MENYEBUT nama Pare ingatan sebagian orang akan terkenang pada Kampung Inggris, sebuah perkampungan yang sebagian besar masyarakatnya membuka lembaga kursus bahasa Inggris di rumah-rumah mereka. Siapa pun yang datang ke kampung ini akan takjub melihat begitu banyaknya pelajar dari berbagai kota di Indonesia, dengan sukarela bermukim untuk mendalami ilmu bahasa asing itu.


Kini, kesemarakan Pare bertambah dengan adanya sebuah komunitas menulis nasional yang berpusat di Jalan Mayor Bismo, No. 28 Pare, Kediri, Jawa Timur, yaitu Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Walau tergolong masih berusia sangat muda, namun komunitas ini telah memiliki ribuan anggota dari Sabang hingga Papua dan beberapa negara.


Di kantor pusatnya yang sederhana, FAM Indonesia membuka taman bacaan masyarakat dengan sejumlah koleksi buku dan melatih anak-anak dan remaja menulis. Membaca buku dan menulis karangan, dua hal yang dewasa ini semakin berkurang dilakukan masyarakat, dan FAM Indonesia ikut bertanggung jawab menggairahkannya kembali.


“Taman bacaan masyarakat ini dibuka setiap hari, tetapi anak-anak biasanya datang dan membaca buku di hari Sabtu dan Minggu,” ujar Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia, salah seorang pendiri komunitas ini ketika berbincang-bincang di ruang tamu kantor FAM Indonesia.


Tak hanya diperkenankan membaca buku, anak-anak dan remaja juga dilatih menulis. Setiap Jumat sore, sejumlah siswi SMP dan SMA yang berdomisili tak jauh dari kantor FAM datang untuk mengikuti kelas menulis. Pembimbingnya Tim FAM Indonesia yang sukarela berbagi ilmu dan pengalaman menulis mereka.


''Alhamdulillah, di usianya menuju 2 tahun, FAM ingin lebih dekat lagi dengan masyarakat,” ujar Aliya yang baru meluncurkan buku cerpen terbarunya berjudul “Flamboyan Senja”.

Menderita Bell’s Palsy
 

Tak ada seorang pun yang mengharapkan datangnya musibah, termasuk bagi Aliya Nurlela. Siapa sangka, beberapa tahun terakhir ia menderita bell’s palsy, sebuah penyakit yang menyerang saraf wajah hingga menyebabkan kelumpuhan otot pada salah satu sisi wajah penderita. Wanita kelahiran Ciamis, 2 Juni 1975 ini pun shock, sempat kehilangan kepercayaan diri, dan hari-harinya berteman dengan sunyi dan kemurungan.


Dia menyebutkan, ketika diserang penyakit ini, tiba-tiba separuh wajahnya terjadi kelainan yang tidak normal. Tak ada tanda-tanda apa pun sebelumnya. Ia juga sehat-sehat saja secara fisik, bahkan ketika musibah itu menimpa ia sedang menjadi panitia sebuah seminar di Kota Nganjuk.

http://www.goriau.com/assets/imgbank/15042013/aliyanurle-84.jpg
''Di tengah acara saya dikagetkan dengan perubahan muka yang tiba-tiba disertai kepala sakit sebelah. Bagian muka kanan menjadi kaku dan sulit digerakkan. Ada rasa sakit di sekitar leher kanan seperti kram. Ketika saya melihat wajak di cermin, saya lebih kaget lagi. Mata yang awalnya bulat, di bagian kanan tidak bulat lagi. Bibir pun sulit untuk tersenyum,'' ceritanya dengan tatapan mata menerawang.


Dia mengungkapkan lagi, separuh mukanya seakan lepas dari posisinya semula, hingga mengubah total tekstur wajahnya. Seakan tak percaya, ia hanya bisa terdiam dan pasrah pada takdir Tuhan.


''Waktu itu saya juga masih minim pengetahuan tentang penyakit bell’s palsy. Biasanya jika ada orang yang wajahnya tiba-tiba berubah atau mulutnya sulit bicara, akan langsung dikaitkan dengan penyakit stroke,” katanya.


Menderita sakit bell’s palsy itulah Aliya Nurlela menjadi tergerak mencari informasi tentang sakit tersebut. Beberapa dokter yang ia kenal ditanyai sedetail mungkin dengan penyakit itu. Dari pencarian di internet, ia menemukan beberapa pesohor dunia yang juga terkena bell’s palsy, seperti: Sylvester Stallone, John Travolta, Jean Chretien (Perdana Menteri Canada), John McCain (senator Arizona), Jim Ross (komentator World Wrestling Entertainment), Rick Savage (bassis grup metal Def Leppard), Ayrton Senna (pembalap), Tom Holland (sutradara), Andrew Llyod Webber (komposer), dan Pete Maravich (pebasket). Sebagian dari mereka ada yang sembuh dan ada juga yang tidak pernah sembuh (mengalami kecacatan) seperti yang terjadi pada Jean Chretien, Perdana Menteri Canada.


Seorang dokter ahli sempat menawarkan pada dirinya untuk melakukan bedah plastik seperti yang ditempuh beberapa selebritis dalam upaya mempercantik wajahnya. Dia dijelaskan tahap demi tahap dari operasi tersebut. Salah satunya harus mengambil urat lidah.


“Wah, saya meriding dibuatnya. Haruskah menempuh jalan ‘seekstrim’ itu untuk mengembalikan ‘kecantikan?’ Tampaknya saya memilih tidak dan melupakan menempuh jalan ini,” ujarnya.


Meskipun tak dapat dipungkiri, lanjutnya, di awal terkena sakit ini ia sempat tak ingin bertemu dengan banyak orang, menghindari kamera, juga cermin. Padahal kedua benda itu sebelumnya adalah benda yang sangat ia sukai. Sejak kecil, ia paling suka mematut di cermin, juga suka bergaya di depan kamera. Tetapi setelah kena bell’s palsy, ia selalu memakai penutup muka ketika berhadapan dengan orang lain. “Rasanya saya telah kehilangan rasa percaya diri,” tambahnya.


Tetapi setelah lebih jauh ia renungi keadaan dirinya, ia pun semakin sabar dan tegar, dan menganggap musibah ini adalah teguran dari Tuhan agar dirinya membuka mata, tidak terlena dan menjauhkan dari berbagai musibah yang mungkin saja akan menimpa di kemudian hari. Ia juga seakan diajak menyaksikan orang-orang yang ditimpa musibah lebih berat. Ada yang karena tertabrak sepeda motor, seorang gadis yang dirawat bersamanya di rumah sakit harus mengalami kerusakan muka dan matanya. Ada juga seorang teman muslimah yang mengalami kecelakaan parah hingga mukanya rusak total. Ia harus mengalami beberapa kali operasi. Beberapa bagian mukanya disangga oleh besi kecil. Sangat mengenaskan. Bukan hanya mengubah bentuk muka tetapi juga munculnya keluhan sakit yang tiada henti.


“Saya berulang kali mengusap muka dan menasehati diri sendiri, dan tidak ada obat penawar lain yang lebih ampuh dari syukur dan sabar,” katanya lagi.


Didukung Orang-Orang Terdekat
 

Aliya Nurlela bersyukur, walau menderita penyakit bell’s palsy, bahkan pernah diserang tumor ganas di perutnya yang membuatnya terbaring di kamar rumah sakit berminggu-minggu lamanya, ia masih memiliki orang-orang terdekat yang memberinya semangat hidup. Sang suami, mertua, dan dua orang anaknya, begitu setia menemani hari-harinya, untuk kembali bangkit dari keterpurukan sakit.


Atas suntikan semangat itu, ia mulai membangun kembali tekad untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat tanpa fokus lagi pada sakitnya. Bersama Muhammad Subhan, seorang penulis muda dari Sumatera Barat, ia pun membangun wadah kepenulisan yang diberi nama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan memulai aktivitasnya pertama kali di jejaring sosial pada tanggal 2 Maret 2012, tahun lalu. Tak disangka, kelahiran FAM Indonesia mendapat sambutan luar biasa bagi banyak kalangan terutama pelajar dan mahasiswa yang ingin bergabung di wadah ini. Dengan pengelolaan manajemen yang baik, akhirnya FAM memberanikan diri membentuk cabang-cabangnya di berbagai daerah, untuk bersama-sama menggelorakan semangat cinta membaca buku dan menulis karangan.


“Sebab, dengan dua hal ini, membaca buku dan menulis karangan, bangsa-bangsa di dunia membangun peradabannya, mereka maju dan unggul di segala bidang,” ujar Aliya Nurlela yang saat ini ia telah menerbitkan beberapa buku, diantaranya 100 persen Insya Allah Sembuh (terinspirasi dari beberapa penyakit berat yang dideritanya), Fesbuk (kumpulan cerpen) dan Flamboyan Senja (kumpulan cerpen).


Dia mengaku, sejak kecil telah menyukai membaca buku. Kebiasaan membaca itu tidak terbatas pada buku tertentu saja. Jika ada bacaan baru, selalu tergerak untuk membacanya. Terkadang sobekan koran bekas bungkus makanan pun saya baca dengan serius.


''Saya punya kebiasaan membaca sebelum tidur sambil berbaring di tempat tidur. Jadi saya tertidur dalam kondisi masih memegang buku. Buku berserakan di tempat tidur itu sudah menjadi ciri khas saya,” katanya sembari tersenyum.


Pemilik motto hidup “berkaryalah sebelum Anda kehilangan semuanya” ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya bertekad membesarkan wadah FAM Indonesia, sebagai komunitas penulis yang turut andil mencerdaskan anak bangsa lewat kata-kata. Dia bercita-cita, FAM ingin masuk lebih luas ke sekolah-sekolah, panti asuhan, lembaga pemasyarakatan untuk melatih narapidana menulis dan memberikan terapi menulis, serta memasyarakatkan cinta menulis dan membaca buku di kalangan generasi muda.


“Masih banyak di antara generasi kita, terutama di pedesaan, mereka membutuhkan bahan bacaan dan wadah untuk menyalurkan bakat menulis mereka, dan ini harus kita perhatikan,” paparnya.


Penyuka warna ungu ini berharap, suatu saat impiannya itu terwujud dan berpesan kepada seluruh FAMili - sebutan akrab untuk anggota FAM Indonesia - dimana pun berada, untuk bersama-sama mendukung program FAM Indonesia mencerdaskan anak bangsa lewat membaca dan menulis.


“Sekecil apa pun yang kita lakukan, insya Allah itu akan memberi manfaat kepada banyak orang,” tutupnya. (rls)