PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau serius untuk menggarap sektor pariwisata berbasis budaya untuk persiapan menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun depan. Sektor tersebut potensial, karena akan memicu kemajuan bagi sektor lainnya termasuk usaha mikro, kecil dan menengah.


''Menghadapi MEA 2016 yang akan dihadapi, sektor unggulan yang perlu digarap adalah pariwisata berbasis budaya di Riau," kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arshadjuliandi Rachman, Selasa (22/12/2015).

Arsyadjuliandi Rachman mengatakan itu saat membuka seminar nasional bertema; "Ekonomi Indonesia 2015 dan Outlook 2016 Memasuki Masyarakat Ekonomi Asean" yang dilaksanakan di Pekanbaru.

Acara tersebut diikuti lebih 500 tamu undangan yang dari berbagai kalangan antara lain, pelaku bisnis dan investor, kalangan perbankan dan pejabat pemerintah, akademisi, NGO, mahasiswa dan pers.

Ads
Kegiatan ini merupakan kerjasama PT Bank Riau Kepri bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Riau. Seminar menghadirkan narasumber level nasional Prof DR. Didik J. Rachbini selaku Guru Besar Ekonomi dan Kepala LP3E Kadin Indonesia, Wakil Ketua Kadin Riau Viator Butarbutar dan Direktur Utama Bank Riau Kepri DR. Irvandi Gustari.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/23122015/brk3jpg-3691.jpg

Arsyadjulaindi atau yang akrab disapa Andi Rachman mengatakan, sektor pariwisata tersebut memiliki nilai strategis karena memiliki "multifier effect" yang luas, ini bisa menjadi peluang bagi Riau yang memiliki view dan lokasi wisata yang tidak kalah dengan daerah lainnya dan perkembangan pariwisata tersebut akan berdampak pada kemajuan UKM-UKM di Riau.

Setelah sambutan dari Plt Gubernur Riau acara dilanjutkan sambutan dari Komisaris Utama PT Bank Riau Kepri HR Mambang Mit yang mengatakan MEA di tahun 2016 menjadi tantangan dan peluang bagi masyarakat di seluruh ASEAN.

"Dan kita semua harus bersiap menghadapinya," kata dia.

Menurut Mambang seminar bisa menjadi media bagi pelaku usaha dan masukan untuk pemerintah dalam mengambil strategi dalam menghadapi persaingan ekonomi karena MEA.

Dalam seminar nasional yang dipandu oleh Presenter Televisi Nasional Aviani Malik, narasumber Prof. DR Didik J. Rachbini menyampaikan beberapa faktor yang mempengaruhi ekonomi di Indonesia, baik secara external maupun internal.

Diantaranya dampak penguatan USD di asia relatif lebih ringan, kecuali Malaysia dan Indonesia. Serta pertumbuhan ekonomi India dan Tiongkok cukup tinggi dan masih menjadi motor penggerak di Asia. Adapun pengaruh dari Internal turunnya ekspor Indonesia terutama batu bara, minyak kelapa sawit, karet. Hubungan bilateral juga sangat mempengaruhi dari sisi internal.

Selanjutnya menurut Dirut Bank Riau Kepri Irvandi Gustari, MEA terhadap perbankan ada 5 poin penting yang harus dihadapi yaitu; tingkat penetrasi pasar yang masih minim, peningkatan kompetensi SDM, kecanggihan IT yang masih dipegang bank-bank besar, kebutuhan modal untuk ekspansi bisnis dan penyempurnaan payung hukum perbankan.

''Tingkat potensi pasar yang masih minim, hal itu bisa dilihat dari masih tingginya masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan. Potensi domestik yang sangat besar, tentunya akan mengundang para pelaku usaha asing untuk bermain di negeri ini," tutur Irvandi.

Menurutnya lagi, MEA bagi industri perbankan akan diberlakukan pada tahun 2020 jadi masih ada waktu yang tersisa dan perlu dimanfaatkan sebaik mungkin, guna meningkatkan daya saing. Mengingat perbankan Indonesia cukup tertinggal dibandingkan dengan negara lain dikawasan Asean terutama Malaysia dan Singapura.

Sementara itu Wakil Ketua Kadin Riau Dr Viator Butarbutar sekaligus sebagai narasumber dalam seminar tersebut mengatakan, para pelaku usaha khususnya di Provinsi Riau, harus benar siap menghadapi MEA 2016 mendatang.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/23122015/brk2jpg-3690.jpg

"Seminar terbut, selain bertujuan memberikan informasi kepada para pelaku usaha, juga sekaligus memberikan masukan kepada pemerintah dan pelaku usaha dalam mengambil kebijakan-kebijakan strategis, menghadapi persaingan ekonomi ditingkat Asean. Dampak MEA ini ada negatif dan positifnya seperti peluang serta ancamanya. Jadi kita juga harus lebih menitik beratkan pada peluang yang akan kita hadapi," katanya.

Menghadapi MEA, lanjut dia, selain penguatan UMKM untuk permodalan, juga perlu dilakukan penguatan personal pelaku usaha UMKM.

Viator juga mengungkapkan permasalahan utama di Indonesia umumnya dan Riau khususnya adalah tingkat kompetensi tenaga kerja yang masih dibawah standar dan tenaga kerja yang sudah kompeten belum mendapatkan pengakuan resmi dalam bentuk sertifikat kompetensi.

Untuk itu, tambahnya, perlu peningkatan kualitas dan daya saing tenaga kerja Indonesia, pelaksanakan percepatan penerapan sistem pelatihan kerja nasional (sislatkernas) dan mengembangkan perjanjian pengakuan kesetaraan (mutual recognation arrangement/MRA) ketenaga kerjaan untuk 10 sektor pioritas yang belum MRA.

Beragam pertanyaan dilontarkan para peserta seminar nasional yang dijawab langsung oleh para narasumber. Disela-sela acara seminar sebagai wujud tanggung jawab Bank Riau Kepri dan Kadin Riau dilakukan penandatanganan kerjasama Kadin dan Riau-Bank Riau Kepri sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM di Riau terutama untuk masalah permodalan. (rls)