KITA umat Islam, diyakini sudah sering mengikuti pengajian agama, mendengar ceramah-ceramah agama, baik di rumah, di masjid ataupun dikantor-kantor. Rasanya sudah lebih dari cukup muatan agama yang kita dapatkan.

Suruhan dan larangannya kita sudah tahu, sayangnya yang kita ketahui itu belum teramalkan oleh sebagian besar kita, masih banyak yang mungkar dari yang makruf yang kita kerjakan. Aneh dan ironis, kegiatan dakwah lancar kegiatan kemungkaran lancar pula, tak mau kalah.

Untuk itulah tak bosan-bosannya ajakan, seruan sekaligus memperingatkan kita agar jauh- jauhlah dari perbuatan-perbuatan yang melabrak rambu-rambu agama. Seruan tersebut ialah mengajak kita untuk merenung. Kenapa? karena merenung itu perintah agama. ''Hitung-hitunglah dirimu, sebelum nanti dihitung diakhirat kelak (Haasibu anfusakum, qabla antuhaa sabu).''

Perintah merenung itu jelas untuk kita semua umat beragama terutama Islam. Lebih spesifiknya seruan merenung itu ditujukan kepada: Pertama, kepada orang- orang yang sudah jelas berbuat salah seperti koruptor. Yang sudah tersangka dan pakai baju KPK, jangan berpura-pura juga, apalagi merasa tak bersalah. Tengokkan rasa penyesalan kita, bukan ketawa-ketawa, sumringah dll.

Jujurlah dan akui saja, sekaligus cepat- cepat bertobat. Kedua, kepada koruptor yang belum tertangkap, padahal ikut melakukan kejahatan khususnya korupsi, segeralah sadar. Ingat hidup akan mati, kita orang beragama dan Allah Maha mengetahui apa yang kita lakukan. Kalau perlu cepat-cepat kembalikan harta haram itu.

Ketiga, kepada yang berniat melakukan korupsi, urungkan niatmu, sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tak berguna. Allah Maha tahu dengan niat kita, minta ampun kepada-Nya, insya Allah kita akan terhindar dari azab-Nya.

Keempat, kepada penegak hukum terutama hakim yang konon wakil tuhan dimuka bumi, berbuatlah professional, adil dan setiap memutuskan hukuman ajaklah hati nurani karena hati nurani tak bisa dibohongi. Ingat agama menyebutkan: ''Berbuat adillah karena adil itu sangat dekat dengan taqwa.''

Kelima, kepada Penasehat Hukum, jangan over akting, biasa-biasa sajalah. Pada awalnya ‘galak’, semua orang salah, polisi salah, jaksa salah, KPK salah dst, akhirnya loyo. Anda pasti tahu, bahwa lebih 80% kasus-kasus yang dibela kalah. Anda harus malu, ingat anda dilihat orang.

Keenam, kepada pengusaha, sekali-sekali merenunglah. Barangkali banyak tindakan-tindakan anda yang merugikan pegawai dan staf anda, bahasa lainnya menzalimi anak buah. Ingat, Allah sangat benci orang-orang zalim dan pasti akan diberi sangsi didunia maupun diakhirat kelak yang kita tidak tahu berbentuk apa. Ketujuh, kepada kita semua masyarakat luas terutama pemimpin dan politisi.

Kita diajak merenung mengantisipasi aktifitas keseharian kita dengan mencontoh kebiasaan para sahabat, melakukan perenungan sebagai berikut: Setiap bangun pagi, sebutlah dalam hati, “hari ini apa yang dapat ku berikan kepada bangsa dan agamaku''. Malam hari mau tidur, tanya lagi diri, 'kadakah perbuatanku yang melanggar ajaran agamaku sehari tadi?'' Mari kita biasakan contoh dari para sahabat tersebut.

Demikianlah ajakan merenung untuk menyadarkan kita. Untuk apa sering-sering ke mesjid, untuk apa kita sholat, puasa, haji dan umroh, kalau tidak berdampak dalam keseharian kita. Ibarat pohon yang rimbun tapi tanpa buah. Jangan lupa bahwa agama apapun didunia ingin umatnya menjadi orang-orang baik. Islam menjadikan umatnya orang yang baik melaui ajarannya yaitu Tauhid dan Akhlak mulia dengan segala syariatnya. Diakui, mendapatkan orang baik yang jujur dan amanah memang sulit, tetapi mendapatkan orang penting begitu mudahnya.

Pribahasa asing menyebutkan: ''It is nice to be important, but more important to be nice''. ''Memang baik menjadi orang penting, tapi lebih penting lagi bagaimana menjadi orang baik.'' Orang baik itu akan dikenang selama-lamanya, tapi orang penting belum tentu. Oleh sebab itu, merenunglah. Jadilah orang baik.

Iqbal Ali adalah Ketua Dewan Pembina IKM Provinsi Riau dan mubaligh di IKMI Riau.***