu Wijaya. dsb. Sedangkan buku-buku karya sastrawan angkatan lebih muda di antaranya Ayu Utami, Dewi ‘Dee’ Lestari, Andrea Hirata, Habiburrahman Elsirazy, Leila S. Chudori, Eka Kurniawan dan sebagainya. Memang terasa masih terlalu sedikit buku-buku sastra Indonesia dalam bahasa Inggris yang dijual di toko-toko buku.

Ads
Tak banyak sastrawan Indonesia yang berkibar di mata dunia. Salah satu sastrawan yang pernah disebut-sebut dalam nominasi peraih Hadiah Nobel Sastra adalah Pramoedya. Ini dimungkinkan karena kekuatan karya Pram yang khas dan menarik sehingga novel-novelnya diterjemahkan ke dalam belasan negara.

Setelah Pram, boleh jadi Eka Kurniawan yang cemerlang lewat novel Cantik Itu Luka dan novel-novel lain juga sduah diterjemahkan ke berbagai bahasa mancanegara. Tentu sangat diharapkan, Eka juga diperhitungkan sebagai nomine peraih Nobel Sastra.

Realitas yang kurang menggembirakan ini pernah saya tulis di Kompas Minggu sekitar tahun 2008 dengan judul ‘Mengapa Sastra Indonesia Sulit Mendunia?’ Dalam tulisan tersebut saya mengungkap bahwa sedikitnya buku-buku sastra Indonesia yang dikenal duniadisebabkan sangat terbatasnya buku-buku sastra kita dalam berbahasa Inggris yang beredar di pasaran. Hal ini bisa terkait dengan masih terbatasnya upaya penerjemahan karya-karya sastra tersebut ke dalam bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dunia.

Perkembangan dua puluh tahun terakhir yang ditandai dengan munculnya Era Millenial, telah terjadi revolusi besar di dalam dunia perbukuan. Penerbitan buku-buku sastra konvensional yang semula dipasarkan di toko-toko buku konvensional secara perlahan tapi pasti kini berubah dengan penjualan lewat online. Toko-toko buku digital internasional mengambil alih pemasaran tersebut yang dapat diakses oleh peminat buku di seluruh dunia sebenarnya lebh memudahkan pemasaran buku sastra. Sebutlah toko buku virtual Amazone,dll.B egitu pula, pemasaran secara sederhana melalui media social (medsos), blogger atau website-website pribadi yang memungkin para peminat di berbagai penjuru untuk membelinya.

Namun, lagi-lagi buku-buku sastra Indonesia pun masih terbatas diperoleh karena masalah rantai pemasaran ternyata tak begitu mudah direalisasikan. Persoalan terbesar dalam pemasaran buku sastra tersebut terkait sangat sedikit buku-buku sastra yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing terutama Inggris.

Negara Belum Hadir Sepenuhnya.

Pihak pemerintah Indonesia melalui lembaga formal seperti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) (Ditjen Kebudayaan, Pusat Perbukuan, Pusat Bahasa dll), Komite Buku Nasional (KBN), Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan sejumlah institusi terkait lainnya, sejak satu dasawarsa terakhir terlihat makin memberikan perhatian. Berbagai program terkait penerjemahan, penerbitan, pemasaran, mengikuti pameran buku internasional atau penjajakan kerjasama penerbitan buku dengan pihak negara lain hampir setiap tahun dilakukan.

Program residensi penulis Indonesia di luar negeri yang diparakarsai oleh KBN terus berlangsung setiap tahun. Melalui seleksi yang ketat, sejumlah sastrawan Indonesia telah dikirim ke sejumlah negara dalam rangka penyelesaian penulisan karya sastra berupa novel, cerita pendek (cerpen) atau puisi. Naskah-naskah buku yang ditulis dengan setting dan alur cerita menghubungan Indonesia dengan negara residensi diharapkan dapat menggoda penerbit luar negeri menerbitkan buku tersebut. Namun, hasilnya belum begitu terlihat secara signifikan.

Jauh sebelumnya, sejumlah sastrawan Indonesia melalui kerjasama dengan pihak Amerika Serikat telah diundang dalam program residensi sastrawan berupa IOWA Writer Programme. Sejumlah nama telah mengikuti program residensi tersebut yang menetap di negara Paman Sam itu selama hampir setahun. Menyebut beberapa nama di antara WS. Rendra, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Darman Moenir, Goenawan Mohammad dan dari kalangan penulis angkatan muda terdapat nama Asma Nadia.

Persoalan mendasar dalam penerbitan buku di luar negeri bagi sastrawan Indonesia menyangkut penerjemahan ke dalam bahasa Inggeris. Memang sejak lama sudah ada organisasi Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) tapi kiprahnya masih terbatas sekali untuk mengakomodasi karya-karya sastra kita yang terus muncul dalam rentang waktu yang panjang.

Dalam jumlah terbatas, upaya penerjemahan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris dilakukan secara perorangan atau sebaliknya penerjemahan buku luar pemenang Nobel Sastra atau mahakarya negara lain dari bahasa Inggris atau bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia. Sebutlah nama penerjemah yang taka sing lagi seperti Anton Kurnia, Landung Simatupang, Arif Bagus Prasetyo, dan Eka Kurniawan dll. Generasi sebelumnya sudah biasa pula menerjemahkan karya-karya sastra dunia seperti Chairil Anwar, Sapardi Joko Damono, Mochtar Lubis, Abdul Hadi WM, dll.

Penyertaan penerbit-penerbit Indonesia yang memasarkan buku-buku sastra Indonesia versi Bahasa Inggeris juga cukup gencar dilakukan dalam setengah dasawarsa terakhir. Pameran buku internasional terbesar, Frankfurt International Book Fair beberapa tahun lalu pernah menempatkan buku-buku Indonesia (termasuk sastra) dalam posisi yang khusus. Pameran yang diikuti para penerbit dan penulis buku dari Indonesia itu memberikan kesempatan terjadinya penjajakan peluang kerjasama penerbitan bersama dengan penerbit luar negeri. Namun, lagi-lagi hasilnya belum begitu nyata untuk mengakomodir banyaknya karya sastra kita.

Bekraf yang bertanggungjawab dalam pengembangan industri kreatif di semua bidang seni termasuk sastra, berupaya memberikan ruang bagi para penulis Indonesia. Tentu saja, dalam rangka menjadikan buku sastra sebagai industri bacaan yang dapat dikenal luas oleh masyarakat baik di dalam maupun luar negeri. Muara ikhtiar ini agar para penulis buku bias menikmati royalti penjualan buku yang layak dan produktif.

Sekaitan dengan itu, beberapa waktu lalu, Bekraf telah menggagas dibentuknya Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) sejak dua tahun lalu di mana untuk periode pertama terpilih sebagai ketua adalah penulis/ wartawan senior, Nasir Tamara. Ratusan penulis berbagai genre termasuk sastra terhimpun dalam wadah ini. Satupena ikut pula memotivasi para penulis agar menerbitkan buku dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggeris agar bias dikenal dunia. Namun, keterbatasan dana masih menjadi kendala dalam pergerakan Satupena.

Apa yang sudah dilakukan pihak pemerintah melalui berbagai institusi formal itu, tentu mash belum cukup. Keterbatasan danadan masalah-masalah teknis lainnya selalu menjadi hambatan yang tidak mudah diatasi. Diperlukan komitmen kuat dan sinergitas semua pihak yang dikordinasikan oleh pihak pemerintah agar upaya mengenalkansastra Indonesia ke mancanegara dapat berbuah manis.

Di sisi lain, upaya yang dilakukan sejumlah pihak swasta berupa yayasan dan penerbit Indonesia dalam penerjembahan buku sastra Indonesia selama ini tentu saja sangat relevan dengan kegiatan pameran buku internasional semacam itu. Sebutlah salah satu pihak yang gencar berkiprah dalam program ini yakni Yayasan Obor dengan salah satu pemrakarsaynya, John McGill. Puluhan buku sudah diterjemahkan dan diterbitkan dalam edsisi terbatas dan coba ditawarkan pada penerbit luar negeri. Namun, hasil yang dicapai belum representatif mengingat masih terlalu banyaknya buku-buku sastra kita yang belum tersentuh karena keterbatasan dana dan jangkauan.

Upaya pengenalan sastra Indonesia ke mancanegara juga terus dilakukan oleh lembaga swasta lain. Di Bali ada program Ubud Writer Festival yang diprakarsai oleh Jeannet, seorang warga asing yang menetap lama di sana. Begitu pula Kelompok Utan Kayu dan Syalihara yang dibina oleh sastrawan Goenawan Mohammad mash terus mengadakan kegiatan seni yang melibatkan pihak asing. Atau ada pula iven Jakarta Internasional Literature Festival (Jilfest), Borobudur Writer Festival dan beberapa lagi. Itu semua termasuk dalam upaya pengenalan Indonesia ke pihak asing secara informal.

Jauh sebelum itu, dalam kapasitas terbatas, sejumlah radio internasional berbahasa Indonesia sejak lama telah menyiarkan karya-karya sastra Indonesia berupa puisi dan cerpen. Sebutlah Radio Nederland yang dulu setia[ tahun mengadakan Sayembara Sastra yang bergengsi dan dinantikan para sastrawan Indonesia. Ada pula radio asing lainnya diantaranya BBC London, Radio Australia, Deuchland Radio (Radio Jerman), dll.

Begitu pula, pusat-pusat kebudayaan asing di Indonesia seperti British Council, Pusat Kebudayaan Prancis dan beberapa negara lain, sejak lama telah ikut memperkenal sastra Indonesia ke mancanegara. Meskipun bidang seni non-sastra terasa lebih dominan disajikan di pusat-pusat kebudayaan tersebut namun peluang bagi karya sastra tentu selalu terbuka kepiawaian sastrawan untuk bisa memanfaatkannya.

Rencana digelarnya Festival Sastra Dunia 2019 nanti di Banda Neira atas prakarsa sastrawan Freehearty (Bundo Free) dan kawan-kawan tentu akan berperan strategis dalam memperkenalkan sastra Indonesia ke mancangara. Dalam serangkaian seminar dan diskusi, ratusan sastrawan dan kritikus sastra dari berbagai negara akan berbaur dalm saling memperkenalkan karya sastra masing-masing negara. Peluang ini harus diambil oleh sastrawan Indonesia dalam melambungkan sastra Indonesia ke pelataran dunia.

Pengenalan Sastra Indonesia di Luar Negeri

Sejumlah negara melalui pusat kajian kebudayaan (bahasa dan sastra) di universitas terkemuka di sejumlah negara telah memberi perhatian khusus bagi pengajaran dan pendalaman bahasa dan sastra Indonesia–termasuk sastra Melayu. Sebutlah Belanda melalui Universitas Leiden terus dilakukan pengkajian sastra dan kebudayaan Melayu secara mendalam dan berkesinambungan. Bahkan, perpustakaan universitas ini memiliki koleksi buku sastra Indonesia sejak zaman klasik hingga kontemporer terlengkap. Banyak tokoh yang terlibat mulai dari Prof. A. Teeuw, Jan van Der Puten dll. Bahkan sejumlah akademisi dan sastrawan Indonesia secara silih berganti menyelesaikan program doctor.Bahkan, ada di antaranya yang menjadi dosen tetap di Universitas Leiden seperti Dr. Suryadi asal Sumatera Barat yang hingga kini masih bermastautin di sana.

Negara Prancis melalui sejumlah tokoh yang tertarik pada antroplogi, kebudayaan, bahasa dan sastra Indonesia sejak lama terus melakukan pengkajian. Di antara nama-nama yang sangat dikenal antara lain Dennys Lombard, Henry Chambert Loir, dll. Begitu pula sebuah perguruan tinggi di sana, INALCO (Institut National des Langues et Civilization Orientales) yang memiliki program studi lebih dari 80 bahasa dunia termasuk bahasa Indonesia dan Melayu memberi perhatian besar bagi sastra Indonesia. Salah seorang penggagasnya adalah Dr. Etienne Naveau. Sejumlah akademisi dan peminat sastra Indonesia yang pernah diundang sebagai dosen tamu adalah Soni Farid Maulana, Fakhrunnas MA Jabbar, Ramon Damora dan Maman S. Mahayana. Tentu akan ada lagi sastrawan-sastrawan lain yang menyusul sesuai bidang masing-masing.

Bahkan di Paris terdapat sebuah lembaga Assosiation Franco-Indonesien (AFI) yang pernah dipimpin oleh Johanna Lederer menghimpun sekitar 500 orang peminat Indonesia di sana yang secara berkala menerbitkan majalah dwi tahunan berbahasa Prancis, Le Banian. Majalah ini memuat tulisan semua bidang dari lingkungan, film, tari, politik, ekonomi dan sastra untuk memperkalkan Indonesia bagi masyarakat Prancis dan Eropa. Mereka juga menggelar kegiatan dua tahunan berupa The Indonesian Literature Meeting yang mengundang sastrawan dan akademisi sastra Indonesia tampil dalam diskusi atau mementaskan seni.

Di sejumlah universitas di Jepang sudah sejak lama menjadikan bahasa dan sastra Indonesia menjadi obyek studi dengan mengundang ahli bahasa dan sastrawan Indonesia sebagai dosen tamu di antaranya Ajip Rosidi yang menetap di sana cukup lama dan lain-l;ain. Bahkan ada seorang wartawan bernama Seiichi Okawa yang menjadi koresponden majalah Tempo di Jepang banyak menulis dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Jepang memang memiliki hubungan khusus dengan Indonesia di masa penjajahan sebelum kemerdekaan dulu.

Begitu pula di Australia dibuka belasan program studi Bahasa Indonesia yang semakin ramai diminati. Di Korea Selatan melalui Hankok University dengan tokoh terdepan Prof. Koh Yun Hun dll. terus mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia bagi mahasiswa setempat. Bahkan sejumlah ahli bahasa dan sastrawan Indonesia diundang sebagai dosen tamu yang menetap di sana. Sebutlah kritikus sastra Maman S. Mahayana dan sejumlah nama lain.

Jerman melalui sejumlah tokoh di antara Dimshauser, Katrin Brandel dan lain-lain telah memberikan perhatian penuh bagi pengenalan sastra Indonesia di negaranya. Kerjasama penerbitan buku bersama kedua negara terus dilakukan secara berkesinambungan. Begitu juga di Rusia, ada Viktor Pogadev yang juga turut menerjemahkan karya sastra sejumlah sastrawan Indonesia dan Malaysia dalam ikatan serumpun Melayu. Di Chekoslavia ada pula Martina Mikova yang mengajarkan dan memperkenalkan bahasa dan sastra Indonesia melalui sebuah universitas di sana.

Memperkenalkan Indonesia di segala aspek terkait: politik,ekonomi, budaya, bahasa dan sastra, antrpologi dan bidang lain baik secara perorangan maupun kelompok dalam ikatan kerjasama bilateral terus digelorakan. Hal ini secara formal dilakukan oleh pihak Atase Kebudayaan pada Konsul Jenderal atau KBRI di negara masing-masing. Program pertukaran kesenian dan kebudayaan terus dikembangkan sehingga negara-negara dunia dapat mengenal Indonesia.

Meskipun, tak semua perwakilan Indonesia di luar negeri itu memberikan perhatian khusus bagi pengenalan sastra Indonesia. Sebab, boleh jadi sastra tidak termasuk skala prioritas bagi mereka. Atau mereka lebih tertarik menampilkan genre seni lain terutama yang bersifat perfoming art seperti tarian, teater, musik atau seni rupa.

Peluang Sastra Indonesia di Era Millenial.

Perkembangan dunia di era millennial hingga saat ini, suka atau tidak suka, telah mengubah segalanya melalui teknologi informasi dan komunikasi yang serba cepat dan mudah. Perubahan secara pasti dari teknologi manual ke digital yang ditandai dengan kemajuan teknologi internet telah ikut mnengubah sikap dan tatacara umat manusia di segala bidang.

Kebiasaan para sastrawan dalam menulis karya-karya kreatif yang semula dilakukan secara manual (mesin tik) kini beralih ke komputer dan laptop yang serba otomatis. Proses kreatif para sastrawan tentu saja masih tetap seperti semula karena semua karya kreatif diawali dari kontemplasi atau perenungan mendalam dan diilhami (inspiring) oleh situasi sekitar.

Perubahan terbesar bagi sastrawan di era millenial ini terkait penyebaran (broadcasting) karya-karya sastra secara mudah dan cepat. Bahkan tak terbatas oleh ruang dan waktu sama sekali. Betapa banyak para sastrawan angkatan muda atau generasi millennial yang sangat produktif berkarya karena cukup ditulis lewat telepon genggam dan langsung disiarkan melalui berbagai media sosial (instgram, tweeter, telegram) bahkan Youtube yang langsung bisa dinikmati oleh para pembaca atau penikmat sastra di belahan dunia yang tanpa batas.

Persoalannya, memang karya-karya sastra yang lahir secara dadakan (instant) itu tentu tanpa penyuntingan lagi sehingga mutu karya tersebut patut diragukan. Namun sebenarnya, para sastrawan pemula bisa saja menulis secara alamiah (otodidak) dan apabila diikuti dengan kegiatan membaca kaya-karya sastra bermutu di sepanjang zaman, pasti dapat menemukan ‘ruh’ karyanya yang berkualitas baik.

Di tengah masa surut media cetak saat berhadapan dengan media digital (online), banyak media cetak yang memperkecil halaman sastra budaya. Bahkan ada media cetak yang tidak lagi menyediakan rubrik yang selama ini jadi tumpuan para sastrawan dalam publikasi karyanya. Itu artinya halaman sastra tersebut selain menjadi tempat menyiarkan karya tapi juga dapat meringankan ekonomi karena honorariumnya yang dapat meringankan beban kehidupan atau menambah penghasilan.

Bagi sastrawan generasi millennial yang memiliki kemampuan dalam ‘menjinakkan’ teknologi digital yang sangat pesat ini, tentu dapat menjadikan halaman-halaman media online dan media sosial tersebut untuk mempubikasikan karyanya secara tak terbatas. Bahkan, peluang memperoleh uang pun sangat terbuka apabila mampu ‘menggoda’ para pembaca (viewer} atau mampu mem-viralkan karya-karyanya di media sosial.

Para provider internet seperti Instagram, FB, Youtube dan sebagainya yang berbasis viewer, memberikan nilai uang bagi penulis/ penyaji yang berhasil memikat riabuan sampai jutaan viewer. Betapa banyak, poengguna medsos dan Youtuber yang tiba-tiba kini menjadi jutawan bahkan merauf uang komulatif mencapai miliaran rupiah.

Sekarang pilihan ada pada sastrawan itu sendiri. Maukah menyiarkan karya-karyanya secara luas agar dibaca oleh siapa saja di belahan dunia ini. Atau, menyiarkan karya sekaligus meraup uang yang dapat menopang perekonomian sehari-hari.

Tersedianya teknologi digital, media elektroinik atau media sosial sesungguhnya mengurangi ketergantungan para sastrawan pada halaman-halaman media cetak. Penguasaan teknologi digital itu pula dapat mengantarkan karya-karya sastra para sastrawan langsung pada pembacanya di segala lini dan usia dengan latarbelakang yang sangat beragam.

Apabila karya-karya tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia tentulah ruang lingkup pembacanya terbatas pada publik Indonesia atau beberapa negeri jiran yang menggunakan bahasa Melayu. Namun, apabila karya-karya sastra tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris tentulah membuka peluang besar menuju sastra dunia. Sebab, pihak luar sana dapat menikmati karya-karya sastra yang disiarkan tersebut. Saatnya para sastrawan melangkah laju di era millennial dengan membuat web pribadi atau blog yang secara produktif menyiarkan karya-karyanya dalam dwi bahasa (Indonesia dan Inggris). Itulah upaya nyata memperkenalkan karya sendiri ke bentangan dunia.

Inilah peluang lain yang terbuka apabila ada di antara pembaca tersebut dari kalabgan penerbit luar negeri berminat untuk menerbitkan karya tersebut sebagai buku. Kekuatan sastra Indonesia ada pada kekayaan lokalitas (local content) yang tentu tak dimiliki oleh negara-negara lain.

Selama ini, banyak sastrawan Indonesia yang sukses mengangkat nilai-nilai lokalitas atau subkultur tersebut dan menjadi kekuatan luar biasa dalam memperkaya keragaman sastra Indonesia. Sebutlah Ahmad Tohari, Sutardji Calzoum Bachri, Linus Suryadi AG, Sitor Situm,orang, Y. B. Mangunwijaya, Darman Moenir, BM. Syamsuddin, Idrus Tintin, Oka Rusmini, Rida K. Liamsi, Gus tf, Taufik Ikram Jamil, Putu Wijaya, dan masih banyak lagi.

Di kalangan generasi millennial, tentu bermunculan pula para sastrawan angkatan muda yang terus berupaya menemukan ‘jati diri’ karyanya sehingga memiliki ‘nilai jual’ yang tinggi.

Penutup

Perkembangan teknologi komunikasi tak mungkin berhenti dan akan terus berkembang. Para sastrawan apabila ingin tetap eksis, harus mampu memanfaatkan teknologi komunikasi yang ada dalam menyiarkan karya-karya sastra yang berkualitas. Bila menemukan kiatyang tepat, tentu saja tak mustahil tinggal selangkah lagi menuju hamparan sastra dunia yang selalu didambakan.***

Pekanbaru, 15 Oktober 2018

Tulisan ini disampaikan pada seminar sastra Banda Neira Fiesta di Banda Neira (Maluku Tengah), 23-28 Oktober 2015.

Biodata Singkat

Ir Fakhrunnas MA Jabbar, M.I.Kom, lahir di Airtiris, (Riau-Indonesia), 18 Januari 1959. Kini menjalani program S3 bidang Komunikasi Politik di Universiti Selangor (Unisel), Malaysia. Menamatkan S1 pada Fakultas Perikanan Universitas Riau dan S2 Komunikasi Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta. Bekerja sebagai dosen Universitas Islam Riau, Pekanbaru sejak 1986 dan Pemimpin Redaksi portal berita Tirastimes.com..Selain dosen dan sastrawam, juga tercatat menjadi sastrawan Indonesia yang produktif berkarya. Menulis dan memublikasikan tulisannya berupa puisi, cerpen, esai dan artikel di hampir 100 media yang terbit di Indonesia sejak 1975-sekarang. Telah menulis dan menerbitkan buku yakni: 5 kumpulan puisi (antara lain Airmata Barzanji, 2005, Tanah Airku Melayu, 2007, Airmata Musim Gugur, 2016 dan Airmata Batu, 2017), 3 kumpulan cerpen (Jazirah Layeela, 2004, dan Sebatang Ceri di Serambi, 2006, Ongkak, 2010 dan Lembayung Pagui, 30 Tahun Kemudian tahun 2017), 2 biografi (Zaini Kunin, Sebutir Mutiara dari Lubuk Bendahara, 1993 dan Soeman Hs, Bukan Pencuri Anak Perawan, 1998) serta 5 buku cerita anak. Dianugerahi Seniman/Budayawan Pilihan Anugerah Sagang, sebuah anugerah seni bergengsi di Riau dan tiga bukunya pernah meraih anugerah yang sama untuk kategori Buku Pilihan. Gelar Seniman/Budayawan Pemangku Negeri pernah dianugerahkan kepadanya oleh Dewan Kesenian Riau. Memberikan ceramah dan baca puisi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Belanda, Brunei Darussalam, Korea Selatan dan Prancis. Pernah menjadi dosen tamu Sastra Melayu di Institut National des Langues et Civilisation Orientales- INALCO (grup Sorbonne University). Paris tahun 2015. Tahun yang sama bersama Tim Kesenian Riau membacakan puisi di kota Rheinfelden, Swiss, Tahun 2014 diundang membaca puisi dan menyajikan makalah pada Indonesian Literatire Meeting di Paris yang ditaja oleh Association Franco- Indonesien.