JAKARTA - Sempat terpantau pada kategori tidak sehat, kualitas udara Pekanbaru, Riau kembali baik pada hari ini (10/8), pukul 17.00 WIB.

Dilihat dari parameter PM10, kualitas udara Pekanbaru, Riau pada parameter 150 – 250 atau tidak sehat.

Hal ini diungkapkan Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, kepada wartawan, Sabtu (10/8/2019) malam.

"Sementara untuk kualitas udara di Palangkaraya, Kalimantan Tengah terpantau tidak sehat sekitar pukul 12.00 WIB. Selanjutnya pada pada sore ini sekitar pukul 17.00 WIB, kualitas udara menunjukkan pada parameter 50 – 150 atau sedang," ujarnya.

Partikulat atau PM10 kata Dia, merupakan partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron (mikrometer).

"Kualitas udara menjadi salah satu parameter keberhasilan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah. Sedangkan indikator lainnya yaitu, jarak pandang atau visibilitas, jumlah titik api, titik panas atau 'hotspot' dan jumlah penderita yang terkait dengan pernafasan seperti infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)," paparnya.

Pada parameter jarak pandang atau visibilitas yang terpantau pada pukul 19.55 WIB malam ini (10/8), visilibitas di Palangkaraya 5 km (berasap), Pekanbaru 7 km (cerah berawan), Jambi 9 km (berawan), Palembang, 10 km (berawan), Pontianak 1.5 km (berasap), Pangkalan Bun 6 km (cerah berawan), Palangkaraya 5 km (berasap), Baringin-Muara Teweh 2.5 km (berasap), Sanggu-Buntok 3 km (berasap), dan Banjarmasin >= 10 km (cerah).

"Hari ini sekitar pukul 15.00 WIB sempat terlihat asap akibat karhutla terdeteksi di Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur. Asap di Sumatera tidak memasuki wilayah Singapura dan Malaysia. Sementara itu, asap yang terpantau di wilayah Kalimantan memasuki wilayah perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak Malaysia, ada transboundary haze," tegasnya.

Data yang terpantau pada modis-catalog.lapan.go.id terpantau rekapitulasi jumlah titik panas per 10 Agustus 2019, pukul 18.00 WIB pada kategori sedang dan tinggi berjumlah 205 titik.

Adapun rincian titik panas dengan kategori sedang berjumlah 153 titik. Persebaran titik panas tersebut teridentifikasi di Bengkulu 4 titik, Gorontalo 4, Jambi 2, Jawa Barat 3, Kalimantan Barat 12, Kalimantan Selatan 2, Kalimantan Tengah 12, Kalimantan Timur 10, Kalimantan Utara 7, Lampung 10, Maluku 5, NTT 32, Riau 4, Sulawesi Barat 1, Sulawesi Selatan 8, Sulawesi Tengah 19, Sulawesi Tenggara 6, Sulawesi Utara 8, dan Sumatera Selatan 4.

Sedangkan pada kategori tinggi, sejumlah 52 titik tersebar di wilayah Kalimantan Barat 9 titik, Sumatera Selatan 7, Lampung 7, Kepulauan Babel 5, Sulawesi Tenggara 5, NTT 4, Kalimantan Tengah 3, Sulawesi Tengah 3, Kalimantan Tengah 3, Riau 2, Jawa Barat 1 dan Sulawesi Selatan 1.

"Menghadapi karhutla di wilayah-wilayah tersebut, personel gabungan bekerja keras untuk memadamkan api. Strategi pemadaman kebakaran dilakukan dengan pemadaman darat dan udara. Pemadaman darat dilakukan oleh tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api dan pihak swasta. Satuan ini didukung kekuatan udara seperti helikopter untuk pengeboman air, sedangkan satuan tugas penegakan hukum terus dilakukan oleh kepolisian," pungkas Agus Wibowo.***