TINGGAL beberapa hari lagi, helat Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Tahun 2012 di Bumi Melayu Lancang Kuning segera berakhir. Keraguan sejumlah pihak, yang sempat diekspos beberapa media nasional tentang kesiapan Riau sebagai tuan rumah, sama sekali tidak terbukti. Meski tidak sempurna seratus persen, namun sejauh ini, Riau mampu menjadi tuan rumah yang baik.


Pernyataan Gubernur Riau HM Rusli Zainal dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam pidatonya saat opening ceremony, bahwa tidak akan gagal PON di Bumi Melayu, bukanlah sekedar isapan jempol atau pemanis bibir belaka. RZ, sapaan akrab Gubernur Riau yang flamboyan itu, bersama seluruh panitia PON dan pihak-pihak terkait, bahu-membahu siang dan malam bekerja keras menyukseskan PON XVIII.


Kini, ketika pesta olahraga terakbar di tanah air itu hampir usai, yang menjadi pertanyaan mendasar selanjutnya adalah, apakah catur sukses (sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, sukses pemberdayaan ekonomi rakyat dan sukses promosi daerah), sebagaimana sejak awal diusung RZ dan seluruh jajaran panitia PON sudah tercapai?


Sejauh ini, memang belum ada keterangan resmi disampaikan RZ atau panitia PON menyangkut hal tersebut. Namun barangkali, kita bisa mengukurnya dengan menggunakan logika sederhana.


Pertama, sukses penyelenggaraan. Opening ceremony biasanya menjadi variabel utama untuk menentukan sukses tidaknya penyelenggaraan sebuah event olahraga. Dengan dihadiri dan dibuka langsung oleh Presiden SBY, dimeriahkan berbagai atraksi seni budaya Melayu dan pesta kembang api yang spektakuler, semakin meriah dengan tampilnya beberapa artis ibukota yang disiarkan secara langsung oleh dua teve nasional (RCTI dan TVRI) dan satu teve lokal (RTv) dari Stadion Utama Riau yang bertaraf internasional, semua sepakat bahwa acara opening ceremony sungguhlah meriah. Hal ini juga diakui oleh hampir seluruh media baik cetak maupun elektronik.


Bila kita sepakat menyatakan bahwa opening ceremony berlangsung dengan sukses, maka variabel terpenting lainnya yang bisa kita lihat adalah, dari 39 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan, sejauh ini semuanya dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan. Tidak ada satu caborpun yang gagal dipertandingkan. Meski sebelumnya ada kekhawatiran dua cabor, yakni menembak dan futsal tidak bisa dipertandingkan karena kondisi venue yang tak kunjung selesai. Namun terbukti, walau dengan kondisi venue yang minimalis tapi fungsional, kedua cabor tersebut dapat dipertandingkan dengan baik. Kini, kita tinggal menunggu acara closing ceremony yang dijadwalkan akan dihadiri dan ditutup secara resmi oleh Wakil Presiden Boediono. Bila ini juga berlangsung sukses, maka lengkaplah kesuksesan penyelenggaraan PON XVIII 2012 di Bumi Melayu Lancang Kuning.


Kedua, sukses prestasi. Terkait hal ini, RZ dalam beberapa kesempatan memang menyebut bahwa Riau sebagai tuan rumah punya mimpi besar menjadi juara umum. Mimpi tentu boleh-boleh saja. Namun kalau hari ini (mudah-mudahan perolehan medali kontingen Riau terus bertambah) Riau hanya berhasil masuk lima besar dalam perolehan medali, sesungguhnya ini sudah sebuah prestasi. Mari kita bandingkan prestasi Riau dari PON-PON sebelumnya.


Ketika PON XV berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, Riau hanya duduk di peringkat ke-18. Lalu pada PON XVI di Palembang, Sumatera Selatan, Riau duduk di urutan ke-11. Ketika PON XVII di Kalimantan Timur, Riau berhasil masuk 10 besar. Tentu saja suatu lompatan yang cukup lumayan, bila pada PON XVIII ini, kontingen Riau berhasil masuk di jajaran lima besar.


Ketiga, sukses pemberdayaan ekonomi rakyat. Sampai hari ini, memang belum ada satu institusi pun yang mengkaji dan menghitung secara mendalam dan mendetil sejauh mana masyarakat Riau berhasil meraup keuntungan ekonomis dari penyelenggaraan PON XVIII ini. Namun secara kasat mata, dengan kehadiran puluhan ribu orang dari seluruh provinsi di tanah air ke Riau, dimana mereka pasti membutuhkan makanan, tempat tinggal/penginapan, alat transportasi, dan bahkan mungkin ada yang mencari kesenangan dengan melakukan rekreasi ke beberapa tempat wisata, termasuk pastinya memburu makanan atau cenderamata khas Riau, miliaran rupiah kini pasti mengalir dan berputar di tengah masyarakat Riau.


Sebagai contoh untuk di Kota Pekanbaru saja, saat ini sangatlah sulit mencari satu kamar yang kosong di hotel-hotel baik hotel berbintang maupun yang kelas melati. Bahkan beberapa kontingen terpaksa menyewa rumah penduduk untuk penginapan. Pengusaha rumah makan, tour & travel, supir taksi hingga petugas porter di Bandara Sultan Syarif Kasim, pasti menangguk penghasilan yang lebih selama pesta PON XVIII berlangsung. Seorang pengusaha baliho/banner yang biasa menjadi rekanan Biro Humas Pemprov Riau bahkan mengaku sampai harus menolak order saking banyaknya pekerjaan. Seorang saudara dari Kuantan Singingi beberapa hari lalu sempat bercerita kepada penulis, dimana rumahnya yang kebetulan berada tidak jauh dari arena dayung Kebun Nopi, disewa dengan harga puluhan juta oleh kontingen dari Kalimantan Selatan. Sungguh PON XVIII ini membawa berkah bagi kami, katanya dengan nada gembira. Multiplayer effects ini tentunya juga pasti dirasakan oleh sebagian masyarakat di Inhil, Inhu, Kuansing, Kampar, Dumai, Bengkalis, Siak, Rohul dan Pelalawan yang juga menjadi tempat digelarnya pesta PON XVIII.


Keempat, sukses promosi daerah. Berkat PON XVIII ini, kini semua media baik cetak maupun elektronik di seluruh penjuru negeri, menjelang pelaksanaan PON XVIII dan sampai hari ini, tidak putus-putus memberitakan tentang Riau. Apalagi, Riau juga sudah resmi ditetapkan sebagai tuan rumah Islamic Solidarity Games (ISG) III pada Juni 2013 mendatang. Kini, Riau pun tidak hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia, tapi juga oleh dunia, karena ada 57 negara yang akan ikut ambil bagian pada ISG III mendatang. Tidak ada yang bisa memungkiri, kini nama Riau sudah mendunia. Dengan sendirinya, orang juga akan mencari tahu, apa saja potensi yang ada di tanah Melayu, dan pada gilirannya nanti, pasti akan semakin banyak investor yang masuk ke Provinsi Riau, sehingga perekonomian Riau semakin bertumbuh dan berkembang.


Bila kita sepakat dengan logika sederhana di atas, maka sepantasnyalah tidak ada lagi suara-suara sumbang tentang pelaksanaan PON XVIII ini. Pernyataan-pernyataan miris, seperti menyebut penyelenggaraan PON XVIII ini hanyalah pesta para pejabat, atau hanya buang-buang uang belaka, sungguh tidaklah patut diucapkan. Untuk menyukseskan PON XVIII ini, Riau memang merogoh kocek hingga triliunan rupiah. Namun hasilnya jelas dipandang mata. Ada 54 venues olahraga yang dibangun bertaraf internasional dengan tidak meninggalkan nuansa Melayu.


Wisma atlet dan enam rusunawa yang berada di sekitar kampus di Pekanbaru. Bandar udara berkelas internasional, jalan-jalan, jembatan hingga fly over yang berukiran khas Melayu (satu-satunya fly over yang ada ukirannya di Indonesia) tuntas dibangun.


Yang paling spektakuler adalah Stadion Utama Riau yang memakan biaya hingga Rp1,2 triliun. Meski kapasitasnya kalah oleh Stadion Utama GBK di Jakarta, karena hanya berkapasitas sekitar 43 ribu penonton, namun secara kualitas, hampir semua sepakat bahwa Stadion Utama Riau kini menjadi yang terbaik dan termegah di Indonesia. Semua itu adalah asset jangka panjang, yang akan diwariskan oleh Pemerintahan Gubernur Riau HM Rusli Zainal kepada seluruh masyarakat Riau.


Hari ini mungkin belum seluruh masyarakat Riau dapat merasakan manfaat dari semua asset di atas. Namun sekian tahun ke depan, bila asset-asset tersebut terus dirawat dan difungsikan dengan baik, maka semua itu akan menjadi kebanggaan masyarakat Riau. Sama seperti saat Presiden Soekarno dulu membangun Monas dan beberapa proyek mercusuar di Jakarta. Ketika itu kritik dan fitnah datang silih berganti. Tapi kini, Monas menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa.


Sejak menjabat sebagai Gubernur, RZ memang sudah membangun begitu banyak infrastruktur di Riau, karena ia yakin, hanya dengan membangun infrastruktur, Provinsi Riau dapat memacu pembangunan. Jalan dan jembatan dibangun untuk memutus isoloasi. Hampir semua wilayah di Riau kini sudah bisa dilalui kendaraan roda empat. Gedung-gedung pencakar langit juga tidak lupa dibangun. Ada Kantor Gubernur sembilan lantai, Gedung Pustaka Soeman HS dan Menara Bank Riau-Kepri yang kini menjadi icon Provinsi Riau.


Namun barangkali, proyek untuk PON XVIII ini adalah yang paling spektakuler. Mendagri Gamawan Fauzi saja kepada pers menjelang pembukaan PON XVIII menyatakan bahwa tidaklah mudah menyiapkan hingga 54 venues hanya dalam beberapa tahun saja. ''Saya saja belum tentu mampu,'' akunya berterus-terang.


Sayangnya, masa jabatan RZ sebagai gubernur tidak lebih dari setahun lagi. Seandainya RZ berkesempatan menjadi Gubernur Riau satu periode lagi, penulis yakin ia akan membangun proyek yang lebih spektakuler lagi, yakni jembatan Selat Melaka yang sudah berkali-kali disampaikannya kepada Presiden SBY dan dibahas bersama Perdana Menteri Malaysia.


Bahkan kabarnya, sudah ada investor yang siap menggelontorkan uangnya. Spektakuler bukan hanya karena fungsinya yang akan menghubungkan dua negara. Lebih dari itu, proyek ini akan menghabiskan dana hingga ratusan triliun rupiah. Itulah RZ, gubernur yang akan dikenang oleh sejarah, sebagai gubernur yang paling spektakuler di Provinsi Riau Bumi Melayu Lancang Kuning.

* Penulis: Mantan Wartawan Riau Pos, Kini Kepala Sub Hubungan Pusat dan Daerah Badan Penghubung Provinsi Riau dan Anggota Tim Counter Media PB PON Riau.