PEKANBARU, GORIAU.COM - Kalangan awam, atau bagi mereka para pecandu pemula, mungkin hanya mengenai narkotika dalam wujud pil seperti ekstasi, atau serbuk sabu-sabu dan heroin (putau). Namun ternyata, tidak cuma itu, ada sebanyak 251 zat yang diindikasi kuat berdampat sama bahaya dengan narkotika.


Untuk itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) terus mewaspadai potensi adanya penyeludupan sebayak 251 zat narkotika baru itu. Saat ini, dikabarkan ratusan zat dengan ragam wujud itu telah beredar di berbagai negara asing.


"Saat ini sebagian telah mulai masuk ke Indonesia meski hanya kalangan tertentu saja yang pakai. Namun kondisinya memiliki tren yang buruk, yakni terus bertambah jumlahnya," kata Kepala Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Besar Sumirat Dwiyanto ketika berkunjung di taman pancing milik Bupati Kampar, Riau, Jefry Noer di Kampar, Senin (30/9/2013).


Ia menjelaskan, saat ini pihaknya mendeteksi ada sekitar 21 zat baru narkotika hasil penyeludupan dari negara asing telah beredar di sejumlah daerah di tanah air. Wujudnya menurut dia berbeda dari biasanya seperti ekstasi, heroin atau sabu-sabu, atau lebih cenderung seperti pil obat ginerik yang biasa ditemukan di apotek-apotek.


Untuk diketahui, kata dia, bahwa jenis zat narkotika yang dimaksud memiliki modifikasi tersendiri dan berbeda-beda wujud hingga di beberapa negara sudah dijual bebas, bahkan diproduksi secara legal. "Tapi harus diketahui, bahwa wujud zat tersebut tidak kalah berbahayanya dibandingkan ekstasi atau sabu-sabu dan heroin," katanya.


Sesuai dengan pengumuman Badan Narkotika PBB (UNODC) baru-baru ini, demikian Sumirat, ada sebanyak 251 zat baru yang diduga juga narkotika. "Kami juga telah melakukan penelitian, hasilnya positif untuk beberapa dan selebihnya masih akan diteliti lebih serius lagi," katanya.


Dikesempatan sama, Kepala BNN Komjen Pol Anang Iskandar menjelaskan, sejauh ini masih banyak pihak belum mengetahui jenis-jenis zat narkotika terbaru itu, sehingga butuh disosialisasikan secara rutin.


Jangan sampai, kata dia, zat-zat berbahaya itu justru dimanfaatkan oleh para mafia pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang untuk menjerumuskan lebih banyak lagi korban masyarakat.


"Untuk itu, perlu kiranya BNN mengusulkan agar 21 zat berbahaya tersebut ke dalam undang undang yang selama ini memang tidak tercantum. Kondisi demikian yang kemudian menyulitkan BNN untuk menindak pengedarnya," kata dia.(fzr)

Punya info menarik di sekitar anda atau ingin berbagi berita silahkan sms ke 081365093962 atau via email: goriau2012@gmail.com (lengkapi data diri atau instansi untuk berita warga dan rilis)