PEKANBARU, GORIAU.COM -Gubernur Riau H Annas Maamun meminta maaf kepada para wartawan bila selama ini ada sikapnya yang dinilai kasar dan tidak mendukung tugas wartawan.


Permintaan maaf tersebut disampaikan Annas Maamun dalam acara silaturahmi dengan puluhan pemimpin media massa dan pengurus organisasi wartawan, Jumat (2/5/2014) malam, di kediaman Gubernur Riau di Jalan Diponegoro, Pekanbaru.


Hadir pada acara tersebut mantan Ketua DPRD Riau yang juga tokoh masyarakat Riau drh H Chaidir, MM, Ketua PWI Riau H Dheni Kurnia, Ketua SPS Riau Dr H Syafriadi, Ketua Komisi A DPRD Riau Bagus Santoso, Pemimpin Redaksi GoRiau.com yang juga Majelis Etik AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Pekanbaru Hasan Basril dan sejumlah pejabat Pemprov Riau.


"Saya minta maaf bila selama ini ada sikap saya yang dinilai kasar atau tidak mendukung tugas wartawan. Saya tidak pernah memusuhi wartawan, hanya wartawan saja yang kadang-kadang memberitakan saya kurang baik," kata Annas sambil tersenyum dan disambut tawa hadirin.


Menurut Annas, hubungannya dengan wartawan baik-baik saja, namun di media massa diberitakan kurang baik, bahkan diberitakan, mengusir wartawan. "Dulu, waktu musim kabut asap, di Lanud Roesmin Nurjadin, saya memang sempat jengkel dengan wartawan, tapi tak ada saya mengusir wartawan. Yang menghalau wartawan tu kan Danrem. Kalau saya mana berani mengusir wartawan," kata mantan Bupati Rokan Hilir itu, yang kembali memancing tawa hadirin.


Annas mengatakan, untuk membangun Riau dirinya memerlukan dukungan dari semua pihak, termasuk dari media massa. "Kalau terus diberitakan buruk tentu dukungan kepercayaan dan dukungan masyarakat terhadap kita akan lemah. Jadi, kita harapkan media juga memberitakan yang baik-baiklah," harapnya.


Sementara Chaidir, yang diminta memberikan sambutan, mengingatkan, pers merupakan pilar demokrasi keempat, setelah eksekutif (pemerintah), legislatif dan yudikatif. Karena itu, harus ada kerja sama yang baik antara keempat pilar, termasuk antara pemerintah dengan pers untuk menegakkan demokrasi.


"Celakanya, selama ini di masing-masing pilar tersebut ada mafianya, sehingga tidak bisa berfungsi seperti harapan masyarakat," kata Chaidir.


Menurut Chaidir, kebebasan pers di Indonesia saat ini sangat luar biasa, bahkan melebihi kebebasan pers di Amerika Serikat. "Kebebasan pers yang sangat luar biasa ini harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial. Kalau tidak, maka pers tidak akan bisa menjalankan perannya sebagai pilar demokrasi," sambung Chaidir. (hsn)