KAMIS (11/4) kemarin, adalah hari bersejarah bagi calon presiden Prabowo Subianto. Hatinya seketika megah bagai bunga Manggar yang sedang mekar. Bahkan air mata tampak bergulir di pipi Prabowo.

Pasalnya, Capres nomor urut 02 itu dikunjungi UAS (Ustaz Abdul Somad) di sebuah tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kampanye.

Prabowo memang tak sempat menyembunyikan haru hatinya. Seketika dia jadi terbata-bata saat bicara dengan UAS. Prabowo yang biasa bicara lancar dan galak dalam kampanye, kemarin lebih banyak bertanya dan diam. Bahkan terkadang tangannya mengaturkan sembah pada UAS. Sebaliknya UAS, seperti biasa, melakukan tausiah khusus dengan cara yang sangat cerdas dan sopan.

Ini adalah pertemuan pertamakali antara UAS dan Prabowo. Konon dulu, UAS pernah diundang Prabowo ke rumahnya. Ketika itu, para ulama 'berijtimak' agar Prabowo menjadikan UAS sebagai Calon Wakil Presiden, untuk mendampinginya. Tapi dengan halus UAS menolak datang. Alasannya sederhana saja, dia memang tidak berminat dan ibunya juga melarang dia menjadi wakil presiden.

Ada berapa hal penting yang dibicarakan dua publik figur itu. Tapi UAS yang lebih banyak bercerita dengan gayanya yang khas. Sementara Prabowo tampak menyimak serius. Di akhir pembicaraan, UAS memberikan dua buah kenangan untuk Prabowo; sebotol minyak wangi dan seuntai tasbih. ''Ini tasbih kesayangan saya. Pakailah agar selalu mengingat Allah,'' kata UAS. Lalu UAS menutup pertemuan dengan membacakan doa.

Sebenarnya, pertemuan ini hanya kunjungan silaturahmi biasa saja. Ini adalah pencerminan dari niat baik UAS untuk menyampaikan apa yang dia rasakan dan alami tentang Prabowo Subianto selama ini. Apalagi dulu dia tak sempat memenuhi undangan Prabowo. Tapi menjelang shalat Maghrib kemarin, tvOne secara eksklusif menyiarkan dua kali pertemuan itu. Sontak Indonesia menjadi geger dan riuh. Perjumpaan ini, jadi pembicaraan dimana-mana. Mulai warung kopi sampai istana kepresidenan, pertemuan tersebut jadi bahasan utama. Peristiwa ini bahkan dengan cepat melesat menjadi hal yang sangat luar biasa.

Saluran tvOne yang kemudian diunggah videonya di media sosial, hingga Jumat pagi, sudah ditonton lebih dari 3,3 juta orang. Sebanyak 900 ribu lebih yang mengacungkan jempol dan sekitar 158 ribu menyatakan tidak suka. Komentar pun muncul dari mana-mana; di koran, on-line, media sosial, media audio visual, tak berhenti seperti air mengalir.

Dalam video yang dirilis tvOne petang kemarin, dialog dimulai dengan pertanyaan Prabowo tentang apa yang harus dia lakukan sebagai calon pemimpin negara bila mendapat amanah rakyat pada 17 April mendatang. UAS menjawab dengan singkat dan tegas, bahwa Prabowo harus berpihak kepada rakyat dan bertindak dengan nilai-nilai kebenaran. Juga, Prabowo mestilah menjadi pemimpin yang dapat menjaga amanah. ''Bapak didukung Ijtima Ulama. Umat juga menyambut baik. Ini amanah di pundak bapak. Bapak harus adil. Lihatlah semua dengan keadilan,'' kata UAS.

Kemudian UAS juga bercerita, bagaimana di banyak tempat ketika dia berceramah, banyak jamaah yang mengacungkan dua jari sebagai tanda dukungan kepada Prabowo. Kata UAS, hal ini membuat dia kurang nyaman, karena setiap ceramah selalu ada pengawas pemilu. Tapi itulah kenyataan yang dia hadapi. Mulai dari Aceh sampai ke Sorong, jemaah yang mengacungkan dua jari, selalu saja terjadi, bahkan ketika UAS mengajak mereka bershalawat nabi.

Juga, awalnya UAS tidak ingin menentukan sikap untuk dukung mendukung calon presiden dan wakilnya, meski sudah ada Ijtima Ulama. Tapi dorongan untuk bertemu dengan Prabowo dan menyampaikan pesan beberapa orang, semakin kuat. Karenanya, dalam beberapa kesempatan dia berusaha mencari tahu kepada ulama sufi yang tidak punya kepentingan apapun dengan politik dan pilpres. Salah seorang ulama yang tak populer namun memiliki mata batin yang bersih, mengatakan bahwa dia bermimpi lima kali dengan seseorang. Dan orang itu adalah Prabowo.

''Ketika salaman, dekat telinga saya, ulama itu membisikan nama; Prabowo. Itu dia sebut. Ulama-ulama yang tak dikenal, karena hebatnya di masyarakat. Bukan yang viral seperti saya. Jadi saya berpikir lama, ini kalau saya diamkan sampai Pilpres, kenapa mereka cerita ke saya? Tiap malam saya berpikir kenapa mereka cerita ke saya. Berarti saya harus sampaikan. Kalau tidak ini akan jadi penyesalan seumur hidup,'' jelas UAS.

Menurut UAS, inilah yang mendorong dirinya bertemu Prabowo dan menyampaikan semua pesan umat dan ulama. Dan setelah pertemuan ini, semuanya diserahkan kepada keputusan Allah SWT. ''Malam ini saya bisa tidur lelap,'' tambahnya sembari tersenyum lepas.

Hal lain yang menarik dari pertemuan ini, ketika UAS menyampaikan dua permintaan apabila Prabowo memenangkan pemilihan presiden. Pertama, jangan mengundang dia ke istana dan yang kedua jangan dia diberi jabatan apapun. Permintaan ini (bisa jadi) membuat Prabowo gundah dan gulana. Tapi UAS menyampaikannya dengan sungguh-sungguh.

''Kalau Bapak duduk jadi presiden, terkait saya pribadi, dua saja. Pertama, jangan Bapak undang saya ke istana. Biarkan saya berdakwah, bahkan sampai masuk ke hutan. Karena memang dari awal saya orang kampung, saya (sering) masuk ke hutan-hutan. Kedua, jangan Bapak beri saya jabatan, apa pun,'' tegas UAS.

Syahdan, itulah hasil pertemuan yang sudah menjadi buah mulut hinggakan pagi ini. Pertemuan yang secara tersirat maupun tersurat, menunjukkan bahwa sikap UAS sudah jelas; patuh pada Ijtima Ulama dan memberikan dukungan untuk Prabowo Subianto yang berpasangan dengan putra Riau, Sandiaga Salahuddin Uno.

Wajar saja jika Prabowo sampai meneteskan air mata. Bahkan tak sedikit pula sebagian masyarakat, relawan dan Tim Pemenangan Prabowo-Sandi tak dapat menahan tangis haru. Karena dukungan UAS ini, diperkirakan menjadi pemantik yang sangat berarti bagi suksesnya Prabowo menuju Indonesia-1. Sebab UAS memang menjadi panutan dan kata-katanya ditakzimi jutaan umat di tanah air.

Banyak yang percaya tak akan ada yang berani mempersekusi atau memperundungan (membully) UAS karena sikapnya itu. Karena setiap orang dan seluruh rakyat Indonesia mempunyai pilihan masing-masing. Pilihan yang merupakan hak setiap warga negara. Dan pilihan UAS sudah ditunjukannya; Prabowo Subianto.

Banyak masyarakat menilai, tentu UAS tidak akan gegabah menentukan sikap atau pilihan. Dia pasti sudah "berhitung" atas azas manfaat dan mudharat atas suara hatinya. Selain itu, bisikan nurani, suara umat, serta suara ulama-ulama hanif yang ditemuinya, memang lebih besar mengarah kepada pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno.***

H Dheni Kurnia adalah Pemimpin Redaksi Harian Vokal dan Ketua DKP PWI Riau.