JAKARTA -- Eks Bupati Kepulauan Talaud, Sri Wahyumi Maria Manalip, bebas dari bui pada Kamis (29/4/2021). Namun, di hari yang sama, Sri Wahyumi kembali ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dikutip dari detik.com, Deputi Penindakan KPK Karyoto mengatakan, KPK kembali menangkap karena Sri dikarenakan ada kelemahan pada sistem OTT (operasi tangkap tangan).

''Inilah salah satu kelemahan kalau kita melakukan OTT. Waktu itu kita punya batas waktu hanya 60 hari ya kemarin-kemarin. Ketika kita sedang melakukan penahanan orang, maka segera mungkin berkas perkara diselesaikan,'' kata Karyoto dalam konferensi pers di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (29/4/2019).

Dijelaskan Karyoto, saat itu KPK masih memiliki bahan-bahan lain terkait perkara untuk dikembangkan. Namun hal itu tertahan karena keterbatasan OTT.

''Nah pada saat itu sebenarnya masih banyak bahan-bahan yang bisa dikembangkan untuk dilihat perkaranya apa. Apakah dalam hal pengadaan barang dan jasa atau dalam hal apa,'' ujar Karyoto.

KPK baru bisa menemukan kasus korupsi lainnya pada Sri Wahyumi setelah melakukan pengembangan yakni dugaan gratifikasi Rp9,5 miliar.

''Nah yang ditemukan juga ya ini cukup signifikan yaitu Rp9,5 miliar rupiah yang kita dari perkara. Yang kedua itu salah satu kelemahan dari OTT,'' ujarnya.

Diketahui, Sri Wahyumi diduga menerima gratifikasi Rp9,5 miliar proyek pekerjaan infrastruktur di Kabupaten Kepulauan Talaud tahun 2014-2017.

''KPK meningkatkan perkara ini ke tahap penyidikan sejak September 2020 dan menetapkan tersangka SWM (Sri Wahyumi Maria Manalip) sebagai tersangka,'' ucap Deputi Penindakan KPK Karyoto dalam konferensi pers, Kamis (29/4).

Sri Wahyumi pun langsung ditahan KPK. Kasus ini merupakan pengembangan dari perkara dugaan suap dalam lelang pekerjaan revitalisasi Pasar Lirung dan pekerjaan revitalisasi Pasar Beo tahun 2019 yang sebelumnya juga menjerat Sri Wahyumi.

''Adapun uang yang diduga telah diterima oleh SWM sejumlah sekitar Rp9,5 miliar,'' ucap Karyoto.

Atas perbuatannya, Sri Wahyumi disangkakan melanggar Pasal 12 B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

''Perkara ini adalah kali kedua SWM ditetapkan sebagai tersangka. Meski secara waktu, perkara kedua ini lebih dulu dilakukan oleh SWM. Pengembangan perkara ini adalah salah satu dari sekian banyak contoh perkara yang berasal dari kegiatan tangkap tangan,'' kata Karyoto.***