PALEMBANG – Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Sumatera Selatan, U (19), harus menjslani perawatan di rumah sakit setelah menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh sekitar 10 orang seniornya.

U dianiaya para seniornya saat kegiatan pendidikan dasar (diksar) di Bumi Perkemahan Gandus, Kota Palembang.

Dikutip dari Kompas.com, Mai, ibu korban, mengatakan, wajah anaknya babak belur dan terdapat luka akibat sundutan rokok.

''Kondisi anak saya saat ini jidatnya bengkak, telinga biru semua, mata bengkak, ada sudutan rokok di muka, kedua lengan biru, dan ada banyak bekas jotos di kepala,'' ujar Mai, Minggu (2/10/2022) dikutip dari Sripoku.

Mai mengatakan, atas kejadian tersebut, U sampai mengalami kondisi psikis yang buruk sehingga berniat tidak ingin melanjutkan perkuliahan.

''Karena kasus ini anak saya jadi kepikiran untuk putus kuliah. Parahnya saat kejadian U, sampai ikut ditelanjangi oleh pelaku,'' sambungnya

Akibat tak tahan atas rasa sakit yang dirasakan U, akhirnya Mai memutuskan untuk membawa anaknya ke Rumah Sakit Hermina di Jakabaring Palembang, Minggu siang.

''Tadi siang (Minggu) kami larikan ke rumah sakit dan dia (U ) masih belum bisa dibesuk dulu. Jujur, dari semalam saya terus-terusan menangis bila membayangkan saat anak saya diperlakukan seperti binatang, biadab sekali mereka,'' ujar Mai.

Sementara, Polsek Gandus membenarkan adanya penganiayaan mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang di Bumi Perkemahan Gandus, Palembang.

U mengalami luka lebam di mata, bibir bengkak, dan kedua tangan biru karena penganiayaan tersebut.

''Benar adanya kejadian itu dan telah dilakukan perdamaian dengan didampingi orangtua dan kakak korban ZL (21) serta panitia,'' kata Kapolsek Gandus Palembang, AKP Wanda Dhira Bernard, Senin (3/10/2022).

Penganiayaan ini, kata dia, terjadi akibat adanya kesalahpahaman internal dalam organisasi mereka.

''Jadi sudah ada surat pernyataan antara kedua belah pihak yang kita saksikan bersama pihak keluarga hingga panitia setempat,'' kata dia.

Sementara itu, kakak kandung korban, ZL, mengatakan, U bukanlah mahasiswa baru (maba), melainkan mahasiswa semester 3 Jurusan Ilmu Perpustakaan.

Adiknya dituduh membocorkan rahasia internal organisasi yang diikuti.

''Adik saya panitia konsumsi di diksar itu,'' ujarnya saat dihubungi awak media, Senin (3/10/2022).

Kata ZL, adiknya mengalami kekerasan oleh sesama panitia setelah membocorkan dugaan pungli yang terjadi dalam diksar tersebut.

Adiknya lalu dianiaya oleh orang yang diperkirakan lebih dari 10 orang.

''Apa yang adik saya bocorkan itu sesuai fakta. Diksar itu ada biaya Rp300.000, mencakup keseluruhan. Tapi setiap peserta masih diminta sembako. Adik saya membocorkan rahasia itu ke teman-temannya yang pembela kebenaran. Rupanya ketahuan oleh orang-orang sesama organisasi (panitia diksar),'' ujarnya.

Akibat kejadian itu, korban mengalami sejumlah luka di bagian tubuh hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

ZL mengatakan, keluarga juga sudah melakukan visum untuk memperkuat bukti adanya tindak kekerasan.

''Matanya lebam, satu biru dan satu merah. Bibirnya bengkak, dagunya kena sudutan rokok. Tangannya dari bahu sampai pergelangan tangan juga biru semua,'' ujarnya.

Terkait kabar bahwa kasus ini akan diarahkan ke mediasi, ZL mengaku belum mengetahui hal tersebut.

Meski demikian, dia sangat berharap adanya ketegasan dari pihak kampus kepada pelaku kekerasan adiknya.

''Awalnya adik saya cuma bilang ada kekerasan fisik. Tapi setelah divisum, rontgen, rupanya parah tindakan mereka. Intinya kami meminta tanggung jawabnya. Semoga universitas bisa kooperatif dan kampus bisa kasih setimpal dengan apa yang adik saya alami,'':ujarnya.

Sementara itu, hingga berita ini ditayangkan, belum ada perwakilan UIN Raden Fatah Palembang yang bersedia memberikan komentar.***