SELATPANJANG, GORIAU.COM - Sadar sebagai daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia, Kabupaten Kepulauan Meranti membuka peluang bagi investor yang berminat untuk mengolah sagu menjadi berbagai produk hilir. Untuk itu, kepada pemerintah Provinsi Riau maupun Pemerintah pusat, Bupati Kepulauan Meranti Drs H Irwan MSi, mengharapkan agar semua yang berkeinginan untuk mengembangkan sagu menjadi berbagai produk hilir bisa diarahkan ke kabupaten termuda se Riau itu.


Selain sering disampaikan dalam berbagai pertemuan, pernyataan itu juga sudah disampaikan orang nomor satu di Kepulauan Meranti itu di tingkat pusat, saat bertemu dengan tim Badan Pengkajian dan Penerapan Tekonolog (BPPT) Republik Indonesia di Jakarta tanggal 20 Februari 2015 lalu.


Dalam pertemuan itu tim pengkaji memaparkan bahwa sagu ternyata bisa diolah menjadi glukosa atau gula cair yang nilai ekonominya sangat tinggi. Tim juga memaparkan bahwa kalau selama ini bahan baku glukosa banyak diambil dari tepung tapioka, tapi kali ini bisa menggunakan sagu. Tentu informasi ini menjadi angin segar bagi pengusaha sagu ataupun investor yang tertarik mengembangkan produksi sagu untuk menjadi berbagai bentuk.


"Harus diakui produk hilir sagu ini masih terbatas. Atas dasar itu kita selalu mendorong hilirisasi produk-produk sagu. Untuk itu, tolong arahkan ke Meranti bagi mereka (investor) yang tertarik untuk mengembangkan sagu menjadi berbagai produk," kata Bupati Kepulauan Meranti H Irwan saat itu.


Di tempat yang sama pula, peneliti BPPT RI, Ir Supriyanti M Eng, juga memperkuat agar investor tidak merugi andai saja mengolah dengan maksimal sagu. Kata Supriyanto, sirup glukosa adalah pemanis alami dari bahan baku pati. Glukosa ini banyak digunakan untuk industri makanan dan minuman seperti sirup, permen, colkat, dan eskrim. Menurutnya lagi, pada umumnya industri glukosa menggunakan bahan baku tapioka yang harganya sangat fluktuatif. Harga tapioka saat ini pada kisaran Rp8 ribu per kilogram. Sementara harga sagu sangat stabil hanya pada kisaran Rp5 ribu per kilogram. "Sagu pernah diujicoba sebagai bahan baku untuk industri glukosa menggantikan tapioka. Hasil produknya maupun prosesnya tidak berbeda nyata," tegas Supriyanto.


Untuk itulah Supriyanto memperkirakan bila di Kepulauan Meranti didirikan pabrik industri glukosa, maka akan sangat menguntungkan. "Dengan harga glukosa pada kisaran Rp7.500 per kilogram, maka profit marginnya mencapai 20-25 persen," tambahnya.


Bahkan Supriyanto mengatakan saat ini ada pengusaha glukosa yang menginginkan sagu dalam jumlah sangat besar, sebagai bahan baku pabriknya di Jawa. Namun pengusaha tersebut kesulitan mendapatkan sagu mengingat tata niaga sagu yang belum meluas. "Pengusaha ini sudah melakukan penjajakan mendapatkan sagu di Cirebon yang merupakan sagu dari Meranti. Namun belum berhasil. Kalau diarahkan ke Meranti tentu sangat tepat," ungkap dia.


Menurutnya penggunakan sagu sebagai bahan baku glukosa sudah dilakukan di Malaysia, terutama di Sarawak yang memiliki tanaman sagu. Bahkan pengelolaan perkebunan dan produksi sagu di negara tersebut sudah dilakukan dengan sangat baik sehingga memiliki kualitas sangat tinggi. "Berbagai industri makanan dan minuman di Malaysia sudah lama menggunakan glukosa yang terbuat dari bahan baku sagu," ungkap dia.


Sebelumnya Direktur Pusat Teknologi Agroindustri BPPT Ir Nenie Yustiningsih MSc menjelaskan bahwa Kepulauan Meranti merupakan produsen sagu terbesar di Indonesia bahkan mungkin di dunia. Hal ini mengingat baru di Kepulauan Meranti tanaman sagu dibudidayakan dengan baik oleh masyarakat. Saat ini diperkirakan produksi sagu Meranti diperkirakan mencapai 200 ribu ton per tahun. Bila dikalikan harga Rp5 ribu per kilogram, maka uang yang dihasilkan tanaman sagu tersebut mencapai satu triliun per tahun.


"Kita berharap ke depan sagu tidak hanya jadi bahan pangan tapi menjadi bahan baku berbagai industri. Dengan demikian sagu bisa jadi unggulan daerah. Saya kira sagu bisa menjadi ikon Kepulauan Meranti," ungkap Ir Nenie.


Dalam pertemuan tersebut, tim peneliti BPPT yang terdiri dari tujuh orang pakar juga mempresentasikan bagaimana kulit sagu bisa diolah menjadi biomass yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Tim BPPT juga menemukan bahwa kandungan gula pada sagu sangat rendah sehingga sangat bagus untuk kesehatan terutama mengurangi risiko diabetes. Kandungan serat pada sagu juga sangat tinggi sehingga sangat baik untuk kesehatan pencernaan.


Pada presentasi itu hadir pula Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kepulauan Meranti Makmun Murod, Kepala Bappeda Aza Faroni, Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Yulian Norwis, Kepala Disperindag Syamsuar Ramli, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Herman dan Kepala Badan LIngkungan Hidup Irmansyah serta Kabag Humas Ery Suhairi.(adv)