RENGAT, GORIAU.COM - Pasar dan Industri Kecil Menengah (IKM) merupakan salah satu urat nadi perekonomian masyarakat. Menyadari pentingnya peran pasar dan IKM tersebut, Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu (Pemkab Inhu) dibawah kepemimpinan Bupati H Yopi Arianto SE sejak tahun 2010 hingga 2015 ini telah melaksanakan pembangunan dan peremajaan sejumlah pasar tradisional menjadi pasar modren di seluruh wilayah Kabupaten Inhu.


Hasilnya, sejumlah pasar tradisional yang dahulunya becek, kumuh dan tidak tertata dengan rapi, saat ini telah berubah wujud menjadi pasar modren yang bersih, nyaman dan aman. Sehingga perputaran ekonomi dan pendapatan masyarakat tempatan terus mengalami peningkatan.


''Sebagai pusat ekonomi masyarakat, pasar harus memberikan kenyamanan dan keamanan bagi aktivitas jual beli. Karena itu, Pemkab Inhu melakukan sejumlah langkah dengan membangun pasar baru dan melakukan peremajaan terhadap sejumlah pasar tradisional agar menjadi pasar modren,'' ujar Bupati Inhu H Yopi Arianto SE.


Diungkapkan Bupati, peremajaan terhadap pasar tradisional dilakukan Pemkab Inhu melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Disperindagpas) mulai dari tingkat kecamatan hingga desa. Langkah ini dilakukan karena sebelum tahun 2010, pasar-pasar yang ada di Kabupaten Inhu sebagian besar sudah tidak layak digunakan.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/25062015/2jpg-2619.jpg
Bupati Inhu H Yopi Arianto SE saat meninjau Pasar Rakyat Sungai Lala yang telah selesai diresmikan.

Sejauh ini sudah tujuh pasar kecamatan yang telah dibangun Pemkab Inhu. Tujuh pasar tersebut diantaranya terdapat di Kecamatan Seberida, Kuala Cenaku, Batang Cenaku, Rakit Kulim, Kelayang, Sungai Lala dan Peranap. Dari tujuh pasar tersebut, enam pasar sudah diresmikan Bupati Inhu H Yopi Arianto SE. Sedangkan pasar Peranap rencananya akan diresmikan tahun 2015 ini karena pembangunannya juga telah selesai dilaksanakan.


Bahkan secara bertahap, Pemkab Inhu akan terus melakukan pembenahan serta peningkatan sejumlah fasilitas terhadap pasar-pasar yang telah selesai dibangun tersebut. Sehingga keberadaan pasar benar-benar mampu memberikan kenyamanan terhadap aktivitas jual beli.


''Pasar yang telah dibangun Pemkab Inhu merupakan milik seluruh masyarakat. Karena itu, saya mengimbau agar masyarakat secara bersama-sama dapat menjaga kebersihan, ketertiban serta keindahan pasar tersebut seperti yang kita harapkan,'' ucap Bupati H Yopi Arianto SE.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/25062015/2jpg-2618.jpg
Sementara itu, Kepala Disperindagpas Inhu Ir Hasman Dayat mengungkapkan, untuk membangun tujuh pasar modren kecamatan tersebut, Pemkab Inhu mengalokasikan anggaran secara bertahap mencapai Rp 42,5 miliar.


Anggaran tersebut diperuntukkan untuk pembangunan pasar Belilas Kecamatan Seberida senilai Rp 15 miliar, Pasar Kuala Cenaku senilai Rp 8 miliar, Pasar Kelayang senilai Rp 3 miliar, Pasar Batang Cenaku senilai Rp 2 miliar, Pasar Rakit Kulim senilai Rp 1,5 miliar, Pasar Sungai Lala senilai Rp 10 miliar dan Pasar Peranap senilai Rp 3 miliar.


Dikatakannya, untuk tahun 2015 ini, akan kembali dibangun los pasar Kecamatan Lubuk Batu Jaya senilai Rp 1,9 miliar yang alokasi anggarannya berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) APBN Perubahan 2015. Dimana Kabupaten Inhu memperoleh anggaran pusat tersebut berdasarkan proposal yang diajukan kepada Kementrian Perdagangan RI.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/25062015/3jpg-2617.jpg
Bupati Inhu H Yopi Arianto SE menyerahkan secara simbolis surat izin penempatan kios kepada pedagang yang akan menempati Pasar Rakyat Kuala Cenaku. 

Selain pembangunan pasar kecamatan, Pemkab Inhu juga melakukan pembangunan terhadap 15 pasar desa di seluruh wilayah Kabupaten Inhu. Bahkan pada tahun 2015 ini, kembali akan dibangun 15 pasar desa lagi yang terdiri dari 5 pasar desa di Kecamatan Rakit Kulim, 3 pasar desa di Kecamatan Batang Cenaku, masing-masing 2 pasar desa di Kecamatan Kelayang dan Sungai Lala, serta masing-masing 1 pasar desa di Kecamatan Batang Gansal, Lubuk Batu Jaya dan Lirik.


Diakui Hasman Dayat, sejauh ini masih ada beberapa pasar yang perlu dilakukan pembangunan baru seperti Pasar Pekan Heran, Kecamatan Rengat Barat. Direncanakan pembangunan Pasar Pekan Heran akan dilakukan pada tahun 2016 mendatang karena saat ini tengah dilakukan pembebasan lahan.


''Mudah-mudahan, target pembangunan pasar di Kabupaten Inhu ini dapat terlaksana dengan baik dan sesuai dengan program yang telah direncanakan, sehingga kedepannya pasar-pasar di Kabupaten Inhu menjadi lebih nyaman, bersih, rapi dan aman,'' ucapnya.


Kembangkan Tenun Indragiri Sebagai Warisan Budaya


Selain pembangunan pasar, Pemkab Inhu melalui Disperindagpas juga berupaya meningkatkan perekonomian masyarakat dengan melakukan pembinaan terhadap industri kecil menengah (IKM), terutama terhadap para pengerajin tradisional yang mampu memberikan ciri khas bagi Kabupaten Inhu.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/25062015/4jpg-2616.jpg
Kepala Disperindagpas Inhu Ir Hasman Dayat saat meninjau pengerajin tenun songket Indragiri Hulu.

Untuk mendukung perkembangan IKM, Pemkab Inhu berupaya memberikan pelatihan dan bantuan peralatan kepada para pengerajin. Salah satunya terhadap pengerajin tenun tradisional yang mampu menghasilkan songket Indragiri Hulu. Pengerajin songket Indragiri Hulu ini menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) sebagai warisan luhur nenek moyang bangsa.


''Tradisi inilah yang coba dikembangkan kembali oleh Disperindagpas Inhu. Sebab hasil tenun yakni songket Indragiri Hulu sangat kaya akan corak, ragam dan desainnya,'' ujar Kepala Disperindagpas Inhu, Ir Hasman Dayat.


Untuk mendukung pengembangan pengerajin tenun asli Indragiri Hulu, Disperindagpas Inhu telah menyalurkan 10 ATBM kepada pengerajin binaan yang ada di Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik. Bahkan songket Indragiri Hulu sudah menjadi salah satu cenderamata pada saat pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VIII Riau tahun 2014 lalu.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/25062015/5pasarraky-2615.jpg
Menurut Hasman Dayat, kain songket yang dihasilkan oleh pengerajin dari Desa Lambang Sari V, Kecamatan Lirik tersebut tidak kalah dengan songket dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan dari sisi harga, karya tangan pengerajin tersebut masih bisa bersaing karena dijual antara Rp 800 ribu hingga Rp 2,5 juta tergantung dari bahan yang digunakannya.


Kedepan, agar songket Indragiri Hulu lebih dikenal masyarakat luas, Disperindagpas Inhu akan mempromosikan pada berbagai event yang ada di Indonesia. Selain itu, Disperindagpas juga akan mendorong agar seluruh PNS dapat menggunakan songket Indragiri Hulu sehingga akan membantu para pengerajin dalam pemasaran dan meningkatkan perekonomiannya.


''Strategi pemasaran dan promosi secara maksimal sangat dibutuhkan agar songket Indragiri Hulu hasil tenunan pengerajin ini mampu menjadi salah satu ikon Kabupaten Inhu. Dan hal ini tetap membutuhkan sentuhan dari Pemkab Inhu,'' ucapnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/25062015/6pasarraky-2614.jpg
Tidak hanya songket Indragiri Hulu, Disperindagpas juga tengah melakukan upaya pengembangan terhadap batik Inhu. Pengembangan dilakukan pada tiga lokasi diantaranya Kecamatan Rengat, Lubuk Batu Jaya dan Seberida.


Sedangkan corak batik yang dikembangkan mengambil dari budaya melayu asli Indragiri, yakni batik dengan corak Itik Pulang Petang dan Pucuk Rebung. ''Corak khas melayu Indragiri ini tentu saja tidak akan terdapat di daerah lain,'' ucapnya.


Untuk mengembangkan batik Inhu menjadi salah satu ciri khas ataupun ikon baru Kabupaten Inhu, dibutuhkan peran serta dan kepedulian semua pihak, sehingga batik Inhu bisa berkembang sekaligus menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri.


100 Gerobak Jualan Untuk Pedagang Kecil


Pemkab Inhu melalui Disperindagpas tetap akan melakukan pembinaan dan pengembangan terhadap industri rumah tangga seperti pembuatan dodol kedondong, dodol nenas, dodol nangka dan produk lainnya yang selama ini sudah sangat dikenal masyarakat.


Hanya saja, ketersediaan bahan baku menjadi tantangan utama untuk perkembangan industri rumah tangga ini. Sehingga dibutuhkan peran serta semua pihak dan kesadaran masyarakat agar bahan baku industri rumah tangga ini tidak punah. Sebab pangsa pasar industri rumah tangga tersebut sudah sangat luas.


Industri kecil menegah lain yang tengah dikembangkan adalah pembuatan pupuk organik di Desa Bukit Meranti, Kecamatan Seberida. Dengan 3 unit mesin pembuat pupuk organik, industri ini sudah mampu menghasilkan 40 ton pupuk organik setiap harinya. ''Konsumen yang membutuhkan pupuk ini, bisa langsung mendatangi lokasi pembuatan pupuk tersebut di Desa Bukit Meranti,'' ujar Kepala Disperindagpas Inhu, Ir Hasman Dayat.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/25062015/8jpg-2613.jpg
Untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan, Pemkab Inhu melalui Disperindagpas juga telah memberikan bantuan bagi penggiat industri kecil menengah, diantaranya bantuan 100 unit gerobak bagi pedagang kecil pada tahun 2014, dan tahun 2015 ini akan kembali diberikan bantuan 100 unit gerobak lagi bagi para pedagang lainnya. Selain itu, juga telah disalurkan bantuan mesin jahit dan mesin bordir bagi penggiat usaha menjahit.


Hasman Dayat berharap, berbagai upaya yang telah dilakukan Pemkab Inhu dengan memberikan bantuan peralatan dan pembinaan diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup dan perekonomian masyarakat, khususnya terhadap pelaku industri kecil dan menengah yang jumlahnya sangat banyak. (jef)