JAKARTA, GORIAU.COM - N, istri pejabat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) S, yang tahu suaminya gemar melakukan pesta seks terus memperjuangkan haknya. Jumat (28/3/2014), N melapor ke Komnas Perempuan.

Ibu dua anak itu datang ke kantor Komnas Perempuan mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Ia nampak tegar meskipun luka di hatinya tentu tak sederhana jika dijabarkan.

Ibu dua anak itu datang ditemani kuasa hukumnya, Rusdianto. Ia terlihat membawa sejumlah berkas sebagai barang bukti perbuatan bejat suaminya.

"Ini kan diskriminasi terhadap wanita. Dia tidak ditempatkan sejajar dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari ditekan oleh suaminya sendiri," ujar kuasa hukumnya, Rusdianto di Komnas Perempuan, Jl Latuharhary, Jakarta Pusat, Jumat (28/3/2014).

Menurut Rusdianto, N minta bantuan kepada Komnas Perempuan agar pengaduan dia sebelumnya ke Dirjen Perhubungan dapat didengar.

"Haknya dikembalikan lagi, diberi kesempatan untuk mengambil jalannya sendiri. Agar pengaduannya ke Dirjen didengar. Meskipun pada ujungnya untuk pengabulan di Pengadilan Agama," jelas Rusdianto. Saat ini keduanya masih berada di Komnas Perempuan untuk menyampaikan laporan.

N sebelumnya telah melaporkan perbuatan suaminya ke atasannya pada awal Maret 2014 lalu. Namun hingga kini belum ada titik terang, padahal pengaduan itu bukanlah yang pertama. Pengaduan pertama dilakukan pada 9 Desember 2013, lalu surat konfirmasi 29 Desember 2013 dan ketiga 21 Januari 2014.

Foto Pesta Seks
S dan N sudah menikah selama 10 tahun dan mereka dikaruniai dua orang anak. Awalnya kehidupan kelurga tersebut sangat harmonis, tetapi beberapa tahun belakangan ini keharmonisan itu diterpa angin ribut.

Adalah foto pesta seks sang suami bersama wanita lain yang membuat keharmonisan mereka hancur. Tak lama setelah mengetahui sifat buruk suaminya, N pun langsung melakukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama (PA) Tigaraksa, Tangerang.

"Gugatan cerai itu dilakukan karena istri merasa sakit hati dengan perbuatan suami. Bayangkan saja kalau Anda di posisi dia," ujar kuasa hukum N, Rusdianto saat dikonfirmasi detikcom, Kamis (13/3/2014).

Rusdianto juga bercerita, gugatan cerai sang istri pun bukan karena masalah materi ataupun harta. Namun, gugatan itu dilakukan demi martabat sang istri yang tidak rela diinjak-injak oleh sang suami.

"Selain itu dari aspek kesehatan, coba Anda pikirkan suami yang ganti-ganti pasangan. Bagaimana aspek kesehatannya. Bagaimana sisi penyakitnya? Apa mau tertular?" tuturnya.

Tetapi realita di pengadilan tidak mendukung N untuk bercerai. Pengadilan Agama (PA) Tigaraksa, Tangerang, menolak gugatan cerai meski pihaknya sudah memberikan barang bukti berupa foto pesta seks yang dilakukan oleh suami.

Menanggapi putusan sang hakim, N mengaku kecewa. Dia mengatakan putusan hakim yang menyatakan foto tersebut tidak terdapat unsur-unsur perbuatan zina adalah hal keliru.

"Ini yang kita pertanyakan, padahal unsur perdata sudah dipenuhi," keluh Rusdianto menirukan ungkapan kekecewaan N.

Masih Diperiksa Atasan
Meski ada bukti foto pesta seks, PNS Kemenhub S, masih diperiksa atasannya. Apakah S akan dipecat atau dikenai sanksi hukuman dispilin lainnnya.

"Sampai saat ini masih kita periksa. Itu Irjen yang tahu, saya terus terang kurang mengikuti," kata Wamenhub Bambang Susantono kepada wartawan di Teluk Bayur, Sumatera Barat, Rabu (19/3/2014).

Kasus bermula saat S menikahi N pada 10 September 1994 silam. Dari pernikahan itu lalu keduanya dikaruniai dua anak YM (16) dan RR (12). Rumah tangga yang awalnya harmonis tiba-tiba dilanda badai yang cukup serius. Si suami yang bekerja sebagai PNS di Kementerian Perhubungan (Kemenhub), S, ternyata suka jajan.

N lalu menggugat cerai dengan bukti pesta seks si suami tapi ditolak pengadilan. Lantas N pun melaporkan S ke atasannya. Hingga saat ini belum diperolah kesimpulan apa yang akan dijatuhkan Kemenhub terhadap S.

"Belum karena kita harus lihat dulu berkas perkaranya. Baru setelah itu ditentukan dia melanggar pasal apa dan hukumannya apa," ujar Bambang.

"Jadi sampai sekarang belum ditentukan hukumannya?" tanya wartawan mempertegas. "Belum, kita tunggu dulu nanti," jawab Bambang.***