PEKANBARU - Asian Agri, salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka di Indonesia, menggelar halal bihalal bersama insan pers di Riau, Selasa (7/5/2023). Kegiatan untuk mengeratkan silaturahmi itu berlangsung di Swiss-Bellinn SKA Pekanbaru.

Regional Head Riau Asian Agri, Pengarapen Gurusinga, dalam sambutannya mengatakan,media massa memiliki peran penting untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi industri kelapa sawit.

GoRiau Ketua KUD Bhakti Mandiri, Sukr
Ketua KUD Bhakti Mandiri, Sukron. (Ist)

“Oleh karena itu, Asian Agri berkomitmen memberikan informasi yang akurat kepada media massa dan menyelenggarakan diskusi untuk meningkatkan pemahaman tentang industri kelapa sawit," ucapnya.

Pengarapen juga menjelaskan, bahwa selain filosofi 5C, yaitu Community, Country, Climate, Costumer, dan Company, Asian Agri juga berkomitmen membangun usaha berkelanjutan serta visi Asian Agri 2030 yang berfokus pada empat pilar strategis.

GoRiau Radius, petani swadaya Asian A
Radius, petani swadaya Asian Agri dari Desa Sotol, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau. (Ist)

”Keempat pilar tersebut adalah (I) kemitraan dengan petani, (II) pertumbuhan inklusif, (III) iklim positif, dan (IV) produksi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, maka pada kesempatan kali ini, kami ingin memaparkan bagaimana Asian Agri mendukung industri kelapa sawit melalui pengembangan bibit kelapa sawit unggul, Topaz, yang sudah teruji dan terbukti, karena merupakan hasil dari riset dan pengembangan puluhan tahun,” ujarnya.

Sementara Head of Plant Breeding Asian Agri, Yopy Dedywiryanto menjenjelaskan bahwa Topaz merupakan bibit sawit unggul yang sudah teruji dan terbukti dapat meningkatkan produktivitas tandan buah Slsegar (TBS) dan juga tahan terhadap penyakit Ganoderma.

"Sejak tahun 1992, Asian Agri telah menyeleksi dan juga terus menyilangkan indukan Dura dan Pisifera terpilih dari Costa Rica (gen-1). Pada tahun 1996-1998, fasilitas Oil Palm Research Station (OPRS) Asian Agri memulai penanaman indukan Dura dan Pisifera terpilih di kebun benih Topaz, diikuti dengan uji persilangan generasi satu DxPnya. Oleh karena itu, bibit Topaz ini telah melewati hasil penelitian intensif selama puluhan tahun di fasilitas kami," jelasnya.

Prestasi ini mengantarkan OPRS Topaz memperoleh izin pelepasan Varietas Topaz 1, 2, 3, dan 4 pada 16 Januari 2004, sesuai Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia.

“Komitmen Asian Agri untuk memberikan yang terbaik bagi pelanggan terus berlanjut. Dengan pengujian persilangan generasi dua yang intensif, saat ini Topaz hanya memproduksi persilangan-persilangan yang teruji dan terbukti memiliki potensi produksi 24 ton TBS/Ha pada TM (Tanaman Menghasilkan)1 dan rata-rata 38 Ton TBS/Ha pada TM3 sampai dengan TM6 dengan potensi OER (Oil Extraction Rate) 29%,” ucap Yopy Dedywiryanto.

“Topaz adalah bibit sawit yang sudah teruji dan terbukti. Oleh karena itu, bibit ini sudah seyogyanya menjadi andalan para petani kelapa sawit. Bibit unggul Topaz ini tidak hanya unggul dalam hal kuantitas produksi, tetapi juga tahan terhadap penyakit Ganoderma. Ketahanan ini telah dibuktikan dengan diperolehnya izin pelepasan Varietas Topaz GT oleh OPRS Topaz pada tanggal 1 Februari 2019 sesuai Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia," tuturnya.

Yopy juga menjelaskan bahwa tidak ada perbedaan baik produksi TBS ataupun kandungan minyak antara buah hijau (Virescens) dan buah hitam (Nigrescens). Perbedaan kandungan minyak akan terjadi jika kriteria panen buah hijau hanya berdasarkan perubahan warna dan bukan berdasarkan jumlah brondolan jatuh di piringan.

Mewakili Insan Pers Riau, Ketua PWI Riau Raja Isyam dalam sambutannya juga mengapresiasi Asian Agri yang secara aktif membina petani kelapa sawit.

"Sebagai salah seorang petani penanam Topaz, saya juga turut merasakan manfaat dari bibit unggul Topaz. Harapannya kepedulian Asian Agri juga bisa berdampak berkelanjutan dan juga dapat dirasakan terus oleh petani dan kawan-kawan media,“ ujar Raja Isyam.

Pada kesempatan yang sama, dua perwakilan petani kelapa sawit di bawah naungan Asian Agri turut memberikan testimoni tersendiri terkait performa bibit unggul Topaz.

Keduanya adalah Ketua KUD Bhakti Mandiri, Sukron yang berlokasi di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Kerinci Kanan, Siak, Riau, dan Radius, petani swadaya Asian Agri dari Desa Sotol, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Sukron menjelaskan bahwa dia sebelumnya belajar cara berkebun kelapa sawit dari orang tuanya yang ikut Perkebunan Inti Rakyat (PIR-trans) dari pemerintah di tahun 1980-an.

"Di situlah saya mengetahui bahwa perkebunan kelapa sawit dapat merubah perekonomian keluarga kami menjadi lebih baik. Oleh karena itulah saya dapat menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Informatika di Malikulsaleh di Aceh," ungkapnya.

Kemudian, ia menceritakan bagaimana usaha yang Ia lakukan setelah menyelesaikan pendidikan di Aceh.

“Saya kembali ke desa saya dan menjadi petani kelapa sawit, dan saat ini saya menjadi Ketua KUD Bakti Mandiri. Sebelumnya, saya melihat KUD di Desa Bukit Harapan memiliki potensi berkembang lebih, salah satunya dengan program replanting. Untuk itu saya bermitra dengan Asian Agri untuk replanting. Tahap pertama replanting yang kami ikuti untuk kebun kami seluas 386 hektar. Kemudian, untuk tahap kedua, rencananya 200 hektar. Dan salah satu kebun yang sudah replanting, saya menggunakan bibit Topaz," ucapnya.

Ia juga menjelaskan, bahwa melalui program kemitraan dengan Asian Agri memudahkannya dan anggotanya mendapatkan akses bibit unggul Topaz.

"Saat ini kami telah menanam bibit Topaz dan saya sangat puas, pada saat ini usia tanaman sudah berumur 43 bulan setelah tanam. Dari hasil panen usia 30 bulan, kami sudah mendapatkan produksi rata-rata 1,6 ton/hektar/ bulan. Dari hasil ini, kami gunakan untuk membantu pembiayaan pembangunan kebun kelapa sawit untuk program replanting, sehingga kami dapat mengurangi beban pinjaman ke bank," katanya.

Sementara Radius, salah satu petani swadaya mitra Asian Agri mengaku menggunakan Topaz sejak 2012.

“Saya sudah menggunakan bibit Topaz sejak tahun 2012, dimana dulu saya bertemu dengan salah satu tim Asian Agri yang mengenalkan bibit tersebut. Pada saat itu, saya langsung membeli bibit Topaz. Sejak saya menanam bibit Topaz, saya selalu mendapat pendampingan dari perusahaan agar hasil panen saya dapat mencapai potensi maksimal. Saat ini kebun saya sudah berbuah dengan bagus dan saya puas, karena dari umur 4 tahun saya sudah mendapatkan hasil sebanyak 2,5 ton/ hektar/bulan," ujarnya.

"Saat ini, tanaman di atas umur 6 tahun dapat berproduksi 3 hingga 3,5 ton/ hektar/ bulan," sambungnya.***rls