’’Beberapa teman saya yang berasal dari luar Riau mengaku tertarik masuk PCR karena keberhasilan tim robot PCR. Mereka menjadikan keberhasilan tim robot PCR itu sebagai tolok ukur kualitas pendidikan di sini.’’

Andika Putra
Alumni Teknik Telekomunikasi PCR


''SEBELUM saya masuk ke Politeknik Caltex Riau (PCR) saya sudah mendapatkan banyak informasi soal berbagai keunggulan yang dimiliki kampus ini. Kebetulan abang kandung saya juga kuliah di PCR satu tahun lebih awal. Dia kuliah di program studi Teknik Komputer.


Begitu saya tamat di SMA Negeri Plus Provinsi Riau, saya tidak berpikir panjang lagi untuk langsung mendaftarkan diri ke PCR. Sebab, kampus ini telah mencetak banyak alumni yang siap pakai bahkan diperebutkan banyak perusahaan.


Saya masuk PCR pada 2004 di program studi Teknik Telekomunikasi (D3). Kelengkapan fasilitas penunjang untuk keperluan mahasiswa cukup baik. Ruang kelasnya juga sangat nyaman untuk kuliah. Biaya kuliah sangat seimbang dengan ilmu yang diperoleh. Orang tua saya yang hanya pensiunan PNS di Dumai juga tidak merasa berat.


Dibandingkan perguruan tinggi lain, PCR lebih mengutamakan praktikum dari pada teori. Dalam proses perkuliahan di PCR, 70 persen digunakan untuk praktikum, sedangkan sisanya 30 persen untuk teori.


Sistem perkuliahan seperti itu sangat berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan mahasiswa dibidangnya masing-masing. Apalagi, dalam perkuliahan, kami dihadapkan pada disiplin yang sangat tinggi. Semua ini sangat mendukung pembentukan jiwa dan sikap profesionalitas kami dalam menghadapi dunia kerja nantinya.


Jika selama ini tersiar kabar alumni PCR sering jadi rebutan di dunia kerja, memang begitu adanya. Para kakak tingkat saya yang sudah menyelesaikan studi di PCR umumnya sudah bekerja dengan posisi bagus di sejumlah perusahaan besar, baik dalam maupun luar negeri. Kakak kandung saya sendiri begitu lulus kuliah langsung diterima di Puskom PCR.


Tak heran jika saat ini PCR diidam-idamkan para tamatan SMA. Jjumlah pendaftar yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tak hanya berasal dari Riau, tapi juga dari luar Riau seperti dari Jakarta, Bandung, Padang, dan Medan.


PCR juga rutin mengikuti Kontes Robot Cerdas tingkat nasional dan beberapa kali meraih predikat juara. Beberapa teman saya yang berasal dari luar Riau mengaku tertarik masuk PCR karena keberhasilan tim robot PCR. Mereka menjadikan keberhasilan tim robot PCR itu sebagai tolok ukur kualitas pendidikan di sini.


Saya menyelesaikan pendidikan di PCR pada 2007. Begitu tamat, saya direkomendasikan untuk bekerja di CPI karena dinilai berprestasi bagus. Akan tetapi, saya bukan berarti bisa langsung bekerja. Tapi, harus melalui tes terlebih dahulu. Waktu itu ada sebanyak 30 tamatan PCR.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/18122014/pcr2jpg-1736.jpg
Pada tahap psikotes, hanya enam orang yang lolos. Lalu pada tes wawancara, hanya saya sendiri yang lulus. Waktu itu, yang dibutuhkan memang hanya satu karyawan saja. Saya benar-benar beruntung dinyatakan lulus dan bekerja di CPI. Saat ini saya bekerja di bagian IT-Telnet Rumbai.


Sebelum saya dinyatakan lulus bekerja di CPI, saya sempat bekerja di sebuah perusahaan IT di Jakarta. Setelah bekerja dua bulan di Jakarta, saya ternyata juga dinyatakan lulus bekerja di CPI. Serta merta saya putuskan untuk memilih bekerja di CPI karena saya yakin di perusahaan ini saya akan ditantang untuk menjadi seorang profesional. Beruntung saya sudah dididik tentang sikap disiplin dan profesionalitas sejak masa kuliah dulu.


Sejak bekerja di CPI pada 2008 hingga saat ini, ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di PCR benar-benar diterapkan di bidang pekerjaan saya. Bahkan, dari waktu ke waktu ilmu dan pengalaman saya makin bertambah.


Sebagai alumni PCR, Saya ingin berbagi bahwa pengalaman mengikuti organisasi di kampus sangat besar manfaatnya untuk meningkatkan kualitas diri mahasiswa. Tidak jarang dalam melamar pekerjaan, pihak perusahaan melihat pengalaman kita dalam berorganisasi


Saya merasakan ketika menjadi mahasiswa di PCR, waktu sudah habis untuk mengikuti kegiatan perkuliahan. Kami masuk mulai pukul 7 pagi dan keluar pukul 4 sore. Jadi rasanya tidak terluang waktu lagi untuk mengikuti kegiatan organisasi di kampus. Namun jika kita pintar dalam menggunakan waktu, saya rasa pasti akan ada kesempatan untuk berorganisasi. Saya sendiri sebagai Presiden BEM PCR tak merasa perkuliahan saya terganggu akibat mengurus organisasi yang saya pimpin.” (adv)


Politeknik Caltex Riau


• Politeknik Caltex Riau (PCR) merupakan institusi pendidikan yang didirikan Chevron untuk membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Provinsi Riau.

• Mahasiswa PCR aktif berpartisipasi dalam perlombaan tingkat nasional maupun internasional. Mereka berhasil memperoleh berbagai gelar juara, utamanya di bidang rekayasa perangkat lunak, robotik dan motor hemat energi.

• Pada awal berdiri pada tahun 2001, PCR memiliki 170 mahasiswa dengan tiga program studi D3 (jurusan Elektronika, Telekomunikasi dan Teknik Komputer).

• Pada 2014, PCR memiliki 1.400 mahasiswa aktif yang tersebar di delapan program studi (Jenjang D3:Teknik Komputer, Teknik Telekomunikasi, Teknik Elektronika Industri, Teknik Mekatronika, dan Akuntansi Perminyakan. Jenjang D4: Teknik Informatika Multimedia, Teknik Elektronika Telekomunikasi, Teknik Sistem Informasi Industri)

• Hingga Agustus 2014, Politeknik Caltex Riau telah meluluskan 1.679 mahasiswa yang kini mengisi posisi-posisi profesional tidak hanya di dunia perminyakan, tetapi juga di perusahaan-perusahaan pendukung industri perminyakan, provider telekomunikasi, teknologi informasi, penerbangan, perbankan, wiraswasta, dan pegawai negri.