RENGAT, GORIAU.COM - Kekayaan alam yang melimpah, APBD yang besar dan banyaknya perusahan, tidak selalu identik dengan kemakmuran dan kesejahteraan. Salah satunya bisa dilihat dari potret pendidikan di Indragiri Hulu, khususnya di daerah yang dihuni suku Talang Mamak, yang merupakan suku asli daerah tersebut.


Untuk bersekolah, anak-anak Talang Mamak harus menempuh perjalanan satu hingga dua jam. Melewati tepian dan ladang yang panas serta berbahaya. Ya begitulah, nasib suku Talang Mamak, Indragiri Hulu.


Bagaimana kisah pendidikan suku Talang Mamak di Inhu, berikut tulisan yang dikirimkan oleh Safrizal Hasbi, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Universitas Islam Negeri Suska Pekanbaru yang bergabung dalam komunitas Mengajar Jilid II.


Pendidikan Pedalaman Tak Seindah Alamnya

Ads

Semua orang tahu bahwa Riau adalah negeri yang kaya, di atas dan di bawahnya terkenal dengan pasokan minyak dunia dalam skala besar. Namun sangat menyedihkan saat kita melihat potert orang-orang yang ditinggalkan (pedalaman) sebut saja suku Akit, Bonai, Sakai, Laut, Talang Mamak.


Perjalanan kali ini saya bersama-sama sahabat para pengajar muda di komunitas UIN Suska Mengajar Jilid II di Desa Rantau Lansat, Kec. Batang Gansal, Inhu, menemukan berbagai persoalan dalam dunia pendidikan, tepatnya di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT).


Kawasan TNBT yang tergolong asri dan sering dijadikan sebagai objek wisata pemandian, arung jeram, sepeda gunung, goa, benen apung, air terjun serta beberapa wisata alam yang disuguhkan dalam satu kawasan, taklah seindah pendidikan yang diterima generasi mudanya.


Keindahan alam di desa ini, tak sebanding dengan kondisi pendidikan yang menyedihkan. Ternyata di provinsi ''kaya'' ini masih ada anak-anak yang pergi sekolah berjalan kaki berjam-jam melewati hutan, melawan arus Sungai Batang Gansal, dan itu mereka lakukan hampir setiap hari.


Belum lagi bicara soal minimnya faktor pendukung proses belajar mengajar. Tenaga pengajar sangat kurang. Kita tak tahu, bagaimana mereka mempertanggungjawabkan komitmen sebagai guru saat mengucapkan sumpah yang di janjikan oleh para abdi negara ini (siap ditempatkan dimana saja).


Hanya Ada Beberapa Sanggar Belajar


Di kawasan ini ada beberapa sanggar belajar desa tersebut yang masih belum disentuh dan mendapat bantuan. Para pelajar hanya menggunakan peralatan sekolah seadanya. Bangunan sekolah yang tidak layak dan serba minim.


Kawasan TNTN memiliki beberapa sanggar belajar, diantaranya Sanggar Belajar Dusun Datai. Sanggar Belajar Datai ini di bangun tahun 2004. Bangunannya hanya berdinding bambu. Atapnya terbuat dari daun rumbia. Bangungan sesederhana ini masih sangat bermanfaat bagi masyarakat sini. Malu rasanya jika harus bicara soal lantai semen.


Disini hanya ada papan dua lembar sebagai meja dan kursi. Mungkin takkan pernah ada meja yang bagus bagi mereka. Belum lagi bicara soal tenaga pendidik yang mumpuni. Ini patut memprihatinkan.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/16102014/sanggar-2j-1475.jpg
Sanggar Belajar Sadan.

Untung saja ada tokoh-tokoh masyarakat masih berbaik hati. Merekalah yang memberi motivasi sehingga anak-anaknya bisa membaca dan menulis. Dengan bergotong royong, mereka membangun sanggar belajar ini, serta mencari guru yang bermurah hati mau mengajar di sana.


Selama ini, hampir tak ada guru yang mau mengabdi di Dusun Datai sebab aksesnya sulit, juga soal rendahnya gaji yang ditawarkan oleh Kepala Desa waktu itu. Bersyukur mereka sedikit dibantu dari pihak TNBT dan PKHS serta beberapa LSM yang ada di sana.


Sampai tahun 2014, bangunan tak layak itu masih menjadi tempat belajar bagi generasi harapan bangsa di sana. Walaupun sudah kurun 10 tahun, bangunan sanggar belajar ini hanya mengalami perubahan menjadi dinding papan.


Selain itu, ada Sanggar Belajar Dusun Sadan. Sanggar Belajar Sadan ini dibangun pada tahun 2007. Kondisinya masih tergolong baik sedikit dibandingkan dengan dusun-dusun lainnya. Bangunan yang berdindingkan papan dan atap seng ini menjadi sanggar belajar yang terbaik di desa tersebut. Walaupun masih berlantai tanah dan dengan meja belajar 2 lembar deretan papan untuk di jadikan ruang tempat belajar bagi mereka.


Sanggar yang dibangun dari swadaya masyakarakat dan bantuan dari PKHS (Program Penyelematan Harimau Sumatra).


Bicara soal tenaga pengajar kadang kala pergi tanpa pesan yang mengakibatkan proses belajar mengajar tersendat. Sedikit memalukan di provinsi kaya ini ketika salah satu televisi nasional membuat suatu acara Indonesia Eps Suku Talang Mamak.


Selain itu, juga ada Sanggar Belajar Sadan. Sanggar ini berada di lingkungan alam dan beberapa objek wisata. Dusun ini sungguh menarik untuk para pecinta alam. Tapi pendidikan yang bisa mereka nikmati sangat menyedihkan. Anak-anak di Dusun Suit juga belajar ke Dusun Sadan.


Perjalanan yang di tempuh oleh anak-anak di Dusun Suit ini memakan waktu 1-2 jam di dalam belantara hutan kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh.


Dan ada juga Sanggar Belajar Dusun Nunusan. Sanggar belajar Dusun Nunusan di bangun pada tahun 2010. Jika dibandingkan dengan Sanggar Datai yang sudah di renovasi sekarang sehingga lebih baik dari sebelumnya. Sementara untuk Dusun Nunusan ini masih menggunakan dinding papan dan beratapkan terpal. Mungkin sanggar yang masih saat ini butuh bantuan dan uluran bagi para-para donatur ada.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/16102014/sanggar-3j-1476.jpg
Salah satu kegiatan mahasiswa antropologi, Unimed dan di temani oleh beberapa alumni pengajar muda komunitas UIN Suska Mengajar.

Padahal murid yang belajar tergolong cukup banyak di masing-masing. Jumlah murid yang ada di masing-masing cukup tergolong banyak, mungkin dari beberapa sanggar yang ada tenaga pengajar memang menjadi kebutuhan dasar bagi mereka untuk mendapat ilmu pengetahuan dan serta bisa mengembangkan potensi dimiliki.


Dan ada juga Sanggar Belajar Dusun Benganyauan. Sanggar belajar Dusun Benganyauan masih dalam tahap proses pembangunan. Lokasi yang berjalan kaki 1 jam dari pusat desa (dusun lemang) ini akan di bangun dengan berdindingkan kulit pohon sungkai dan beratapkan daun rumbio ini. Menjadi dorongan dan empati untuk membantu sekolah ini dibangun, bukan hanya pembangunan tapi, bantuan alat-alat tulis menjadi faktor penunjang bagi mereka di sana. Padahal alam wisata yang ada disana luar biasa, lokasi untuk sepeda gunung, air terjun, pemandian tebat, goa harimau serta lainnya menjadi pemandangan yang baik untuk dikunjungi sembari kita menengok dan menyapa generasi-generasi yang menanti sambutan tangan dari kita semua.


Salah satu kegiatan mahasiswa antropologi, Unimed dan ditemani oleh beberapa alumni pengajar muda komunitas UIN Suska Mengajar. Permasalahan ini adalah tugas kita bersama. Seharusnya orang Riau malu karena masih berdiam diri melihat anak-anak yang butuh keadilan.


Itulah kondisi pendidikan anak-anak Talang Mamak, Riau. Dengan semangat ingin mengubah hidup lewat pendidikan yang lebih baik, mereka rela berjalan 1-2 jam menuju sanggar-sanggar belajar yang memiliki tenaga pendidik sukarela tanpa mengharap gaji apalagi tunjangan. Riau memang kaya, tapi kita perlu daya juang untuk hidup lebih sejahtera secara bersama-sama dan bukan hanya milik segelintir orang. ***

Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan sumbangan Safrizal Hasbi, dari Jurusan Teknik Elektro, UIN Suska Mengajar Jilid II.