PEKANBARU - ‎Sebanyak 9 jenazah ditemukan mengapung di Perairan Selat Malaka, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Seluruh jenazah membusuk dan sulit dikenali. Bahkan sidik jari jasad tidak bisa diambil karena kondisi mayat sudah rusak atau membusuk.

‎"Sulit dikenali wajahnya, sidik jari juga tidak bisa diambil karena sebagian besar kondisi mayat telah rusak‎," ujar Kasubbid Pelayanan Medis Kedokteran Kepolisian RS Bhayangkara Polda Riau, Kompol Supriyanto, Selasa (4/12).

Supriyanto menyebutkan, tim medis kepolisian menggunakan cara lain untuk mengidentifikasi mayat-mayat tersebut. Tak hanya dari tubuh, tapi juga dari barang-barang bawaannya.

"Secara umum, korban teridentifikasi dari data propertis, seperti pakaian, gelang dan juga data medis. Ada juga tanda lahir dari bagian tubuh jenazah," kata Supriyanto.

Dia menyebutkan, 9 jenazah tersebut diperkirakan sudah lebih dari sepekan mengambang di laut Selat Malaka. Itu dilihat dari kondisi mayat yang sebagian besar sudah membusuk.

"Estimasinya mayat itu sudah lebih dari 1 minggu‎, karena dilihat dari kondisinya," kata Supriyanto.

Jika cara itu juga tidak ampuh, tim medis melakukan jurus terakhir. Yaitu dengan mengambil sampel DNA dan susunan gigi jenazah. Itu pun mesti dicocokkan dengan keluarganya.

"Ini langkah te‎rakhir. Kita juga temukan data sekunder seperti propertis dan medis. Bisa luka bekas operasi, tato dan lainnya," ucap Supriyanto.

Adapun tiga jenazah yang sudah diidentifikasi yaitu Ujang Chaniago (48), warga asal Lubuh Nyiur, Dusun V Koto Mudiek Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Kedua, Mimi Dewi (32), warga Jalan Lansano Kelurahan Taratak, Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat. Serta jasad Marian Suhadi (24), warga asal ‎Desa Pantai Cermin, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. (gs1)