JAKARTA, GORIAU.COM - Pagi itu, Senin, 8 Juni 2015, sambil tersenyum ramah Tony Wenas menyalami setiap orang yang menemuinya di Bali Room, Hotel Indonesia Kepinski, Jakarta. Managing Director APRIL Indonesia tersebut ketika itu sedang bersuka hati, karena sesaat lagi akan menerima sertifikat PEFC (Programme for the Endorsement of Forest Certification/pengelolaan hutan berkelanjutan). APRIL Group pantas bersyukur dan bangga karena merupakan perusahaan pertama di Indonesia menerima sertifikat bergengsi di dunia itu.


Sekitar pukul 11.00 WIB, di hadapan ratusan tamu yang berasal dari kalangan pemerintahan, perguruan tinggi, swasta, lembaga swadaya masyarakat, media massa dan lainnya, Tony Wenas didampingi President of APRIL Praveen Singhavy, menerima sertifikat PEFC dari CEO dan Sekretaris Jenderal PEFC Ben Gunneberg. Gemuruh tepuk tangan terdengar saat Tony Wenas menerima sertifikat PEFC dari Ben Gunneberg. Wajah Tony Wenas dan Praveen Singhavy terlihat sumringah sebagai ungkapan kebahagiaan dan rasa haru.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/17062015/2jpg-2548.jpg
Dari kanan ke kiri: Direktur AJA Indonesia Dewi Suryati, Managing Director APRIL Indonesia Tony Wenas, CEO dan Ben Gunneberg, Chairman IFCC Drajat Wibowo dan Managing Director Suistainability APP Aida Greenbury saat konferensi pers menjelang penyerahan sertifikat PEFC.

Tony Wenas mengaku sangat bangga dengan keberhasilan APRIL menerima sertifikat PEFC. Menurutnya, hal itu merupakan bukti bahwa APRIL telah mencapai kemajuan pesat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan.


"Kami sangat bangga menjadi perusahaan berbasis kehutanan pertama di Indonesia yang menerima sertifikat PEFC. Sertifikat yang kami dapatkan menjadi bukti bahwa kami telah telah membuat kemajuan yang pesat dalam pengelolaan hutan berkelanjutan dari hutan produksi kami," kata Tony Wenas, saat konferensi pers menjelang penyerahan sertifikat PEFC, di Bali Room Hotel Indonesia Kempinski.

Ads

Tony Wenas menjelaskan, saat ini sekitar 45 persen dari total pasokan kayu jangka panjang yang dikelola APRIL di Indonesia atau sekitar 304.000 hektare, telah bersertifikat PEFC. "Operasi manufactur APRIl juga telah mendapatkan sertifikat lacak balak (chain-of-custody/CoC) PEFC. Hal ini menandakan bahwa rantai pasokan perusahaan kami dari hulu ke hilir telah memiliki sertifikat PEFC,'' ujarnya.


Lanjut Tony Wenas, sertifikat PEFC ini menjadi jaminan bagi para konsumen di seluruh dunia bahwa kami menawarkan produk hasil hutan yang dikelola secara berkelanjutan. "Hal ini merupakan langkah positif bagi reputasi kehutanan Indonesia di dunia, sekaligus membuka pasar baru bagi produk APRIL,'' katanya.


Sertifikat PEFC, ucap Tony, memperkuat sertifikasi nasional dan internasional yang telah dimiliki APRIL Group sebelumnya dan merupakan bagian dari langkah-langkah yang dilakukan di dalam sustainable forest management policy/SFMP 2.0 (kebijakan pengelolaan hutan berkelanjutan), yang baru saja diumumkan minggu lalu. ''Dalam kebijakan yang diperbarui tersebut, perusahaan memastikan tidak akan ada lagi kegiatan deforestasi di seluruh rantai pasokannya,'' terangnya.


Merupakan Pengakuan


CEO PEFC Ben Gunneberg menegaskan, sertifikasi PEFC yang diberikan kepada APRIL merupakan pengakuan atas kinerja perusahaan tersebut dalam mengelola industri kehutanan secara berkelanjutan. "Perusahaan sudah membuktikan pengakuannya atas adanya keterikatan yang erat antara lingkungan, sosial dan tujuan ekonomi," ujarnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/17062015/3jpg-2547.jpg
Mozaik kawasan HTI PR RAPP dengan konservasi hutan alam yang tetap terpelihara.

Sementara Chairman IFCC (Indonesian Forest Certification Co-Operation) Drajad Wibowo, mengatakan, sertifikat PEFC-IFCC akan memberikan manfaat luas bagi sektor kehutanan Indonesia dan ekspor Indonesia. "Sertifikasi ini akan membuat para konsumen di seluruh dunia percaya bahwa produk kehutanan asal Indonesia yang mereka beli, dikelola secara berkelanjutan dan bertanggung jawab,'' kata Drajad.


Harus Jadi Contoh


Dalam sambutannya, CEO PEFC Ben Gunneberg memuji APRIL yang telah melakukan pengelolaan hutan berkelanjutan dan bertanggung jawab, sehingga menjadi perusahaan pertama di Indonesia menerima sertifikat PEFC. Ben berharap komitmen APRIL menjadi contoh bagi perusahaan lainnya di Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara.


"Sebagian besar sertifikasi pengelolaan hutan lestari sampai saat ini diperoleh perusahaan-perusahaan di Amerika Utara. Dengan berhasilnya APRIL meraih sertifikat PEFC, diharapkan semakin banyak perusahaan di Asia Tenggara melakukan pengelolaan hutan berkelanjutan dan bertanggung jawab, sehingga bisa pula memperoleh sertifikat PEFC," harap Ben.


Sertifikat PEFC yang diberikan kepada APRIL ini lanjut Ben, memberikan pesan kuat kepada para konsumen di seluruh dunia bahwa produk yang berasal dari Indonesia bersumber dari sistem pengelolaan hutan hutan berkelanjutan dan bertanggung jawab.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/17062015/4jpg-2546.jpg
Water manajemen (kanal sisir sebagai pengendali ketinggian air kanal).

"Konsumen di seluruh dunia tak perlu ragu lagi menggunakan produk kehutanan dari Indonesia karena meyakini bahwa produk tersebut bersumber dari sistem pengelolaan hutan lestari dan bertanggung jawab," ujarnya.


Ben mengaku sangat senang dan bangga atas keberhasilan APRIL menjadi perusahaan pertama di Indonesia meraih sertifikat PEFC. "Keberhasilan APRIL ini akan membuka akses luas bagi perusahaan lainnya di Indonesia untuk mendapatkan sertifikat PEFC," jelasnya.


Managing Director APRIL Indonesia Tony Wenas, dalam sambutannya, mengaku sangat bangga dengan keberhasilan APRIL menerima sertifikat PEFC. Tony Wenas menegaskan, APRIL akan terus berupaya meningkatkan sistem pengelolaan hutan berkelanjutan dan bertanggung jawab.


Dikatakan Tony Wenas, sertifikat PEFC sangat penting bagi APRIL karena menjadi jaminan buat para konsumen di seluruh dunia bahwa APRIL menawarkan produk hasil hutan yang dikelola secara berkelanjutan. "Hal ini merupakan langkah positif bagi reputasi kehutanan Indonesia di dunia, sekaligus membuka pasar baru bagi produk APRIL,'' ujarnya.


Tony Wenas berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan terhadap APRIL dalam menerapkan sistem pengelolaan hutan berkelanjutan dan bertanggung jawab, sehingga bisa meraih sertifikat PEFC.


Tengah Diusahakan


Tony Wenas, dalam sambutannya pada acara tersebut mengungkapkan, dari total areal konsesi APRIL, baru sekitar 45 persen atau 304 ribu hektare yang memperoleh sertifikat PEFC. APRIL, lanjut Tony Wenas, punya komitmen mengupayakan semua areal konsesi APRIL mendapatkan sertifikat PEFC.


"APRIL saat ini tengah berusaha mendapatkan sertifikat pengelolaan hutan berkelanjutan pada sisa area hutan lainnya, dan berharap tambahan sertifikasi itu bisa kami dapatkan pada beberapa bulan ke depan," harap Tony Wenas.


Lanjut Tony Wenas, sertifikat PEFC sangat penting bagi APRIL, karena membuka peluang pasar yang lebih luas kepada produk APRIL. "Terima kasih kepada PEFC yang telah memberikan jaminan kepada para konsumen di seluruh dunia bahwa kami memberikan produk hasil hutan yang dikelola secara berkelanjutan. Hal ini akan berpengaruh positif memperluas pasar bagi produk APRIL di dunia," jelasnya.

https://www.goriau.com/assets/imgbank/17062015/5jpg-2545.jpg
Patroli fire fighter RAPP menggunakan airboat memantau areal HTI dari bahaya kebakaran.

Tony Wenas yakin, semakin luas areal konsesi APRIL yang mendapatkan pengakuan PEFC dikelola secara berkelanjutan dan bertanggung jawab, maka semakin luas pula peluang pasar bagi produk APRIL di dunia. "Selama ini banyak konsumen di dunia enggan membeli produk APRIL karena mereka meragukan kita mengelola hutan secara bertanggung jawab. Dengan telah mengantongi sertfikat PEFC, maka sudah ada jaminan bagi konsumen bahwa produk APRIL bersumber dari hutan yang dikelola secara lestari dan bertanggung jawab, sehingga mereka tidak ragu lagi membelinya," ujarnya.


Sementara CEO PEFC Ben Gunneberg dalam sambutannya mengingatkan, semua perusahaan kehutanan wajib melakukan pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan bertanggung jawab. Keuntungan ekonomi yang ingin diburu perusahaan harus selalu diiringi dengan tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan. "Sertifikat PEFC yang didapatkan oleh APRIL Group merupakan pengakuan atas kinerja perusahaan dan negara dalam mencapai masa depan industri kehutanan Indonesia yang berkelanjutan, yang mengakui keterikatan erat antara lingkungan, sosial dan tujuan ekonomi," tegas Ben.


Chairman IFCC (Indonesian Forest Certification Co-Operartion) Drajat Wibowo, menjelaskan, konsumen internasional mensyaratkan bahan baku produk yang mereka beli harus berasal dari sumber yang memperhatikan kelestarian lingkungan, sumber daya manusia, sosial dan kelestarian usahanya, mengharuskan para pelaku pasar mengambil langkah tambahan untuk mengkonfirmasi status dari sumber produk-produk kehutanan yang memasuki pasar mereka.


"Sertfikasi pengelolaan hutan lestari skema PEFC/IFCC sebagai skema sertifikasi yang bersifat voluntary, ternyata banyak mendapat respons dari konsumen internasional sebagai salah satu skema sertifikasi yang dapat menjadi rujukan atas alat konfirmasi sumber bahan baku produk yang mereka harapkan," kata Drajat dalam sambutannya.


Dijelaskan Drajat, skema PEFC adalah skema sertifikasi SFM terbesar di dunia, bersifat independen, yang berbasis di Jenewa, Swiss. Sertfikat PEFC diakui dan diterima para stakeholders kehutanan dan insdustri kehutanan dunia, termasuk korporasi-korporasi berskala global dan konsumen akhir. Sedangkan IFCC adalah national governing body (GNB) PEFC di Indonesia yang merupakan pengembang dan pemilik skema sertifikasi IFCC. Skema IFCC ini sudah di-endorsed sebagai skema PEFC untuk Indonesia.


Sertifikasi PEFC/IFCC, sambung Drajat, sudah diimplementasikan pada pengelolaan hutan di Indonesia dan secara resmi sertifikat PEFC/IFCC telah diberikan untuk sekitar 600 ribu hektare areal konsesi (304 hektare diantaranya areal konsesi APRIL Group). Sertifikat ini berlaku 3 tahun dan akan ditinjau ulang setiap tahunnya, serta dapat diperpanjang bila memenuhi syarat.


"Dengan terbitnya sertfikat pengelolaan hutan lestari PEFC/IFCC ini, pengelolaan hutan lestari di Indonesia telah tercapai. Perminataan pasar internasional atas produk-produk hasil hutan yang mensyaratkan pengelolaan hutan lestari juga dapat terpenuhi, sehingga eskpor hasil hutan meningkat, lapangan kerja semakin terbuka dan secara keseluruhan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional," terangnya.


"Sertifikat pengelolaan butan lestari IFCC adalah standar nasional yang disusun secara terbuka dan transparan dengan melibatkan seluruh elemen stakeholder utama yang ditetapkan dalam Agenda 21 Konferensi PBB (UNCED) tahun 1992, yakni: pemerintah pusat dan daerah, pemilik hutan, pelaku bisnis, pekerja dan serikat pekerja, masyarakat adat, anak dan remaja, perempuan, komunitas ilmiah dan LSM/NGO," tambahnya.


Diapresiasi BLH


Lembaga penyedia informasi produk kayu, RISI, mengutip laman resmi PEFC, dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (6/6), mengungkapkan, APRIL Group ditetapkan memperoleh sertifikat tersebut pada Desember 2014.


PEFC adalah sebuah skema sertifikasi hutan terbesar di dunia. Lebih 264 juta hektare hutan dan 15.804 perusahaan telah disertifikasi PEFC.


Di Indonesia, PEFC meng-endorse skema sertifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan dan lacak balak IFCC (Indonesian Forestry Certification Cooperation).


Menurut RISI, pengakuan pengelolaan hutan lestari APRIL Group oleh PEFC dilansir tak lama setelah kelompok usaha tersebut baru saja mengumumkan penguatan kebijakan pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management Policy), yang melibatkan sejumlah LSM termasuk WWF dan Greenpeace sebagai pemantau.


Kebijakan itu juga mendapat apresiasi pemerintah. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya melalui Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari IB Putera Parthama yang menilai, komitmen kelompok APRIL untuk menghilangkan kegiatan deforestasi dari rantai pasoknya melalui kebijakan pengelolaan hutan secara lestari merupakan sisi cemerlang dari sistem pengelolaan hutan di Indonesia.


"Kebijakan kelompok APRIL tersebut sejalan dengan target pemerintah untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari. Terpenting lagi semuanya dilakukan dengan bekerja sama secara mutualistik dan bersinergi," sambung rilis RISI. (adv)