BAGANSIAPIAPI - Jembatan Pedamaran 1 dengan panjang 1.070 meter dan jembatan pedamaran II sepanjang 1.480 meter masih berdiri kokoh membentang diatas sungai Rokan di Kepenghuluan Labuhan Tangga Hilir Kecamatan Bangko Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Sejak diresmikan pada tanggal 21 Juni 2016 kemarin, masyarakat yang berada di Kecamatan Kubu, Pekaitan dan Pasir Limau Kapas sudah merasakan manfaat atas keberadaan jembatan itu untuk mempermudah akses menuju ke Ibukota Kabupaten Rokan Hilir di Bagansiapiapi.

Bupati Rokan Hilir, Suyatno.A.Mp mengatakan, akses yang selama ini menjadi hambatan masyarakat untuk memobilisasi sumber daya alam didaerahnya, sudah terbuka dan jarak tempuh juga bisa dipersingkat.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/20082016/padamaran1-5072.jpg

''Melalui jembatan ini, kita bisa menuju ke Dumai, Kubu, Sungai Daun, Penipahan dan Sumatera Utara dengan waktu yang sangat singkat dari biasanya. Coba bayangkan, dari Bagansiapiapi menuju Sumut bisa ditempuh hanya dalam waktu dua jam,'' kata Suyatno.

Daerah pesisir yang berada di pinggiran sungai Rokan, kata Suyatno, juga akan bebas dari keterisoliran. Jarak tempuh ke Bagansiapiapi bagi warga yang berada di pesisir sungai, sebelumnya menggunakan pompong (perahu berat dibawah 3 ton). Hampir tiap tahun terjadi kemalangan karena dihantam kerasnya bono yang melewati dipesisir sungai Rokan .

''Kita tidak menginginkan kejadian itu terulang kembali, maka perlu dibangun jembatan,'' ungkapnya.

Dia menambahkan, kehidupan masyarakat yang berada di pinggiran sungai Rokan sangat memprihatikan. Tertutupnya akses jalan serta jarak tempuh yang sangat jauh, membuat komunikasi serta sumber daya alam hanya berputar ditempat itu saja. Contohnya, masyarakat di Sungai Daun, Kubu, dan Pasir Limau Kapas. Wilayah yang sulit dijangkau juga rentan akan terjadinya perdagangan narkoba dan masuknya teroris di Rokan Hilir.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/20082016/padamaran2-5071.jpg

''Kemarin jaringan Nurdin M Top sudah masuk di wilayah Rohil. Itu merupakan salah satu penyebab terbatasnya akses ke desa terpencil sehingga memudahkan teroris menyelinap di daerah ini,'' cetusnya.

Suyatno menyebutkan, masyarakat tidak perlu ragu dengan kekuatan kontruksi jembatan. Selain ditopang dengan kabel stayed, jembatan ini juga sudah diuji dengan kendaraan pengangkut aspal dengan berat mencapai 100 ton.

''Ternyata tidak berpengaruh terhadap ayunan jembatan,'' ungkapnya. Kabel itu akan mengikuti seirama dengan beban yang lewat karena disana terdapat empat palent untuk menahan berat beban yang lewat. (adv)