TELUK KUANTAN, GORIAU.COM - Untuk pertama kalinya petani di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) menerapkan teknologi pertanian padi salibu. Hasilnya, para petani bisa menghasilkan gabah kering 4,6 ton per hektare.


Demikian disampaikan Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Tanaman Pangan Kecamatan Gunung Toar, Rina Dinati. Gunung Toar merupakan satu-satunya daerah yang dijadikan lahan percontohan penerapan teknologi padi salibu di Kuansing.


"Alhamdulillah, kita bersama petani sudah merasakan hasilnya. Dimana, dengan biaya yang rendah, petani mampu meraih hasil yang maksimal," ujar Rina, Selasa (5/5/2014). Panen perdana padi salibu dilakukan langsung oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan (Distangan) Kuansing, Maisir pada Senin (4/5/2014) lalu.


Pada kesempatan itu, Distangan langsung menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) Kuansing, agar mengetahui jumlah produksi padi. "Ada tiga tempat yang kita ubin, hasilnya di lokasi pertama mencapai 4,6 ton, lokasi kedua 3,8 ton dan lokasi terakhir mencapai 2,8 ton per hektare."

Ads

"Hasil ini bervariasi dikarenakan beberapa faktor, yakni pemberian pupuk dan perawatan yang dilakukan oleh petani. Kalau 4,6 ton, itu setara dengan panen biasanya," lanjut Rina. Ia menyatakan, pada percobaan ini luas lahan yang digunakan mencapai 56 hektare.


Rina mengakui selama penerapan padi salibu memang minim bantuan dari Distangan. Oleh sebab itu, segala sesuatu yang menyangkut operasional dan pupuk dilakukan secara swadaya. "Sebetulnya, dana itu ada di OPL, namun kita tidak berani memasukkannya."


"Pasalnya, penerapan padi salibu perdana di Kuansing. Kita takut tidak berhasil dan menimbulkan perbuatan yang bertentangan dengan hukum di kemudian hari," lanjut Rina. Kendati demikian, Distangan mengapresiasi petani yang punya semangat dalam mencoba inovasi dalam dunia pertanian.


"Pada tahun ini, tidak semua hamparan di Petapahan Gunung Toar yang menerapkan padi salibu, hanya sekitar 20 persen saja," ucap Rina. Persoalan lain yang menghambat penerapan padi salibu adalah hewan ternak. Dimana, masyarakat Kuansing memiliki dua musim dalam beternak, enam bulan diikat dan enam bulan dilepas.


"Masyarakat kita punya jiwa sosial yang tinggi dan mereka juga memiliki hewan ternak, sehingga masih agak sulit," ujar Rina. Oleh karena itu, pada tahun ini penerapan padi salibu hanya sekali. "Bulan September mendatang kita akan tanam lagi, setelah itu kita akan terapkan padi salibu kembali," tambahnya.(fer)