SELATPANJANG, GORIAU.COM - Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengaku kagum dengan Kabupaten Kepulauan Meranti setelah ia turun dan melihat langsung kondisi alam kabupaten termuda se Provinsi Riau itu. Pasalnya Meranti ternyata memiliki potensi (lahan) padi dari ladang tadah hujan yang mana jika dikelola dengan maksimal Mentan yakin 90 persen Meranti tak lagi impor beras.


Pernyataan itu lah disampaikan langsung oleh Mentan Andi Sulaiman saat berkunjung ke Meranti untuk melakukan panen raya di ladang Desa Bina Maju Kecamatan Rangsang Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, pada Rabu tanggal 4 Maret 2015 yang lalu. Selain melakukan panen raya, Mentan Andi juga meninjau kondisi pertanian di Meranti.


Waktu memberikan sambutan, Mentan Andi mengatakan bahwa untuk meningkatkan hasil panen padi di Meranti itu perlu diiringi dengan adanya irigasi yang bagus dan alat tanam yang sesuai dengan keinginan petani. Dalam kunjungan itu pula, Mentan melakukan dialog dengan masyarakat Meranti untuk menanyakan langsung sebenarnya apa yang dibutuhkan oleh petani. Sehingga, pada kunjungan tersebut Mentan menyerahkan bantuan traktor dan dana pembinaan untuk petani setempat.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/20042015/mentan2jpg-1968.jpg
Mentan Amran Sulaiman didampingi Plt Gubri Arsyadjuliandi, Bupati Kepulauan Meranti Drs H Irwan MSi saat panen raya padi di Desa Bina Maju.

Waktu itu mentan menyatakan bahwa untuk Kabupaten Kepulauan Meranti akan dibantuk alat tanam berupa eskapator sebanyak 6 unit. Alat ini pula kabarnya bisa menyelesaikan (penanaman) 1 hektare lahan dalam waktu 3 jam. Selain itu, Mentan juga memberikan program perbaikan irigasi sebanyak 100 hektare, dan 24 unit pompa air.


Kata Mentan Andi pula, dengan lahan yang dimiliki Meranti sekarang ini, jika lolos dengan yang dilakukan itu nantinya dirinya yakin 90 persen Meranti tidak akan impor beras lagi. Untuk mendukung itu semua, setelah Meranti memiliki lahan yang cukup untuk bertani, Mentan telah mengubah sistem tender baik pada pupuk maupun pengadaan lain berkaitan dengan pertanian, ini untuk membantu agar apa yang dikerjakan petani di lapangan bisa sejalan dengan kebijakan pemerintah.


''Negara kita merupakan negara besar, ditanam apapun pasti tumbuh. Dulu pupuk benih tender, namun sekarang tidak lagi. Kedepan tolong sama-sama kita kaji, akan kita lihat apa lagi kekurangan di Meranti ini,'' jelasnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/20042015/mentan3jpg-1969.jpg
Bupati Kepulauan Meranti memaparkan kondisi alam dan pertanian Meranti di hadapan Mentan Amran Sulaiman.

Di tempat yang sama, Bupati Kepulauan Meranti, Drs H Irwan MSi menyambut baik kedatangan Mentan RI itu. Orang nomor satu di Kepulauan Meranti itu berharap dengan tindakan yang dilakukan pemerintah pusat bisa memberikan manfaat bagi masyarakat khususnya di Kepulauan Meranti. Bupati juga menyampaikan bahwa Pulau Rangsang itu merupakan pulau terluar di Indonesia yang mana tingkat kemiskinan masyarakatnya cukup signifikan. Sehingga, diharapkan dengan optimalisasi pertanian ini bisa mengatasi kemiskinan tersebut.


Kata H Irwan pula, di Kepulauan Meranti memang memiliki lahan yang luas untuk menanam padi, namun belum bisa terealisasi dikarenakan tidak maksimalnya pengairan (tidak baiknya irigasi di daerah pesisir itu). Untuk itu, kedepannya H Irwan berharap Pemerintah Pusat bisa terus memberikan dukungan terhadap Kepulauan Meranti terutamana dalam hal pertanian, karena kata Bupati, di Meranti ini 90 persen kebutuhan beras didatangkan dari luar daerah.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/20042015/mentan4jpg-1970.jpg
Mentan Amran Sulaiman saat memberikan sambutan di hadapan ratusan petani Meranti di Desa Bina Maju.

Ditambahkan Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kepulauan Meranti, Yulian Norwis, di Meranti memiliki lahan berpotensi yang siap ditanam padi seluas 4.436n Hektar. Sementara target tahun 2015 ini, penanaman sekitar 4000 hektar saja. ''Penanaman padi itu pada bulan Agustus, September sampai Desember. Kalau Juni Juli masuk musim penghujan. Kita punya lahan yang luas untuk menanam padi,'' kata lelaki yang akrab dipanggil Icut itu.


Namun, ditambahkan Icut pula, yang menjadi kendala utama pertanian di Kepulauan Meranti itu adalah tanggul, karena luapan air asin seringkali masuk ke ladang. Untuk itu pula, melalui Kementerian Pertanian Icut mengaku telah mengusulkan ke Kementerian PU Dirjen Pengairan agar di Meranti segera dibangung tanggul agar apa yang menjadi target pemerintah pusat bisa maksimal di Kepulauan Meranti.


''Kalau itu telah teratasi. Kita optimis bisa menghasilkan sekitar 16.000 ton dari lahan 4.000 Hektar yang kita miliki itu. Apalagi penanaman berikutnya nanti kita sudah menggunakan benih yang baru (yang lama hanya menghasilkan sekitar 3.5 ton perhektar),'' kata Icut pula.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/20042015/mentan5jpg-1971.jpg
Salah seorang perwakilan petani di Desa Bina Maju menyampaikan keluhan yang mereka hadapi selama ini.

Permasalahan lain yang dihadapi petani di Kepulauan Meranti adalah masuknya beras impor dari Vietnam dan Thailand ke daerah tersebut. Ini berakibat pada harga beras dari ladang setempat selalu tertekan dan sulit bersaing dengan kualitas beras impor. ''Ketika harga beras di tingkat pengepul di Jawa sudah Rp12 ribu per kilogram, di Meranti justru harganya jauh lebih rendah hanya Rp6 ribu karena harus bersaing dengan beras impor tadi,'' keluh petani.


Menanggapi hal tersebut, Mentan Amran Sulaiman berjanji akan memperhatikan distribusi pupuk bersubsidi agar dipercepat ke daerah-daerah pesisir dan pedalaman. ''Saya janji tentang pupuk nanti harus sudah datang sesuai jadwal masa tanam,'' katanya.


''Kami akan bantu mencarikan solusi Kepulauan Meranti yang lahan sawahnya tadah hujan, apabila ada sumber air maka perlu dibangun embun dan saluran irigasi sehingga IP nya naik dan mempercepat peningkatan produksi padi,'' tambah Mentan waktu kunjungan tersebut. (adv)