TINGGAL hitungan bulan Pilkada serentak akan dihelat di 270 kabupaten/kota di Indonesia dan dari 270 kabupaten / kota yang ada salah satunya yang akan melaksanakan pemilihan kepala daerah adalah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.

Walaupun masa jabatan bupati dan wakil bupati yang menjabat sekarang berakhir 2021, namun pelaksanaan Pilkada daerah ini tetap dilaksanakan 2020 yang akan datang. Adapun dasar hukum pelaksaan pilkada serentak adalah uu no 5 tahun 2015, uu no 8 tahun 2015 dan uu no 10 tahun 2016 dan ditambah dengan beberapa peraturan teknis lainnya sebagai pedoman dan acuan KPU dalam menyusun tahapan demi tahapan pelaksanaan Pilkada.

Sebagaimana yang kita amati, baik yang kita lihat, kita dengar ataupun yang kita baca dari beberapa media apakah itu cetak, elektronik, online ataupun media sosial lainnya KPU dan Panwas Kuansing sudah mengajukan kebutuhan anggaran kepada pemerintah daerah Kabupaten Kuantan Singingi demi terlaksananya pesta demokrasi lokal tersebut.

Kemudian untuk meramaikan pesta demokrasi ini kita juga mengamati munculnya tokoh-tokoh masyarakat Kuansing yang mencoba peruntungannya untuk ikut mencalonkan diri ataupun dicalonkan sebagai kandidat kepala daerah ataupun wakil kepala daerah. Tokoh-tokoh ini datang dari berbagai kalangan, ada dari politisi, pengusaha, kalangan profesional, konon katanya ada juga birokrat bahkan mungkin kalangan akademisi juga turut meramaikan pesta lima tahunan daerah ini. Disamping itu juga para kandidat berdasarkan domisili ada yang tinggal di Kuansing, di ibukota propinsi bahkan ada dari luar propinsi.

Dari kalangan politisi muncul nama H. Halim sekaligus pengusaha dan incumbent, Andi Putra, Mursuni (incumbent), Komprensi yang sudah menyatakan duet denga H. Halim dan Suhardiman Amby, Supriati dan politisi lainnya. Sedangkan dari kalangan birokrat nama yang di gadang-gadangkan Dianto Mampanini, dr Ukup, kemudian dari pengusaha muncul lagi nama Imran.

Selain dari nama-nama diatas partai politik juga dengan sibuk membuka penjaringan ataupun pendaftaran untuk bakal calon. Di Kabupaten Kuantan Singingi Partai pertama yang membuka penjaringan bakal calon sepertinya adalah PDIP, lalu disusul Nasdem, PKS, Demokrat dan partai yang lainnya akan menyusul.

Lalu siapakah dari bakal calon yang muncul ke publik ini yang akan mendapatkan dukungan dari partai politik, jawabannya ada pada partai masing-masing dengan alasan jawaban ini tidak bisa kita tebak karena jawaban tergantung pada internal partai, bisa saja yang didukung itu kader bisa diluar dari kader partai.

Politik adalah kesepakatan dan barang siapa yang bisa memerankan dan menjalankan kesepakatan itulah yang akan mendapatkan dukungan. Ketika partai memberikan dukungan maka sah sudah dukungan partai kepada bakal calon, dan babak baru selanjutnya adalah obral janji melalui sosialisasi wara-wiri kesana-kemari mencari dukungan dan simpati untuk mendapatkan partisipasi.

Karena politik itu kesepakatan yang tidak bisa ditebak oleh masyakat, bisa saja yang didukung oleh partai diluar kehendak masyarakat bisa saja sesuai selera masyarakat dan seandainya partai politik memberikan dukungan kepada tokoh yang kurang populer atau kurangnya simpati masyarakat itulah politik.

Dengan melihat fenomena itu masyarakat kuantan singingi harus cerdas, sebab pemilihan bupati dan wakil bupati berbeda dengan pemilihan legislatif yang notabone mencari figur keterwakilan Dapil.

Pemilihan bupati dan wakil bupati itu adalah mencari sosok figur yang bisa mengayomi kepentingan masyarakat Kuantan Singingi. Saatnya masyarakat cerdas menentukan pemimpin lima tahun kedepan, jangan terjebak janji-janji manis calon.

Partisipasi politik adalah cara masyarakat untuk menentukan sikap pilihannya untuk memilih calon masa depan negeri ini, jangan gadaikan partisipasi memilih kita karena uang dan barang, ataupun menggunakan hak pilih dipengaruhi oleh pemilih lain, atau memilih karena ego kedaerahan dan kesukuan akan berpengaruh kepada daerah ini.

Jangan pandang latar belakang calon dari keturunan mana, asal darimana, profesi apa dan sebagainya dan tentukanlah sikap partisipasi politik memilih kita dengan melihat komitmen, kesungguhan, niat tulus, berani dan tegas dalam mewujudkan program dan janji politik dan tidak menambah pundi-pundi kekayaan sekalipun calon yang dipilih itu dari negeri antabaranta.

Selain masyarakat dituntut cerdas, peran dan fungsi utama partai politik harus dikedepankan. Kita melihat peran partai politik dewasa ini seolah-olah menjadikan partai politik sebagai alat untuk mencapai kekuasaan dan kepentingan. Di alam demokrasi, penafsiran peran partai politik yang demikian suatu penafsiran yang salah dan keliru. Padahal tugas utama lembaga parpai politik adalah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat secara berkesinambungan.

Di momen pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah ini mari sama-sama kita lihat peran dari masing-masing partai pengusung apakah partai pengusung lebih mengedepankan pendidikan politik kepada masyarakat kita atau justru lebih bersifat propaganda, agitasi politik atau pembodohan masyarakat yang sudah pernah dilakukan partai politik selama ini.

Adapun alasan kita menuntut masing-masing partai memberikan pencerahan dan pendidikan politik adalah lebih di sebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat kita, keterbatasan menerima informasi terutama adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan. Dari pengamatan dan informasi yang kita gali banyak masyarakat kita yang tidak tahu kalau 2020 akan ada pesta demokrasi, kemudian kurangnya wawasan masyarakat untuk menggali sosok dan figur para tokoh kompoten yang memiliki kemampuan mengurus Kabupaten Kuantan Singingi. Hal ini membuktikan bahwa sebagian pemahaman, pengetahuan dan pendidikan politik masyarakat kita masih banyak yang rendah.

Sisi lain kehadiran elemen masyarakat baik unsur adat, pemuka agama, tokoh masyarakat , tokoh pemuda dan tokoh perempuan juga dibutuhkan dalam merubah sikap dan perilaku politik pemilih. Elemen-elemen atau lapisan masyarakat di atas ialah kelompok yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, orang yang dianggap sebagai panutan atau kita kenal dalam istilah melayu 'didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting'.

Biasanya para kandidat sebelum terjun sosialisasi ke masyarakat yang pertama dicari adalah lapisan masyarakat yang mempunyai pengaruh dalam merubah sikap dan perilaku masyakat di sekitar.

Mengingat besarnya peran lapisan ini kita berharap supaya mereka tidak mengedepankan kepentingan pribadi, tidak mudah tergoda oleh janji atau kesepakatan antar pribadi, melainkan bisa merubah cara pandang politik masyarakat Kuantan Singingi pada 2020 yang akan datang. ***

Sarjan M adalah dosen Universitas Islam Kuantan Singingi (Uniks)