DALAM hitungan hari ke depan, masyarakat Indonesia akan mengadakan hajatan besar dalam rangka mencari pemimpin, baik di tingkat daerah maupun pusat. Pemimpin terpilih diharapkan mampu membawa bangsa Indonesia menjadi lebih bermartabat.

Saat ini Proses sedang berjalan, suhu panas pemilu telah terasa di berbagai wilayah di Indonesia. Di level daerah, pemilu dilakukan dalam rangka memilih bupati dan gubernur beserta pasangannya. Pilkada terdekat akan dilakukan pada tanggal 27 Juni 2018. Saat ini telah memasuki masa kampanye.

Berbagai media digunakan sebagai saluran kampanye politik, diantaranya: media televisi, radio, surat kabar dan media sosial.

Di Indonesia, kepemilikan media dipegang oleh para politisi sehingga pada saat pemilihan umum (baik Pemilu Presiden, Legislatif dan Pilkada) media sangat diwarnai pemberitaan-pemberitaan para kandidat pengusungnya.

Ads
Fenomena keterlibatan media dalam praktek politik nyaris tidak dapat dihindari. Masing-masing media seolah menjadi corong para pemilik media yang notabenenya adalah pihak politisi sebagai salah satu kandidat dalam pemilu, dalam kata lain media merupakan kendaraan politik dan ideologi tertentu yang mampu ''memporakporandakan'' realitas yang sesungguhnya.

Hampir dapat dipastikan ketika satu media menayangkan berbagai pemberitaan positif terkait salah satu pasangan bakal calon pemilu/pemilukada, maka sesungguhnya pemilik media tersebut merupakan salah satu pengusungnya. Demikian pula sebaliknya. Hingga akhirnya masyarakat dibuat bingung dengan berbagai pemberitaan yang dibuat media.

Seiring dengan kegelisahan akses buruk konten media yang datang menerpa masyarakat, maka dirasa perlu untuk membendung dampak buruk tersebut melalui pengetahuan dan wawasan akan pentingnya literasi media.

Perlu kiranya masyarakat sebagai khalayak media aktif memilih dan memilah isi pesan media secara cerdas, peka dan kritis. Karena independensi media telah luntur oleh kepentingan berbagai pemilik media.

Pertarungan politik dalam konteks memperebutkan tampuk kepemimpinan (kekuasaan) telah melibatkan media sebagai salah satu saluran untuk mengomunikasikan ide-ide politik. Media literacy adalah ''the ability to access, analyze, evaluate dan communicate message in a variatey of forms'' (Eadie, 2009). Dalam pengertian tersebut terdapat pemahaman adanya pengandaian sifat khalayak yang aktif (Active audience) dalam berinteraksi dengan media.

Relasi antara media dengan khalayak di zaman kontemporer sekarang ini bersifat niscaya. Artinya masyarakat modern tidak bisa melepaskan keberadaan dirinya dari media massa. Masyarakat dalam banyak urusan menggantungkan diri pada informasi media.

Masyarakat menggunakan informasi dari media untuk membuat keputusan-keputusan dalam kehidupannya. Mereka menafsirkan isi media sesuai kepentingan mereka.

Pada peristiwa Pemilu yang akan digelar dalam kurun waktu dekat ini tentunya masyarakat membutuhkan berbagai informasi terkait bakal kandidat pemimpin yang akan memimpin selama lima tahun mendatang.

Dalam hal ini masyarakat akan sangat menggantungkan diri pada media dalam memberikan berbagai informasi seputar pemilu. Jika dalam hal ini masyarakat sebagai khalayak media tidak dapat melakukan ''filter'' diri terhadap pemberitaan media yang tak lagi independen tersebut, maka tentunya masyarakat akan dibuat bingung bahkan mungkin akan menimbulkan sikap apatis dari dirinya. Dan hal ini jelas akan berimplikasi besar terhadap gagalnya sistem demokrasi yang selama ini diidam-idamkan. Karena masyarakat tidak dapat memilih calon pemilih dengan hati yang bersih.

Televisi adalah satu media yang memadukan audio dan visual. Media ini menawarkan banyak keuntungan kepada audiennya karena mereka tidak dituntut untuk banyak berimajinasi dan menganalisa pesan yang disajikan.

Kemampuan media televisi inilah yang menjadikan para politisi banyak yang menawarkan pesan politiknya untuk disampaikan kepada audiensnya. Beragam pesan politik yang dikemas dalam aktivitas kampanye akan kita saksikan melalui kotak hitam ini.

Sosialisasi dan beragam aktvitas para kandidat diliput dan ditayangkan di media televisi. Media ini cukup efektif untuk meningkatkan citra diri kandidat. Media ini akan mengkonstruksi diri kandidat melalui rentetan tayangan televisi yang dikemas untuk tujuan tertentu. Audiens akan sengaja digiring pada satu tujuan yang telah diagendakan dalam media tersebut.

Mari sukseskan pilkada dan pemilu di Indonesia dengan cara bermedia yang cerdas. Jangan mau dipropogandakan oleh media tertentu demi untuk kepentingan pribadi atau golongan saja. Negara ini harus didukung oleh media yang independen, karena itu sebagai masyarakat harus mampu meningkatkan literasi bermedia yang baik.***

Penulis adalah Doktor Komunikasi Politik Universitas Islam Riau.