JAKARTA - Perjalanan panjang telah ditempuh Sambu Group, yang pada 5 Desember 2019 genap berusia 52 tahun, bermain dalam bisnis kelapa terintegrasi di Indragiri Hilir, Riau.

Perusahaan yang didirikan oleh Tay Juhana pada 1967 ini kini telah menjadi pemain terbesar di industri kelapa terintegrasi di Indonesia, dan bertekad untuk menjadi pemain utama dunia di industri ini.

Produknya, berupa santan dengan merek Kara, minuman air kelapa Kara Coco, sari buah, telah diekspor ke banyak negara di dunia. Perusahaan ini juga merambah ke bisnis biskuit.

Selain di Jakarta, tepatnya di Hotel Aston, Pluit, Jakarta Barat, perayaan ulang tahun Sambu Group ke-52 ini juga diselenggarakan di unit produksi PT Pulau Sambu di Kuala Enok dan Guntung, serta PT RSUP (Riau Sakti United Plantation) industri dan RSUP perkebunan, Indragiri Hilir, Riau.

Hadir pada acara yang diselenggarakan di Hotel Aston, Pluit, Jakarta, selain para karyawan Sambu Group Jakarta, juga para mitra bisnisnya.Acara ulang tahun tersebut mengambil tema: Integrasi Bersinergi.

H. Yaya, Wakil General Manager Sambu Group, menjelaskan, tema tersebut diambil untuk mendorong peningkatkan efisiensi, dan itu bisa disinergikan antara unit-unit di Grup Sambu.

Menengok ke belakang, pada 1967, setelah melalang buana di pulau Sumatera, terutama di daerah Kuala Tungkal, Jambi, Indragilir, Riau, sebagai pedagang kopra, Tay Juhana, yang ketika itu berusia 29 tahun, memutuskan untuk mendirikan PT Pulau Sambu di Desa Tanah Merah, Kuala Enok, Indragilir, Riau. Ia melihat, di wilayah Indragiri Hilir (Inhil) begitu banyak perkebunan kelapa rakyat yang sesungguhnya bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakat sekitar.

Namun di sisi lain, dia juga merasa prihatin karena ada masalah yang dilihatnya, yakni pemanfaatan buah kelapa yang belum maksimal. Kalau tidak dijual kepada pedagang lepas, atau diijonkan kepada tengkulak, mayoritas buah kelapa itu hanya diolah secara tradisional menjadi kopra.

Padahal, dia tahu persis buah kelapa dapat diolah secara modern menjadi beberapa produk turunan mulai dari minyak kelapa sampai santan sehingga memiliki nilai tambah yang lebih tinggi.

Menurutnya, jika tidak dibuat sebuah terobosan, maka lambat laun, perkebunan kelapa itu bisa tak terurus secara optimal karena tiadanya nilai tambah yang signifikan selain sekadar menjadi komoditas. Penduduk akan pergi ke kota-kota, lantaran merasa kesejahteraannya tidak bisa ditopang kebun kelapanya.

Melihat hal tersebut, Tay Juhana punya keyakinan bahwa sesungguhnya pohon kelapa adalah kekuatan wilayah sekitar Inhil serta meyakini pohon-pohon ini bisa membuat kehidupan petani serta masyarakat setempat jauh lebih sejahtera. 

Dia juga merasa bisa berbuat lebih banyak daripada sekadar menjadi pedagang kopra yang sifatnya datang dan pergi (beli kopra dari petani, lalu meninggalkan mereka untuk menjualnya di tempat lain). Pendeknya, dia melihat dua sisi: dimensi sosial dan ekonomi yang bisa berjalan beriringan dengan alam.

Maka, lelaki kelahiran Singapura ini mengembangkan model bisnis yang sekarang populer dengan sebutan social entrepreneur yang berkelanjutan. Dia tinggal di sana, di sekitar komunitas para petani, lalu berbisnis dengan cara menerima serta membeli buah kelapa mereka dalam bentuk apapun, untuk kemudian diolah menjadi produk yang bernilai tambah lewat pabrik yang didirikannya di tengah-tengah perkebunan kelapa milik rakyat. Jadi, melalui PT Pulau Sambu, dia mengambil posisi sebagai pihak industri yang bertindak sebagai buyer dan manufacturer dari para pemasoknya, lalu menyediakan segala resources yang dibutuhkan untuk pengolahan buah kelapa.

Kini, di tangan generasi dua, Sambu Group tetap konsisten menerapkan nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh orang tua mereka. “Kami terus menjalankan nilai-nilai yang telah dikembangkan pendiri Grup Sambu,” Tay Enoku menegaskan. Tentunya, dikembangkan sesuai dengan perubahan yang ada.     

Ia menambahkan, sustainability adalah prinsip yang dipegang Sambu Group salam menjalankan bisnis. Untuk itu, perusahaan ini membangun ekosistem dalam industri kelapa terintegrasi agar semua pemangku kepentingan bisa berkembang bersama Sambu Group. “Dengan cara itu, sustainability bisa diwujudkan,” ungkap Enoku.

Menurut Enoku, Sambu Group bisa bertahan sampai sekarang dan tumbuh ini karena peran besar petani juga. “Mereka merupakan bagian dari Sambu Group dan telah terjalin hubungan yang saling ketergantungan,” ujarnya.  

Yaya percaya, di tangan generasi kedua, Sambu Group akan terus berkembang. Menurutnya, orang tua mereka mampu mewariskan nilai-nilai yang telah dikembangkan di Sambu Group dengan baik. Mereka pun memiliki kemampuan untuk membawa perusahaan ini sebagai salah satu pemain utama dunia di industri kelapa terintegrasi. ***