JUDUL di atas adalah salah satu sub judul dalam buku ''Hancurnya Etika Politik'' cetakan 2004 sebelum pilpres. Saya tertarik  judul tersebut karena relevansinya sangat kuat dengan kondisi sekarang yang sebentar lagi akan Pilpres dan Pileg.

Isi tulisan tersebut sebuah sindiran  tapi cukup kasar (sarkasme) yaitu ketika kunjungan para budayawan Yogyakarta ke tempat Soemanto (si kanibal) dipenjara.

Para budayawan mencalonkan Soemanto jadi Presiden. Jelas bagi publik merupakan bahan tertawaan atau barangkali sebuah lelucon ditengah ramainya bursa  Capres dan Cawapres.

Rupanya para budayawan Yogya tersebut menyindir para Capres Cawapres dan Caleg yang saat itu berlomba-lomba dan menggebu-gebu ingin meraih kekuasaan. Saya hubungkan dengan kondisi sekarang ada persamaan, paling tidak kalau Soemanto memakan daging manusia mati sebagai syarat meraih kekayaan dan kekuasaan, maka sebagian besar capres dan cawapres sekarang memiliki motivasi yang sama yaitu sama sama makan daging. Soemanto makan daging manusia mati sedangkan Capres/Cawapres kita makan daging (maksudnya uang) rakyat.

Pada masa Soemanto dengan budayawan tadi, pamflet pamflet politik produk budayawan Yogyakarta: Kita Bersatu Padu Memilih yang. Keliru dengan partai pendukung utamanya  PRTB (Partai Republik Tulang Belulang). Sekarang tahun 2018 pamflet yang viral yaitu: Kita Bersatu untuk Ganti Presiden dengan partai pendukungnya, Partai Amanat Machsiafelis (PAM).

Siapa saja bisa jadi Capres/Cawapres maupun Caleg. Bisa narapidana, bisa koruptor, bisa orang-orang minus moral, bisa orang orang afkir, bisa preman berjubah atau preman berdasi, bisa orang yang selalu gagal tanpa melihat  rekam jejak dan integaritasnya. Untuk mempermudah pencapaian tujuannya dilakukan dengan segala cara antara lain; berbagai fitnah, bohong, adu domba, kebencian, uang dst. Yang penting tujuan tercapai walaupun melabrak rambu-rambu agama. Yang lebih viral lagi dengan mengangkat isu agama dan isu-isu lain yang sudah basi. Isu agama dengan menggunakan ayat ayat perang.

Rasulullah memang memakai ayat ayat tersebut ketika perang melawan kafir Quraisy, karena memang suasananya perang. Apa kita sekarang sedang perang. Kita hanya memilih pemimpin lima tahunan (Pemilu) bukan perang. Habis Pemilu ya selesai dengan pemenangnya rakyat Indonesia. Padahal mereka mengaku tokoh-tokoh Islam dengan partai Allah. Sayangnya kekurangtahuan masyarakat luas  dimanfaatkannya, padahal jelasIjelas  bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Harusnya malu karena melakukan pembodohan atas dasar kebencian dan iri semata. Ingin merebut kekuasaan secara menggebu-gebu dengan cara yang tidak etis. Tujuan yang baik jika dilakukan dengan tidak baik maka hasilnya tentu tidak baik.

Disinilah persamaan capres/cawapres sungguhan dan Capres/Cawapres jadi-jadian, yaitu sama sama mencari kemuliaan dan kekuasan. Kalau Soemanto realitasnya makan daging manusia mati, sebagian elit politik saat ini yang haus kekuasaan, realitas dan faktanya hanya ingin memakan uang rakyat dengan segala dalih dan cara, kalau bisa dengan jalan pintas atau instan.

Orientasi mereka hanya menjual janji, dimana mottonya: Janjikan dan Lupakan. Setelah terpilih mereka tak ubahnya seperti Soemanto yang mencari jalan pintas untuk meraih kekuasaan. Semoga cerita singkat Soemanto ini menjadi renungan kita untuk waspada dengan harapan akan tampil nanti Capres, Cawapres dan Caleg sungguhan, bukan jadi-jadian. Wallahu a’lam.***

Drs H Iqbal Ali, MM adalah Ketua STISIP Persada Bunda 2008-2016 dan Ketua Dewan Pembina IKMR Provinsi Riau